Connect with us
Update Now

Sahibar Banua

Setelah Bertahun-tahun ‘Merana’ Bahan Purun Kini Mulai Laku, Sedotan Purun Asal Amuntai Tembus Pasar Eropa

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 413,463 kali

SAHIBAR BANUA – Kalau bahasa Banjar, purun artinya tega…namun purun yang merupakan tanaman rawa, bisa juga sebuah kerajinan tangan berbahan tanaman yang dinamakan itu juga. Kerisauan pecinta lingkungan akan limbah plastik menjadi perhatian luas. Kini seluruh dunia sepakat mengurangi penggunaan berbahan plastic dan kerajinan purun pun naik daun karena ramah lingkungan. Di sebuah Desa Banyu Hirang, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Provinsi Kalimantan Selatan, beberapa warga mampu berkontribusi memecahkan persoalan tersebut. Menjawab keluhan banyak pihak mengenai bahaya sampah plastik, warga memproduksi sedotan minuman nonplastik yang terbuat dari tanaman rawa. Tanaman rawa yang dimaksud adalah ‘purun’ (eleocharis dulcis) yang selama ini dinilai sebagai musuh petani karena pertumbuhannnya serta penyebarannya yang sangat cepat hingga mengganggu produksi pertanian tanaman pangan. Bahkan karena dinilai gulma, banyak petani membasminya dengan aneka racun pembasmi gulma (herbisida). Padahal, langkah pintas tersebut justru mempengaruhi ekosistem, terutama menurunnya populasi ikan rawa. Melihat kenyataan tersebut, Pemkab HSU bekerjasama dengan warga mencoba memikirkan persoalan ini. Yakni membuat kerajinan terbuat dari gulma yang tumbuh di rawa. Hingga kemudian, Supiannor warga Desa Banyu Hirang, Amuntai Selatan, menemukan solusinya. Supianor membentuk kelompok kerajinan “Kembang Ilung” yang mengubah purun menjadi barang berharga. Eksistensi kelompok kerajinan “Kembang ilung” dalam menyulap gulma menjadi bahan berharga membuat nama kelompok ini dikenal orang. Hingga seorang pengusaha di Bali, tertarik dengan karya sedotan organik pengganti sedotan air minum plastik yang mereka bikin. Konon perusahaan di Bali tersebut sudah memiliki kontak dengan perusahaan di Eropa mengenai keinginan mengubah kebiasaan masyarakat dengan mengganti sedotan plastik dengan sedotan ramah lingkungan. Sedotan plastik yang sekarang sering digunakan sekali pakai terus dibuang hingga mencemari lingkungan. Apalagi plastik dinilai tak mudah terurai hingga sangat berbahaya bagi kelestarian lingkungan. Atas kenyataan itulah, para perajin yang tergabung dalam kelompok usaha “kembang ilung”, Desa Banyu Hirang, mencoba memproduksi ribuan batang sedotan non plastik yang terbuat dari tanaman purun (tumbuhan rawa) guna memenuhi permintaan dari negeri Belanda. Ketua kelompok usaha kembang ilung, Supianor, saat ditemui wartawan Antara Kalsel, mengakui para perajin asuhannya mengolah tanaman purun menjadi sedotan air ramah lingkungan sesuai permintan luar negeri. “Kami memperoleh pesanan dari negeri Belanda sebanyak 200 ribu batang per bulan, melalui pengusaha yang ada di Bali,” kata Supianor seraya memperlihatkan bungkisan atau kemasan sedotan yang siap dikirim tersebut. Hanya saja, tambah lelaki setengah baya tersebut, pihak pengrajin sulit memenuhi permintaan tersebut. Lantaran paling banyak dalam sebulan mampu memproduksi 100 ribu batang, karena keterbatasan tenaga dan teknologi. Karena dalam pembuatan sedotan tersebut harus sesuai bentuknya seperti yang diinginkan pembeli, seperti panjangnya, tidak cacat, lubangnya bulat, dan kering, serta bersih. Untuk memotong tanaman purun yang sudah diproses melalui pengeringan atau penjemuran, maka harus menggunakan pisau silit, agar irisan potongan rapi dan tidak pecah sedotannya. Kreativitas perajin Banyu Hirang Amuntai ini sudah banyak menginspirasi perajin lainnya di Kalsel, yang juga memiliki lahan luas tanaman purun. Bahkan ketika kegiatan perajin “kembang ilung” ini di share ke media sosial memperoleh banyak respon. Bhkan ada yang ingin membeli untuk memulai penggunaan sedotan terbuat dari purun ini menggantikan plastik di wilayah Kalsel sendiri. “Kenapa kita saja yang memulai menggunakan sedotan nonplastik ini, agar semua masyarakat sadar akan arti kelestarian lingkungan,” kata Samsuri Sarman pengguna FB. Ada pula pengguna medsos yang menawarkan diri membina perajin lainnya untuk memproduksi sedotan tersebut lebih banyak lagi, guna memenuhi permintaan pasar luar negeri. “Ini menguntungkan segi lingkungan dan menguntungkan sisi ekonomi,” kata pengguna FB yang lain. Pecinta lingkungan yang juga Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin, Mohammad Ary sangat mengapresiasi kreatifitas mengubah barang tak berguna menjadi berharga. Seperti tanaman purun itu, selain memberikan kesejahteraan warga sekaligus menjadi pelopor pelestarian lingkungan.
Sumber: antaranews.com, kanalkalimantan.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 94 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 106
  • Page views today : 117
  • Total visitors : 553,674
  • Total page view: 1,140,126