Connect with us
Update Now

Lintas Kalsel

Tradisi ‘Bagagap Iwak’ di Sungai Warga Kecamatan Tanta, Sayang Kadang Ada yang beri Racun Berbahaya Jenis Potas

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 132,941 kali

Ilustrasi, Tradisi menangkap ikan di sungai oleh warga (dok, screnshots FB Alsajiz)

BêBASbaru.com, TABALONG – Setiap musim kemarau anak sungai Tabalong, yang masuk ke jalur Kecamatan Tanta, yang lebih di kenal dengan Sungai Mangkusip akan surut airnya. Akibatnya surutnya air tersebut, ada sebuah tradisi unik warga Desa Tanta Hulu, Tanta hingga Mangkusip, yakni berboondong-bondong ‘manggagap iwak’ atau menangkapi ikan yang berkeliaran di sungai tersebut. Tradisi ini ternyata sudah turun temurun berlangsung, menurut H Masruddin, Pemimpin Umum Tabloid BeBASbaru-bebasbaru.com, tradisi unik ini sudah ada sejak dia kecil. “Saya masih ingat, seumuran anak bungsu saya yang berumur 9 tahunan, almarhum kakek dan abah suka sekali masang jaring dan bikin sawar (sungai di tabat dengan kayu, lalu di beri rumput dan di sela-selanya di pasang lukah atau bubu) untuk menangkap ikan,” ungkap pria yang akrab di sapa MRD. Jaman dulu itu, lanjut MRD, ikan-ikan yang berhasil diperoleh sangat banyak, malah setiap pagi hasil yang di dapat sampai setengah ember, berupa ikan baung, puyau, saluang bahkan yang tak pernah ketinggalan adalah udang galah yang besar-besar. “Setiap hari saya sampai bosan makan udang galah yang besar, malah almarhum ibu dulu sampai bikin wadi ikan, saking banyaknya hasil yang diperoleh dari membuat sawar tersebut,” kata MRD.

Warga sedang ‘manangguk iwak di sungai’ (dok, screnshots FB Alsajiz)

Dimusim kemarau saat ini, airnya sudah sangat surut, warga biasanya bersepakat untuk terjun langsung ke sungai, dengan cara membuat air sungai keruh dulu dan ikan-ikan pun mabuk, kemudian beramai-ramai menangkapi dengan ‘tangguk’ atau menangkapi langsung dengan tangan. “Malah ada yang lihai sekali menangkap pakai tangan, dengan sebutan ‘manggagap iwak’ di dalam air. Keahlian ini tak semuanya dimiliki warga desa,” ucap MRD. Namun jaman kini, ungkap MRD, ada saja warga yang tak bertanggung jawab, yakni ingin memperoleh hasil yang banyak menggunakan cara-cara yang sangat tidak baik dan sangat berbahaya bagi kesehatan, yakni memberi racun jenis potas. “Selain ada yang suka menyetrum ikan, perbuatan memberi racun jenis potas juga dilakukan oknum warga. Padahal perbuatan itu sangat merugikan bagi kelangsungan sumber daya ikan di sungai. Sebab bukan hanya ikan besar yang mati, anak-anak ikan plus telor-telor ikan pun ikut mati dan membusuk. Imbasnya bagi manusia juga sangat berbahaya, karena bisa memicu kolestrol dan merusak pembuluh darah dan bisa berakibat fatal seperti penyakit stroke, kalau mengonsumsi ikan yang terkena racun potas tersebut,” terang MRD. Akik (55) salah satu warga RT 1 Tanta menambahkan, akibat di racun potas, banyak ikan-ikan yang langka di sungai. “Ikan baung, gabus, papuyu, puyau dan udang termasuk saluang dan lain-lain jadi langka di sungai Mangkusip, padahal kalau musim hujan mereka berkembang biak dan pas musim kemarau seperti ini akan sangat melimpah di sungai. Kini sudah tak seperti dulu lagi, keserakahan manusia membuat ikan di sungai tak bisa lagi berkembang biak seperti dulu,” ungkap pria yang hobby mengail ikan ini.

Sumber: bebasbaru.com

Berita ini sudah dilihat 74 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 82
  • Page views today : 88
  • Total visitors : 532,936
  • Total page view: 1,116,863