Connect with us
Update Now

Headline

Siapa Ali Kalora II: Disebut Penerus Santoso dan Basri Baco di Mujahidin Indonesia Timur (MIT)

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 405,022 kali

Penampilan Ali Kalora yang belum juga berhasil Polisi dan TNI bekuk hingga kini (dok, detiknews.)

BêBASbaru.com, INVESTIGASI – Sebelumnya, MIT dipimpin oleh Santoso. Sebagaimana diberitakan detikcom, Santoso tewas pada 18 Juli 2016. Dia ditembak anggota Satgas Tinombala dari unsur Batalyon Infanteri 515 Kostrad, Jember.

Usai tewasnya Santoso, masih ada sosok Basri bin Baco Sampe alias Bagong yang menjadi tangan kanan Santoso. Basri bisa menjadi penerus Santoso. Beruntung, Satgas Tinombala berhasil menangkapnya hidup-hidup, di Sektor Satu, Poso, Pesisir Selatan, 14 September 2016.

Maka sejak saat itu, Ali Kalora menjadi pemimpin MIT. Ali Kalora sempat dianggap enteng oleh kepolisian. “Ali Kalora jauh di bawah kelasnya Santoso dan Basri,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian di PTIK, Jl Tirtayasa, Jakarta, 14 September 2016 silam.

Ali Kalora cs punya reputasi buruk meneror warga. Pada akhir 2018, komplotannya memutilasi penambang emas. Peristiwa itu terjadi di Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Kepala korban ditemukan terpisah dari tubuh lainnya pada 30 Desember 2018.

Sehari berselang, polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Usai melakukan olah TKP, Personel Polda Sulawesi Tengah bernama Bripka Andrew dan Bripda Baso ditembak oleh kompoltan Ali Kalora. Dua polisi itu terluka tapi tetap selamat.

Pada 27 November 2020, Ali Kalora memimpin gerombolan MIT melakukan pembunuhan di Dusun Lewonu, Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Ali Kalora cs membunuh empat orang dengan sadis, yakni menggorok leher. Ada pula yang dibakar. Satu bangunan dibakar. Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Abdul Rakhman Baso menyebut bangunan yang dibakar bukanlah gereja namun rumah yang biasa dijadikan tempat pelayanan umat.

Selain membunuh satu keluarga di Sigi, kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora juga melakukan pembakaran rumah. Jejak sadisnya bisa diperpanjang sampai ke belakang, saat Santoso masih hidup dan memimpin MIT. Berikut adalah catatan yang dikutip dari buku ‘Ancaman Virus Terorisme: Jejak Teror di Dunia dan Indonesia’ karya Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan.

MIT mendapat perhatian internasional setelah mereka membunuh dua polisi pada 16 Oktober 2012. Polisi itu adalah Briptu Andi Sapa dan Brigadir Sudirman, tewas di Dusun Tamanjeka, Desa Masani.

20 Desember 2012, tiga anggota Polri tewas setelah ditembak dari belakang saat patroli di Desa Kalora, desa tempat Ali Kalora lahir. Briptu Ruslan, Briptu Winarto, dan Briptu Wayan Putu Ariawan tewas karena luka tembak yang parah, termasuk di kepala dan dada.

Pada 2015, kelompok MIT membunuh tiga warga di Desa Tangkura. Mereka tewas mengenaskan dengan luka tembak. Korban atas nama Dolfi Moudi Alipa (22), Aditya Tetembu (58), dan Hery Tobio.

Sumber: detik.com dan berbagai sumber yang di olah.

Berita ini sudah dilihat 429 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 31
  • Page views today : 35
  • Total visitors : 553,362
  • Total page view: 1,139,766