Connect with us
Update Now

Sahibar Banua

Seluruh Lubang Bekas Tambang di Kalsel Tak Bisa di Reklamasi, Alam Makin Hancur

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 127,382 kali

Sahibar Banua – Kalimantan tak kalah dengan Papua, kalau wilayah ini terkenal memiliki emas dan sumber daya alam nya yang luar biasa. Kalimantan pun sama, juga memiliki emas berwarna hitam, yakni batubara dan minyak-gas bumi. Namun kini kedua daerah ini sama-sama acak-acakan akibat pertambangan serampang, 5 propinsi yang ada di Kalimantan semuanya penuh dengan akitivitas pertambangan, mulai dari yang berizin sampai yang tidak. Tapi sama-sama memiliki potensi, hancurkan alam, karena dilakukan secara open alias terbuka, hutannya di babat, tanahnya dikeruk sedalam-dalamnya hingga meninggalkan lubang-lubang besar bekas galian. Ironisnya, tak aada aktivitas pertambangan yang mampu mereklamasi bekas galian tersebut. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatat lahan bukaan tambang batubara seluas 76.629 hektar, meliputi sejumlah kabupaten/kota di Kalsel. Namun, saat ini belum sepenuhnya tersentuh reklamasi dan revegetasi lahan pasca penambangan. Padahal dua proses itu bagian sakral untuk menjaga lingkungan. Reklamasi merupakan pengelolaan tanah yang mencakup perbaikan kondisi fisik tanah (overburden), agar tidak terjadi longsor. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan revegetasi yaitu upaya pemulihan kembali tanaman di lahan tambang. Saat ini Pemprov Kalsel melalui Dinas ESDM baru melakukan reklamasi 46.607 hektar lahan bekas tambang dan revegetasi 16.682 hektar, dari total bukaan lahan 76.629 hektar. Dari data itu, artinya masih tersisa 30.022 lubang tambang masih dalam tahap upaya reklamasi. “Data yang di kita, jumlah bukaan tambang, itu ada 196 bukaan. Itu bukaan yang ada PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara) atau IUP (Izin Usaha Pertambangan),” terang Kadis ESDM Kalsel Kelik Isharwanto dalam konferensi pers di Banjarmasin, Senin (26/8/2019) siang. Ia mengatakan pemerintah tak dapat sepenuhnya melakukan pemulihan lahan tersebut. Dikatakannya, kendati lubang kerukan tambang tak dapat seluruhnya ditutup dengan tanah yang ada, meski dana jaminan reklamasi dari perusahaan telah dikantongi pemerintah. Namun, lahan bekas tambang yang masih terbuka biasanya dapat dijadikan destinasi, seperti danau. Selain itu, kata dia, masih ada formulasi selain destinasi wisata dalam pemanfaatan lahan bekas tambang, yaitu waduk air baku. “Kalau reklamasi (lubang) ditutup semua gak mungkin. Contohnya Arutmin di Sepampang itu air baku dan ini dalam musim kering ini masih ada. Jadi dikatakan air asam tambang, jangan berasumsi seperti itu buktinya di Sepampang sebagai sumber air baku. Lalu juga dipakai untuk embung juga bisa.,” cetus Kadis ESDM Kalsel. Untuk diketahui, saat ini pemerintah terus berupaya dalam pemulihan lahan tambang. Berdasarkan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI tahun 2018, ada sebanyak 52 perusahaan tambang di Kalsel yang tak melunasi Jaminan Reklamasi (Jamrek) dengan total Rp152 miliar. Setelah diingatkan, perusahaan kepada yang bersangkutan, tersisa 16 perusahaan tambang yang belum membayar Jamrek dengan nilai Rp31,7 miliar per tanggal 31 Juli 2019. “Ini sudah kita tagih yang 16 perusahaan memiliki izin tersebut, ini tagihan yang kedua. Kalau sampai tagihan keempat akan kita cabut sementara, sesuai aturan,” pungkas Kelik Isharwanto.
Sumber:klikkalsel.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 27 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 − = 10

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 147
  • Page views today : 170
  • Total visitors : 532,154
  • Total page view: 1,116,006