Connect with us
Update Now

Uncategorized

Takut Bernasib Seperti SBY-Demokrat Karena Naikan BBM Jelang Pemilu, Jokowi Tolak Usul Kenaikan BBM

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 230,643 kali

Jakarta – Muncul desakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) demi menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Harga BBM yang rendah disinyalir menjadi penyebab tingginya konsumsi BBM sehingga mendorong tingginya impor minyak dari luar negeri sehingga menggerus nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pemerintahan Jokowi ternyata tak mau mengulang gaya pemerintahan SBY, yang ‘berani’ menaikan BBM menjelang PemiluTahun 2014 lalu. Akibatnya, selain dihantam soal Korupsi, SBY juga di goreng habis-habisan karena menaikan harga minyak, akibatnya Partai Demokrat ikut kena imbas, yakni terjun bebas perolehan suaranya pada Pemilu 9 April 2014 lalu. Menko Polhukam Wiranto turut mengomentari dorongan itu. “Pemerintah nggak usah didesak. Pemerintah kan sudah tahu apa yang akan dihadapi dan tahu apa yang seharusnya dilakukan,” ujar Wiranto di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (5/9). “Pemerintah nggak usah didesak. Pemerintah kan sudah tahu apa yang akan dihadapi dan tahu apa yang seharusnya dilakukan” Menko Polhukam Wiranto. Wiranto menceritakan pengalamannya setiap mengikuti rapat terbatas ekonomi di Istana. Dari rapat itu, Wiranto menyebut pemerintah benar-benar memikirkan kondisi ekonomi negara. “Sehingga setiap saya mengikuti sidang kabinet terbatas bidang ekonomi selalu memikirkan bagaimana kemampuan ekonomi kita mampu mengatasi berbagai masalah-masalah ekonomi dalam negeri,” jelas Wiranto. Wiranto menyebut kondisi rupiah tak terlepas dari ekonomi global. Namun dia memastikan pemerintah akan mengatasinya. “Walaupun kita tidak bisa pungkiri pengaruh ekonomi global tentunya pemerintah selalu ingin mengatasi berbagai macam masalah yang diakibatkan pengaruh ekonomi global,” ucap Wiranto. Sebelumnya, mantan Menteri Keuangan di pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Chatib Basri menjelaskan saat ini yang menjadi perhatian utama adalah current account deficit (CAD). Menurut dia salah satu sumber defisit yang besar adalah dari minyak dan gas (migas). “Untuk menurunkan permintaan bahan bakar minyak (BBM) yang sebagian juga muncul karena penyelundupan, sebaiknya harga BBM dinaikkan,” kata Chatib dalam keterangannya, Selasa (4/9) kemarin.
Sumber: detiknews.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 72 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 360
  • Page views today : 409
  • Total visitors : 545,559
  • Total page view: 1,130,724