Connect with us
Update Now

Dunia

Thailand Diguncang Aksi Prodemokrasi II: Korona Merebak Sang Raja Malah Ngungsi ke LN Bersama Para Gundik

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 127,559 kali

Gaya Raja Tahiland yang penuh tato dan baju tak lazim bersama gundiknya saat di jemput aparat resmi negara, bikin rakyatnya geleng-geleng kepala tapi tak berani memprotes (dok, Sindonews)

BêBASbaru.com, BANGKOK – Panusaya adalah anak yang pemalu dan kerap mendapat intimidasi di sekolah. Namun lima bulan yang ia habiskan dalam program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat mengubah dirinya sepenuhnya. “Saya kembali ke rumah sebagai orang yang berbeda, yang tidak takut untuk berbicara dan bertindak.” Ia menjadi semakin aktif secara politik setelah memasuki Universitas Thammasat yang bergengsi. Dua tahun lalu, ia bergabung dengan “Revolusi Kubah”, sebuah partai politik persatuan mahasiswa. Pada bulan Februari, ia membantu mengatur unjuk rasa pro-demokrasi pertama setelah pembubaran Partai Future Forward, sebuah partai reformis yang populer di kalangan pemilih muda. Partai itu dibubarkan setelah pengadilan menyatakan partai telah menerima pinjaman ilegal dari pemimpinnya sendiri. Future Forward sukses dalam pemilu 2019 dan pembubaran partai ini dipandang oleh para pendukungnya sebagai upaya untuk menghilangkan pengaruh politiknya yang semakin besar. Tapi ini bukan satu-satunya peristiwa yang menginspirasi kaum muda untuk bergabung dengan gerakan prodemokrasi yang dipimpin mahasiswa di Thailand dalam beberapa tahun terakhir.

Rakyat Thailand mulai berani mendobrak tradisi dengan mendemo apa sebenarnya peran kerajaan untuk negeri mereka (dok, reuters)

Maha Raja Vajiralongkorn, yang mewarisi tahta pada 2016, jarang terlihat di depan umum, dengan laporan bahwa ia menghabiskan sebagian besar waktunya di luar negeri terutama setelah negaranya dilanda pandemi virus corona. Thailand juga menyaksikan serangkaian skandal korupsi, termasuk komite resmi yang menemukan “bayangan korupsi” yang menghantui penuntutan terhadap ahli waris perusahaan minuman energi Red Bull sehubungan dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal pada tahun 2012. Pemerintah Thailand mengatakan mereka mempromosikan kebebasan berekspresi dan menoleransi kritik, tapi mahasiswa harus menggunakan hak mereka sesuai hukum dan tidak boleh mengancam keamanan nasional. Namun para mahasiswa mengkhawatirkan keselamatan mereka. Sedikitnya sembilan aktivis yang melarikan diri ke luar negeri sejak kudeta tahun 2014 terhadap pemerintah yang dipimpin militer telah menghilang setelah mengkritik institusi paling dihormati di Thailand ini. Mayat dua orang dari mereka belakangan ditemukan di tepi sungai. Pemerintah Thailand dengan keras menyangkal kaitan dengan penghilangan ini. “Saya ingin ibu saya bangga” Panusaya mengatakan bahwa sejak malam ia menyampaikan manifestonya, pergerakannya diawasi siang dan malam oleh aparat baik di kampus maupun di asrama. “Meskipun mereka mengenakan pakaian preman, saya tahu mereka adalah polisi karena mereka memiliki gaya rambut cepak yang sama dan selalu mengambil foto saya di tempat umum.” Ia belum ditangkap dan berkata tidak akan pernah menyerahkan dirinya kepada pihak berwenang. Ia juga belum didakwa dengan lese majeste – undang-undang ini telah jarang digunakan dalam beberapa tahun terakhir – namun bisa menghadapi tuduhan penghasutan, menyebarkan informasi palsu ke jaringan komputer, dan melanggar undang-undang pengendalian penyakit, karena unjuk rasa mengabaikan aturan pembatasan sosial untuk menekan penyebaran virus corona. Tuduhan penghasutan saja membawa hukuman penjara maksimal tujuh tahun. Dan seperti mahasiswa lain yang dituduh “melewati batas”, Panusaya juga menghadapi ketegangan di rumah. Ibunya termasuk di antara mereka yang merasa ngeri dengan keputusannya dan memintanya untuk tidak pergi ke acara pawai. Selama lima hari setelah itu, mereka tidak berbicara satu sama lain. “Jelas, ibu saya prihatin, tapi ia tidak menunjukkannya dan bertindak normal saat saya ada. Tapi saat ia bersama kakak perempuan saya, kadang ia menangis,” katanya. Ibunya kemudian menyerah, berkata ia bisa melakukan apa pun yang ia inginkan – tetapi memperingatkannya untuk menghindari menyebutkan monarki. Tapi sekarang – saat ia bersiap untuk unjuk rasa pada 19 September – Panusaya secara mental mempersiapkan dirinya untuk masuk penjara. Unjuk rasa tersebut akan menyerukan berbagai reformasi – pada monarki, militer, konstitusi dan pendidikan. “Saya pikir ibu saya harus mengerti bahwa kami tidak melakukan ini untuk bersenang-senang. Ini serius dan kami harus melakukannya. Kami melihatnya sebagai tugas kami jadi dia harus mengerti. Saya ingin dia bangga.”

Sumber: Vivanews.com dan berbagai sumber (dengan judul: Thailand Diguncang Aksi Prodemokrasi, Mahasiswi ini Menantang Monarki)

Berita ini sudah dilihat 85 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 162
  • Page views today : 187
  • Total visitors : 532,169
  • Total page view: 1,116,023