Connect with us
Update Now

Lintas Kalsel

Tradisi Mangawah yang Bertahan, Makan Langsung dari ‘Kawah’ Rasanya Lebih Nikmat dari Restoran Bintang 4!

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 101,992 kali

Makan langsung di kawah, menurut Pemu BeBASbaru.com, MRD rasanya bisa lebih nikmat dari masakan restoran, apalagi saat lapar (dok, Istimewa-BeBASbaru.com)

BêBASbaru.com, RAGAM – Warga Kalsel memiliki berbagai kebiasaan yang unik dan tentu saja sudah umum di mata warganya sendiri, tapi bagi warga luar, salah satu tradisi ini, yakni mengawah (menanak nasi dalam wajan besar) merupakan pemandangan yang langka dan aneh. Mangawah merupakan istilah yang dipakai masyarakat Kalsel untuk proses menanak nasi dengan skala besar, namun dengan cara tradisional. Sebutan mangawah diambil dari nama wajan besar yang digunakan, dalam Bahasa Banjar wajan besar disebut kawah. Mangawah biasanya dilakukan ketika ada gelaran acara makan dengan porsi banyak di kampung-kampung. Seperti selamatan, tahlilan, resepsi perkawinan dan lainnya. Meski hanya dengan proses sederhana dan tradisional memasak nasi dengan mangawah terbilang efektif dengan untuk skala besar. Karena hanya memerlukan kayu bakar, tungku besar dan kawah. Terpenting adalah pengalaman dalam proses mangawah. Menurut Isam (55), warga Kelurahan Uku Benteng, Kecamatan Marabahn, Kabupaten Barito Kuala, yang sudah memiliki pengalaman puluhan tahun mangawah. Prosesnya memang terkesan mudah, namun tetap ada trik tertentu yang digunakan untuk menghasilkan tanakan nasi yang baik. Seperti masak yang merata, tidak banyak gosong, durasi yang lebih singkat dan kadar airnya sesuai, sehingga nasi tidak keras. “Pertama, air dipanaskan dengan suhu tertentu. Beras yang dimasukkan sedikit demi sedikit dengan cara ditabur. Ketika air mulai mengering baru ditutup, bisa dengan daun pisang, daun keladi, atau pelastik.” Terang Isam. Sabtu (15/08/2020). Ia pun menambahkan durasi menanak nasi dengan mangawah hanya sekitar satu jam, mulai dari memanaskan air hingga nasi bisa dihidangkan untuk disantap.”Selama proses menanak, tidak perlu diaduk. Nasi yang sudah masak akan tetap merata. Itulah manfaatnya saat memasukkan beras ditabur.” Pungkasnya. Hal lain yang menarik dari mangawah adalah sarat dengan rasa kegotongroyongan di kalangan masyarakat. Selain itu juga dapat lebih menghemat biaya dalam proses memasak dengan skala besar.

Tradisi mengawah masih sering ditemui di warga pedesaan di Kalsel, khususnya kalau ada hajatan perkawinan ataupun haulan keluarga yang wafat (dok, blogger)

 

Tabalong pun Masih Bertahan Tradisi Mengawah

Bukan hanya di Batola, daerah Hulu Sungai tepatnya di Tabalong pun tradisi mengawah masih tetap dipertahankan warganya. Kegiatan mengawah biasanya dilakukan pada saat ada hajatan lumayan besar, seperti tradisi pesta perkawinan maupun acara haulan yang mengundang puluhan hingga ratusan warga. bahkan keluarga besar Pemimpin Umum Tabloid BeBASbaru dan bebasbaru.com, H Masruddin mengungkapkan, setiap acara haulan di rumahnya dan juga keluarga lainnya, acara mengawah wajib dilakukan. “Saya sampai bisa mengawah karena sering ikut membantu keluarga plus sering adakan masak begini kalau ada hajatan. Padahal dulu mana ngerti, kelebihan nasi yang di kawah, selain lebih harum dan juga lebih gurih, makan langsung di kawah nikmatnya mengalahkan rasa makanan di restoran bintang 4,” ungkap pria yang akrab di sapa MRD ini sambil tertawa.

Sumber: Kanalkalimantan.com, bebasbaru.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 137 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 181
  • Page views today : 207
  • Total visitors : 528,382
  • Total page view: 1,111,800