Connect with us
Update Now

Daerah

Serangan Hama Tikus Bagian II: Sepasang Tikus Bisa Beranak Pinak Hingga 2.000 Ekor Pertahun

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 130,934 kali

Dalam setahun, sepasang tikus bisa beranak pinak hingga 2.000 ekor pertahun (dok, kompasTV)

BêBASbaru.com, DAERAH – Pada kesempatan lain, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi mengatakan Kementan terus berupaya mengendalikan hama tikus yang menyerang pertanaman padi. Pengamatan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan salah satu prinsip dasar dari Sistem Pengendalian Hama Terpadu’ Petugas pengendali OPT memberikan bimbingan tentang upaya pengendalian tikus kepada petani. “Kunci keberhasilan pengendalian tikus ini adalah bagaimana cara menggerakkan kekompakan para petani. Kalau dilakukan sendiri-sendiri sama saja hasilnya karena jangkauan habitat tikus ini cukup luas, maka dari itu penting untuk melakukan gerakan pengendalian secara bersama-sama dengan alat alat pendukung yang ada,” terangnya.“Upaya pengamanan produksi di masa Pandemi Covid 19 ini sangat penting, jangan sampai serangan semakin meluas dan terlambat bertindak. Kami jalankan apa yang selalu diwanti-wanti Pak Menteri Syahrul Yasin Limpo untuk tetap menjaga produksi dan tetap beraktivitas dengan hati-hati,” kata Suwandi. Sementara itu Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan Dan Hortikultura (BPTH) Sulawesi Selatan, Uvan Nurwahidah menjelaskan tikus termasuk OPT yang sering menyerang tanaman padi, sehingga harus dikendalikan. Sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu mengendalikan tikus secara individu karena sumber makanan tikus tidak selalu berada di hamparan sekitar sarangnya. “Dalam mencari makan, tikus akan bergerak secara menyilang atau berkeliling dalam luasan 150 meter, sehingga pengendalian tikus harus dilakukan secara bersama-sama dengan jarak pengendalian minimal 150 meter,” jelasnya.

Radius penyebaran tikus adalah 150 meter, sehingga warga harus kerjasama dalam membasmi hama menjengkelkan ini (dok, warta solo)

“Pengendalian tikus harus dimulai dari awal, yakni sebelum pengolahan lahan. Beberapa cara atau metode pengendalian dapat dilakukan seperti melalui gropyokan masal, pemasangan umpan, fumigasi atau pengemposan, Trap Barrier System dan Light Trap Barrier System, serta pemanfaatan musuh alami,” tambah Uvan. Di daerah lain, hama tikus menyerang ratusan hektare lahan padi sawah di sejumlah wilayah di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, hingga meresahkan petani karena berimbas pada ancaman gagal panen dan kerugian. Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Sumarno mengatakan, hama tikus menyerang sembilan desa di Kabupaten Magetan dengan luas mencapai 455 hektare, Kamis, 23 Januari 2020. “Wilayah sembilan desa yang terserang hama tikus tersebut semuanya ada di Kecamatan Kartoharjo,” ujar Sumarno kepada wartaawan di Magetan, dilansir dari Antara. Menyikapi kondisi tersebut, DTPHPKP Kabupaten Magetan melakukan sejumlah langkah pengendalian dan pemberantasan hama tikus. Di antaranya, pengadaan emposan tikus dan pembagian racun tikus kepada petani. Selain itu, pihaknya juga akan melakukan “gropyokan” (kejar dan bunuh) tikus secara serentak. “Gropyokan harus serentak atau bersama-sama. Kalau dilakukan sendiri-sendiri kurang efektif. Tikus bisa memiliki ruang untuk kabur ke daerah yang tidak dilakukan gropyokan,” katanya di Magetan. Selain itu, petani juga menggunakan cara manual lainnya, seperti dengan membakar lubang yang menjadi sarang tikus. Meski demikian, hama tikus belum dapat dibasmi sepenuhnya. Hama tikus tersebut biasanya menyerang tanaman padi yang baru saja ditanam. Yakni di usia sekitar 10 hingga 15 hari setelah tanam. Sulitnya pembasmian hama tikus membuat petani di wilayah Kartoharjo resah. Sebab, kondisi tersebut dipastikan akan membuat hasil panen menurun. Selain itu, tanaman yang dimakan tikus dipastikan akan mati, sehingga petani terpaksa melakukan penanaman bibit ulang. Hal itu membuat biaya operasional untuk bibit, pupuk, air, dan tenaga tanam membengkak. Diharapkan, hama tikus dapat segera diatasi, sehingga tidak meresahkan para petani. Serangan hama tikus juga melanda sejumlah wilayah sekitar, yakni di Kabupaten Madiun dan Ngawi. Demikian juga di daerah lainnya. Hama tikus menyerang 100 hektare lahan padi di Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Petani pun menjadi resah karena terancam gagal panen dan merugi. Lahan padi yang diserang hama tikus berada di Pilangkenceng, Wonoasri, dan Balerejo. Luas lahan yang terdampak berbeda-beda. Di Pilangkenceng, hama tikus menyerang 54 hektare lahan padi, Balerejo 30 hektare, dan Wonoasri, 16 hektare. “Kebanyakan yang diserang itu tanaman padi yang baru tanam, sekitar umur 10 sampai 15 hari setelah masa tanam,” ujar Sumanto, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH), Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperta) Kabupaten Madiun, seperti yang dikutip dari Antara, Jumat (17/1/2020). Untuk mengatasi hal itu, ia sudah menyiapkan sejumlah langkah pengendalian dan pemberantasan hama tikus, seperti pengadaan 400 unit emposan tikus dan pembagian racun tikus kepada petani. Ia juga akan melakukan “gropyokan” (kejar dan bunuh) tikus secara serentak supaya lebih efektif. Jika dilakukan sendiri-sendiri, tikus masih bisa memiliki ruang untuk kabur ke areal yang kosong. Sumanto juga mengarahkan petani untuk menanam tanaman yang tidak disukai tikus, misal bawang merah, tembakau, ataupun cabai saat kemarau, sehingga tingkat perkembangbiakan tikus dapat ditekan dan dibasmi. Tikus akan cepat berkembang biak dan menjadi hama bagi petani jika makanannya melimpah. Sepasang tikus bisa berkembang biak menjadi 2.300 ekor dalam satu tahun.

Sumber: Liputan6.com dan berbagai sumber (dengan judul: Dihargai Rp1000 per Ekor, Warga Blora Ramai-Ramai Berburu Tikus

Berita ini sudah dilihat 93 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 145
  • Page views today : 149
  • Total visitors : 532,570
  • Total page view: 1,116,457