Connect with us
Update Now

Uncategorized

Tanda-tanda Kejatuhan Sebuah Rejim, Ekonomi Hancur dan Revolusi

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 235,114 kali

Investigasi – Sejarah bangsa kita memang diwarnai dengan berbagai pergolakan politik dan ekonomi, yang berakibat pada kejatuhan sebuah rejim. Presiden Soekarno, Soeharto dan Gus Dur adalah 3 contoh rejim yang tumbang sebelum habisa masa jabatannya atau mundur sukarela. Soekarno yang sempat ditasbihkan sebagai Presiden seumur hidup terpaksa atau dipaksa lengser dari jabatanya pada Tahun 1966, setelah NKRI terpuruk secara ekonomi plus pergolakan politik yang diawali dengan G 30 S (Gerakan 30 September 1965, yang oleh Orde Baru ditambahkan embel-embel PKI (Partai Komunis Indonesia). Soeharto juga tumbang karena faktor ekonomi, itu diawali dengan naiknya dollar AS atas rupiah secara cepat, dari Rp6.000 perdollar AS ke Rp16.000 Tahun 1998, harga-harga melambung tinggi hingga 300 persen lebih. Lalu ada gerakan aksi demontrasi secara besar-besaran yang dipelopori oleh Mahasiswa se Indonesia. Abdurahman Wahid lengser bukan karena faktor ekonomi, namun murni soal politik Tahun 2001, Gus Dur yang sangat ‘doyan’ gonta ganti para pembantunya (Menteri), awalnya dituding terlibat dalam skandal Bulogate (ironisnya sampai kini tak pernah terbukti Gus Dur terlibat). Banyak yang menuding, lengsernya Gus Dur saat itu, selain permainan elit di DPR-MPR RI, juga melibatkan elit Polri serta TNI. Di jaman Gus Dur lah, Kapolri dan Panglima TNI ‘dengan mudah’ bisa di ganti Gus Dur. Yang paling heboh tentu saja saat Gus Dur mencopot Kapolri Jendral (Pol) S Bimantoro dengan Jendral (Pol) Chairuddin Ismail. Gus Dur menonjobkan Bimantoro dan melantik Chairuddin sebagai Kapolri, tapi Bimantoro melawan dan minta dukungan DPR, sehingga kepemimpinan Kapolri jadi ‘kembar’, karena masing-masing pihak tak mau mengalah. Akhirnya pada 20 Juli 2001, Ketua MPR RI,Amien Rais sohibnya yang jadi ‘oposisi’ menyatakan, bahwa Sidang Istimewa MPR akan dimajukan pada 23 Juli 2001. TNI menurunkan 40.000 tentara di Jakarta dan juga menurunkan tank yang menunjuk ke arah Istana Negara sebagai bentuk penunjukan kekuatan. Gus Dur kemudian mengumumkan pemberlakuan dekrit yang berisi (1) pembubaran MPR/DPR, (2) mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu satu tahun, dan (3) membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap Sidang Istimewa MPR. Namun dekrit tersebut tidak memperoleh dukungan dan pada 23 Juli, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri. Saat itulah rakyat Indonesia melambai tangan seraya berkata: “Sayonara Gus Dur”. Sosok Gus Dur yang Humoris sangat diingat rakyat Indonesia, konon saat berkunjung ke Kuba dan bertemu Presiden Kuba, Fidel Castro, Gus Dur seperti biasanya menanggapi pujian Castro dengan humornya, kata Gus Dur: “Presiden RI itu gila-gila semua. Ya iyalah. Itu kan karena presiden Indonesia pada gila semua. Soekarno, presiden gila wanita. Soeharto, presiden gila harta. Habibie, presiden yang benar-benar gila ilmu dan teknologi. Nah, saya sendiri presiden yang benar-benar gila yang dipilih oleh orang-orang gila,” kata Gus Dur, yang membuat Fidel Castro yang konon tak pernah mau tertawa, langsung terpingkal-pingkal mendengar ucapan Gus Dur.

Saat ini, di mana dollar AS sudah menembus angka merah, yakni Rp15.000 per dollar AS, warning keras pun diberikan kepada pemerintahan Jokowi-JK. Untungnya fondamental ekonomi kita tak separah di jaman menjelang kejatuhan Soeharto atau Soekarno dulu. Tahun 1998 dulu yang paling langsung terdampak dollar melonjak adalah sektor otomotif dan elektronik. Harga otomotif-elektronik naik hingga 300 persen, contohnya, mobil jenis Toyota Kijang, yang awalnya berharga Rp45.000 jutaan, naik menjadi Rp135 jutaan, televisi 21 inc yang awalnya berharga Rp300 ribuan, melonjak jadi Rp 900 ribuan (jaman dulu belum ada pembiayaan seperti sekarang yang menjamur, semuanya serba cash). Kuatnya fondamental ekonomi suka tidak suka merupakan warisan pemerintahan sebelumnya, yakni SBY-JK dan SBY-Boediono. Saat SBY menang Pilpres 2004 silam, ekonomi kita sempat ‘bergoyang’ termasuk dunia politik plus maraknya Korupsi. Pelan tapi pasti, SBY pun membenahi itu semua, korbannya pun berjatuhan, tak sedikit kader-kader Partai Demokrat plus kader partai lain ditangkap KPK, termasuk Kepala Daerah serta pengusaha. 10 tahun SBY berkuasa, Jokowi naik tahta dengan slogan nya ‘Kerja-kerja dan kerja” Jokowi menggenjot infrastruktur dan sedikit ‘melupakan’ ekonomi, plus melanjutkan pemberantasan korupsi bersama KPK, yang memakan korban ratusan kepala daerah (terbanyak kader PDIP). Tak pernah di jaman Jokowi dollar AS di bawah Rp10 ribu, rasionya selalu naik hingga kini ke angka Rp15 ribu. Jokowi berpikir, ekonomi kita cukup kuat dan tak perlu dikhawatirkan, dia lebih fokus ke infrastruktur jalan dan jembatan, yang dianggap lebih darurat, karena sejak NKRI merdeka 1945 lalu, sektor ini paling ketinggalan…dan itu benar, wajib diakui alasan Jokowi sangat masuk akal. Kali ini Jokowi lagi-lagi diuntungkan, media massa ‘terkesan’ habis-habisan terus mendukung Jokowi, beda 180 derajat dengan jaman SBY. Mahasiswa belum melaksanakan aksinya turun ke jalan, malah emak-emak yang mulai intens demo plus di media sosial yang tak bisa diredam siapapun, walaupun terus dipantau. TNI-Polri pun masih sangat loyal dengan pemerintahan saat ini, tak ada gejolak besar di kedua institusi paling berpengaruh di Republik ini. Kita tunggu saja sampai Pemilu serntak pada 17 April 2019, apakah Jokowi mampu bertahan dua periode, ataukah sebaliknya. Bila ekonomi makin terpuruk lalu ada revolusi, bisa saja Jokowi gagal mempertahankan kekuasaannya. Namun bila sebaliknya Jokowi mampu redam dua soal paling krusial itu, maka kekuasaan Jokowi akan berlanjut ke periode ke II.

(Redaksi)

Berita ini sudah dilihat 123 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 95
  • Page views today : 102
  • Total visitors : 546,123
  • Total page view: 1,131,347