Connect with us
Update Now

Lensa

Umar bin Khattab: Jadi Pemimpin Itu Ujian Sangat Berat, Karena Ikut Memikul Beban Umat

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 127,483 kali

Lensa – Saat ini, sangat banyak orang yang berambisi jadi pemimpin, mulai dari Presiden hingga Kepala Daerah, namun setelah menjabat sangat banyak yang lupa dengan janji saat kampanye. Bahkan kini sudah 128 kepala daerah yang terkena OTT Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),gara-gara melanggar sumpah jabatan, yakni melakukan tindak pidana korupsi. Beratnya jadi pemimpin tergambar saat Umar Bin Khattab jadi Khalifah, setelah Abu Bakar Ash Shidiq wafat pada 21 Jumadil Akhir tahun ke-13 hijrah atau 22 Agustus 634 Masehi, Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah ke-2. Di hari ketiga pengangkatan, Umar menyampaikan pidato pertamanya. Dalam pidatonya, tergambar bagaimana takutnya memikul beban tanggung jawab sebagai seorang pemimpin ketika itu. Dan bukan saat itu saja Umar merasa hal itu disampaikan Umar. Sesaat setelah Abu Bakar dimakamkan, Umar sudah merasakan ketakutan itu. “Wahai Khalifatullah! Sepeninggalmu, sungguh ini suatu beban yang sangat berat yang harus kami pikul. Sungguh engkau tak tertandingi, bagaimana pula hendak menyusulmu,” kata Umar sesaat setelah Abu Bakar Asd Siddiq dimakamkan. Terpilihnya Umar bin Khattab sebagai khalifah ke-2 berdasarkan keputusan Abu Bakar. Sebelum meninggal Abu Bakar menunjuk Umar sebagai gantinya. Keputusan tersebut bahkan telah tertulis dalam wasiat yang ditulis oleh Utsman bin Affan. Berikut ini isi pidato Umar bin Khattab ketika diangkat menjadi khalifah seperti dikutip dari buku, Biografi Umar bin Khattab karya Muhammad Husain Haekal. Ada tiga poin dalam pidato Umar.

1. Keras tapi Lembut
Saat Umar terpilih menjadi pengganti khalifah setelah Abu Bakar, sebagian besar masyarakat Mekah rupanya khawatir akan dipimpin oleh seseorang yang sudah terkenal dengan sikap kerasnya. Oleh karena itu, pidato pertama Umar bin Khattab disampaikan guna menanggapi keresahan masyarakat Mekah. “Ketahuilah saudara-saudaraku, bahwa sikap keras itu sekarang sudah mencair. Sikap itu (keras) hanya terhadap orang yang berlaku zalim dan memusuhi kaum Muslimin,” kata Umar. “Tetapi buat orang yang jujur, orang yang berpegang teguh pada agama dan berlaku adil saya lebih lembut dari mereka semua,” Umar melanjutkan. Umar pun berdoa agar Allah melunakkan hati dan memberikan kekuatan di saat hatinya sedang lemah. “Ya Allah, saya ini sungguh keras, kasar, maka lunakkanlah hatiku! Ya Allah, saya sangat lemah, maka berilah saya kekuatan! Ya Allah, saya ini kikir, jadikanlah saya orang dermawan!”

2. Jabatan adalah Ujian dari Allah SWT

Pidato Umar bin Khattab mengingatkan seorang pemimpin untuk tetap memiliki sikap rendah hati dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Ia sendiri bahkan menganggap bahwa jabatan ialah ujian. “Allah telah menguji kalian dengan saya, dan menguji saya dengan kalian. Sepeninggal sahabatku (Abu Bakar Ash Shiddiq), sekarang saya yang berada di tengah-tengah kalian. Tak ada persoalan kalian yang harus saya hadapi lalu diwakilkan kepada orang lain selain saya, dan tak ada yang tak hadir di sini lalu meninggalkan perbuatan terpuji dan amanat. Kalau mereka berbuat baik akan saya balas dengan kebaikan, tetapi kalau melakukan kejahatan terimalah bencana yang akan saya timpakan kepada mereka.”

3. Saling Mendukung dan Mengingatkan antara Pemimpin Negara dengan masyarakat

Dalam pidatonya Umar meminta masyarakat Mekah tak ragu untuk menegurnya dalam beberapa hal kalau dia salah. Bahkan Umar meminta rakyat tak ragu menuntutnya jika rakyat tak terhindar dari bencana, pasukan terperangkap ke tangan musuh. “Bantulah saya dalam tugas saya menjalankan amar makruf naih munkar dan bekalilah saya dengan nasihat-nasihat saudara-saudara sehubungan dengan tugas yang dipercayakan Allah kepada saya demi kepentingan Saudara-saudara sekalian,” kata Umar menutup pidatonya. Setelah berpidato, Umar bin Khattab turun dari mimbar dan memimpin sholat.
Sumber: detik.com dan berbagai sumber

Siapa Sihhh yang PHP Tante Cantik yang juga Bupati MinSel, Hingga Pede Datang Ke Istana?

Politik – Partai Golkar memang berharap banyak agar kader-kadernya masuk cabinet Jokowi-Ma’ruf, namun ada yang aneh. Nama Bupati Minahasa Selatan (MinSel) yang tak pernah di sebut, malah secara mengejutkan muncul ke Istana pagi-pagi sekali. Pihak Istana Kepresidenan menyatakan Bupati Minahasa Selatan, Christiany Eugenia Paruntu alias Tetty tak dipanggil oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Tetty baru sebatas usulan dari Partai Golkar untuk menjadi menteri pada periode kedua Jokowi. “Tadi ada Ibu Tetty, usulan dari Partai Golkar, di dalam tadi beliau menunggu dulu Pak Airlangga. Setelah bertemu Pak Airlangga, beliau langsung meninggalkan Istana lewat samping. Jadi tidak sampai ketemu Presiden,” kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Bey Machmudin, di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (21/10). Bey memastikan Tetty tak sampai bertemu dengan Jokowi. Menurutnya, Tetty, juga buka calon menteri yang ditunjuk oleh Jokowi. Tetty, kata Bey, merupakan nama yang disodorkan oleh Golkar kepada Jokowi namun tidak sampai bertemu satu sama lain di Istana Negara. “Karena tidak bertemu dengan Presiden jadi bukan (calon menteri yang dipilih Jokowi),” tuturnya. Bey mengatakan bahwa sejumlah tokoh yang mendatangi Istana Negara memang calon menteri Kabinet Kerja Jilid II. Tokoh yang dimaksud diantaranya Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, CEO Gojek Nadiem Makarim, dan Pendiri media NET Mediatama Televisi, Wishnutama. Mantan Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019, Erick Thohir, serta mantan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto juga turut datang ke Istana. Mereka semua mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana panjang hitam. Mahfud dan Nadiem mengaku memang diminta Jokowi untuk menjadi menteri. Keduanya siap membantu di kabinet. Selain itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian juga terlihat mendatangi Istana. Dia ditemani Kadiv Humas Irjen M. Iqbal dan beberapa petinggi Polri lainnya. Tito tidak memakai kemeja putih lengan panjang seperti tokoh yang sebelumnya datang. Dia juga tidak mau menduga-duga soal kemungkinan dipercaya sebagai menteri di kabinet selanjutnya. “Saya tidak tahu, saya kira dipanggil soal masalah kamtibmas,” ujar Tito di Istana Negara, Jakarta, Senin (21/10). “Saya tadi disampaikan dipanggil presiden, saya pikir akan ditanya soal situasi kamtibmas pascapelantikan dan bagaimana pengamanan mengenai dalam rangka pengamanan mengenai kabinet. Prinsip Polri berusaha maksimal,” lanjutnya.
Sumber: CNNIndonesia.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 72 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

95 − 90 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 157
  • Page views today : 182
  • Total visitors : 532,164
  • Total page view: 1,116,018