Connect with us
Update Now

Hulu Sungai Selatan

Sudah Berpengalaman, Warga Loksado Tetap bakar Lahan dan Jamin Api Tak Sampai Merambat

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 412,508 kali

'Manugal' adalah adat sebagian warga, setelah lahan sebelumnya di bakar dan di bersihkan (dok, koranbanjar.net)

BêBASbaru.com, HULU SUNGAI SELATAN – Petani di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan kini bersiap melaksanakan tanam padi gogo di ladang. Yaitu di atas bukit-bukit di pegunungan Meratus. Sudah menjadi rutinitas, sebelum menanam, mereka melakukan pembersihan lahan dengan cara pembakaran. Meski hal itu dilarang, warga menyatakan tak bisa meninggalkan cara tersebut, karena sudah menjadi tradisi turun temurun. “Pembakaran yang kami lakukan, pembakaran yang bertanggungjawab. Tidak ditinggalkan begitu saja, lalu apinya merambat seperti di lahan gambut. Kalau kami, sebelum dibakar tanaman di sekeliling dibersihkan dengan dipangkasi agar api tak menjalar. Saat membakar api dijaga, bersama pemilik lahan lainnya, secara gotong royong. Jikaa sudah bersih dan padam, baru ditinggalkan,”ungkap Yunus, petani dari Desa Halunuk, Loksado kepada banjarmasinpost.co.id, Selasa (8/9/2020). Dijelaskan sejak Agustus 2020 lalu, pembakaran lahan sudah dilaksanakan, secara bergiliran dengan petani lainnya. Dengan membakar bergiliran dan bergotong royong, jelas Yunus bisa saling menjaga agar api tak menjalar ke lahan di sekitarnya. Menurut Yunus, sulit bagi warga adat meninggalkan budaya membakar dan ladang berpindah. Masalahnya, tak ada cara efektif lain, untuk membersihkan kayu dan pohon-pohon berukuran besar. “Kalaupun pemerintah melarang, harus ada solusinya buat kami. Kalau melarang tanpa solusi, sama saja membuat rakyat seperti kami kelaparan,”katanya. Ditambahkan, warga petani Loksado umumnya mengetahui ada larangan UU. Sejauh ini, pihak pemerintah dan aparat penegak hukum sendiri sudah menyosialisasikan UU tersebut, dan menyampaikan imbauan tak bakar lahan. Budaya membakar lahan sendiri, jelas Yunus sudah ada, jauh sebelum ada bencana kabut asap. “Zaman dulu nenek moyang kami bertani dengan cara seperti ini, tak ada bencana kabut asap,”katanya. Rata-rata warga menanam bibit padi gogo, hasil panen tahun sebelumnya yang disimpan di lumbung. Satu bukit biasanya bisa ditabur bibit 10 gantang, yang menghasilkan 150 sampai 200 gantang padi. Warga Adat sendiri jarang menanam padi untuk dijual, karena lebih banyak untuk konsumsi sendiri dan disimpan ssebagai bibit maupun untuk beberapa tahun ke depan. “Kecuali yang berhumanya dalam jumlah banyak, bisa dijual ke luar Loksado,”katanya.

Sumber: banjarmasinpost.co.id dan berbagai sumber (dengan judul: Jamin Api Tak Sampai Merambat, Warga Loksado Bakar ladang untuk Bercocok Tanam)

Berita ini sudah dilihat 242 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip