Connect with us
Update Now

Dunia

Thailand Diguncang Aksi Prodemokrasi I: Dimotori Anak Muda Rakyat Mulai Menantang Monarki

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 115,644 kali

Para mahasiswa mulai gerah dengan kelakuan Raja Thailand dan unjuk rasa pun di gelar (dok, kompas.com)

BêBASbaru.com, BANGKOK – “Ada ketakutan yang mengintai di dalam diri saya, ketakutan yang mendalam akan konsekuensinya,” kata Panusaya Sithijirawattanakul, seorang mahasiswi Thailanb berusia 21 tahun. Agustus lalu, ia dengan gugup naik ke atas panggung di Thailand dan menyuarakan tantangan terbuka kepada monarki. Di hadapan ribuan mahasiswa dari salah satu universitas top Thailand, ia membacakan 10 poin manifesto yang sekarang terkenal, menyerukan reformasi monarki. Menentang monarki adalah langkah yang mengejutkan. Sejak lahir, orang Thailand diajari untuk menghormati dan mencintai monarki, tapi juga takut akan konsekuensi jika membicarakan apapun terkait kerajaan. Thailand adalah salah satu dari sedikit negara dengan hukum lese majeste. Siapapun yang mengkritik raja, ratu, pewaris takhta, atau bupati bisa dipenjara hingga 15 tahun. Meski hukum lese majeste masih berlaku, dalam beberapa bulan terakhir, aksi protes pro-demokrasi melanda negeri ini, dan mahasiswa seperti Panusaya berada di pusatnya. “Saya tahu hidup saya tidak akan pernah sama lagi,” ungkapnya kemudian kepada BBC News Thai. Thailand diguncang oleh unjuk rasa pro-demokrasi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, dan salam tiga jari telah menjadi simbol gerakan itu.

Rakyat Thailand mulai ‘muak’ dengan perilaku Raja nya yang malah aseek dengan para gundik di Jerman, padahal di dalam negeri wabah korona sedang ganas-ganasnya (dok, kumparan)

Manifesto diperlihatkan pada Panusaya hanya beberapa jam sebelum ia membacakannya di unjuk rasa besar-besaran yang jarang terjadi di ibu kota, Bangkok. Aksi protes itu menuntut monarki bertanggung jawab kepada institusi-institusi yang dipilih rakyat, proposal untuk memangkas anggaran kerajaan, dan agar monarki tidak campur tangan dalam urusan politik — pernyataan yang mengejutkan bagi kebanyakan orang Thailand. “Mereka memberikannya kepada saya, bertanya apakah saya ingin menggunakannya. Pada saat itu, semua orang merasa isinya sangat kuat dan saya juga berpikir itu sangat kuat. Saya memutuskan untuk menjadi orang yang mengatakannya. “Saya bergandengan tangan dengan kawan-kawan mahasiswa saya, menanyakan dengan lantang apakah kami melakukan hal yang benar di sini,” kata Panusaya. “Jawabannya adalah ya — ini hal yang benar untuk dilakukan. Saya kemudian duduk lagi, merokok sebelum saya naik ke panggung, dan mengeluarkan semua yang ada di kepala saya.” Dari atas panggung, ia berkata di hadapan orang banyak, “Semua manusia berdarah merah. Kita tidak berbeda. “Tidak seorang pun di dunia ini yang lahir dengan darah biru. Beberapa orang mungkin terlahir lebih beruntung dari yang lain, tetapi tidak ada yang terlahir lebih mulia dari orang lain.” Pidato Panusaya telah menimbulkan kehebohan — kombinasi tepuk tangan dari akademisi liberal dan kecaman dari media royalis yang bercampur dengan ketidakpercayaan dari banyak orang Thailand. Pada hari-hari setelah unjuk rasa, halaman Facebook dari para aktivis top royalis dipenuhi dengan serangan terhadap Panusaya, beberapa menuduhnya dimanipulasi oleh politisi republik, tuduhan yang ia bantah. Apirat Kongsompong, seorang jenderal yang berkuasa di negara yang pada dasarnya masih dikendalikan oleh militer, mengatakan para pengunjuk rasa terkena “chung chart” – istilah Thailand yang berarti “kebencian terhadap bangsa” – dan menambahkan bahwa itu “jauh lebih buruk daripada pandemi yang sedang berlangsung”. “Membenci negeri sendiri adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan,” ujarnya. Namun Panusaya mengatakan bahkan sebagai anak-anak ia ingat mempertanyakan posisi keluarga kerajaan dalam kehidupan Thailand. Pada suatu hari yang terik, seorang petugas muncul di depan pintu dan meminta keluarganya untuk meninggalkan rumah mereka dan duduk di trotoar untuk mengantisipasi iring-iringan mobil kerajaan. “Mengapa kita harus berjemur selama setengah jam untuk melihat iring-iringan mobil yang lewat? Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak keluar untuk bergabung dengan kerumunan yang menunggu.” Anak bungsu dari tiga bersaudara ini menunjukkan ketertarikannya pada politik sejak dini. Di sekolah menengah, diskusi politik dengan kawan-kawan dekatnya adalah salah satu hiburan favorit Panusaya. Ketika terjadi kudeta pada tahun 2014, ayahnya – satu-satunya orang dalam keluarga Panusaya yang mengikuti politik saat itu – mendorongnya untuk mencari tahu lebih lanjut.

Sumber: Vivanews.com dan berbagai sumber (dengan judul: Thailand Diguncang Aksi Prodemokrasi, Mahasiswi ini Menantang Monarki)

Berita ini sudah dilihat 80 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 276
  • Page views today : 329
  • Total visitors : 530,582
  • Total page view: 1,114,236