Connect with us
Update Now

Investigasi

Siapa Yang Paling Bertanggung Jawab, Lemahnya Pengamanan Mako Brimob??

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 422,499 kali

Depok – Setelah hampir 40 jam Markas Komando (Mako) Brigade Mobil (Brimob) RI dikuasai teroris, kini markas kepolisian yang dianggap sebagai salah satu ter aman di Republik ini, kembali dikuasai sepenuhnya oleh aparat keamanan. Namun, tumbalnya tak tanggung-tanggung 5 nyawa putera terbaik polisi brimob dan 4 polisi lainnya terluka parah, plus satu terduga teroris tewas. Yang jadi pertanyaan kini adalah siapa yang paling bertanggung jawab, atas lalainya pengamanan tahanan yang berisi lebih dari 145 mantan teroris tersebut. Tentu Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang memegang tongkat komando dianggap berbagai pihak sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas tragedy ini. Ironisnya, Jendral Tito malah pada saat yang bersamaan ada di LN, tepatnya di Yordania, kala kerusuhan di Mako Brimob sedang terjadi. Tito pun buru-buru pulang dan langsung memimpin jajaran polri untuk menyelesaikan kasus yang sangat menghebohkan ini, bahkan menjadi sorotan dunia.

Darimana Senjata Teroris..??

Para narapidana dan tahanan teroris melakukan penyanderaan menggunakan persenjataan. Mereka mendapatkan persenjataan itu di lokasi, Kompleks Mako Brimob.  Wakil Kapolri Komjen Syafruddin menjelaskan soal ini dalam jumpa pers di Markas Direktorat Polisi Satwa Baharkam Polri, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5/2018).

“Penyandera memiliki senjata yang dirampas dari anggota Polri yang terbunuh,” kata Syafruddin.

Senjata itu termasuk senjata laras panjang berdaya jangkau 500 meter sampai 800 meter, alias pelurunya bisa sampai ke jalan depan Mako Brimob.

Syafruddin juga mengungkapkan, para napi teroris juga melakukan perakitan bom. Bom bikinan para napi teroris itu berhasil diledakkan oleh polisi, getarannya terasa sampai luar Mako Brimob pada pukul 07.20 WIB.

“Mereka melakukan kegiatan perakitan bom. Itu peledakan bom yang berhasil (diamankan),” kata Syafruddin.
Namun Komandan Korps (Dankor) Brimob Irjen Rudy Sufahriadi mengatakan para napi yang memberontak itu mendapatkan bom dari barang-barang sitaan polisi. Bom sitaan itu belum sempat disimpan di gudang, entah disimpan di mana bom-bom itu sebelum akhirnya dirampas napi teroris. “Bom-bom itu didapat adalah barang bukti yang kemarin-kemarin disita itu belum sempat digudangkan oleh penyidik Densus di ruang pemeriksaan. Itu yang mereka ambil lagi, itu yang mereka rebut lagi. Itulah yang dijadikan bahan bom buat ranjau nanti di sini dan sudah diledakkan semua,” tutur Rudy. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto, menjelaskan bahwa teroris mendapatkan senjata dengan cara merampas. Jumlah senjata rampasan ada 36 pucuk. “Mereka merampas 36 pucuk senjata. Senjata hasil sitaan dari aparat kepolisian lawan terorisme sebelumnya,” kata Wiranto. Belum jelas betul di mana 36 senjata itu disimpan, dan bagaimana pula para teroris mendapatkan akses ke tempat persenjataan itu.
(dnu/fjp)

Sumber: detiknews.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 220 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip