Connect with us
Update Now

Politik

Pusing Hadapi Oposisi, Jokowi Rangkul ‘Timpakul’ Politik

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 434,609 kali

Sebagai salah satu kader parpol ‘oposisi’, omongan Fadli Zon bikin parpol pendukung pemerintah bak kena sengat tawon. Saking ‘frustasinya’ pemerintah pun bujuk beberapa bekas pendukung Prabowo untuk bergabung, buat mengcounter cuitan-cuitan kader parpol oposisi. Tak peduli di sebut sebagai kutu loncat (timpakul) dan tak punya harga diri, para mantan pendukung Prabowo pun tanpa sungkan menerima ajakan Jokowi dan balik mengritik parpol oposisi. Akibatnya perang stateman pun makin bertebaran di media dan juga medsos. Efektifkah..? Ternyata tak begitu efektif, oposisi malah makin tajam menyerang dan pemerintah pun makin ‘kelabakan’. Terbukti elektabilitas Jokowi justru dikabarkan makin turun dari minggu ke minggu

Bergabungnya Ali Mockhtar Ngabalin mantan politikus PBB yang loncat pagar ke Partai Golkar, ke jajaran Tim Staf Kepresidenan Jokowi-JK, menambah daftar banyaknya mantan ‘musuh’ Jokowi yang diajak bergabung. Tujuannya hanya satu, mengcounter serangan parpol oposisi yang makin intens menyerang kebijakan pemerintah. Menjelang Pemilu dan Pilpres 2019, serangan parpol oposisi, khususnya dari Partai Gerindra yang dimotori Fadli Zon makin memusingkan pemerintah. Contohnya, soal mudik, Wakil Ketua DPR RI dari Fraksi Gerindra Fadli Zon menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) gagal mengatasi persoalan mudik tahun 2018 ini. PDIP heran dengan kritikan-kritikan yang dilontarkan Fadli terhadap pemerintah. Lucunya counter yang dilakukan kader parpol pendukung pemerintah terkesan tak cerdas dan justru balik menyalahkan si pengkritik. Di tambah sikap Presiden Jokowi yang justru ‘cuek bebek’ denga kritik dan selalu berkata ‘Kerja, kerja, kerja”. Tentu saja parpol oposisi pun makin gencar melakukan serangan dan beranggapan apapun yang dilakukan pemerintah selalu kurang dan tak memuaskan. “Ih Pak Fadli, (kerja pemerintah selalu dianggap) nggak ada yang bener (semuanya dikritik),” kata Sekretaris Badan Pelatihan dan Pendidikan DPP PDIP Eva Kusuma Sundari kepada detikcom, Kamis (21/6). Eva membeberkan capaian-capaian Jokowi dalam pelaksanaan mudik tahun 2018 ini. Menurutnya, tahun ini mudik jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data statistik dari Kepolisian, kata Eva, faktanya jumlah kecelakaan yang terjadi saat mudik ini saja turun secara signifikan. Penurunan itu mencapai sekitar 50 persen. “Kedua, kesaksian netizen beserta video-video mereka yang happy karena lancar dan lebih singkat jadi referensi juga,” ujarnya. Eva menyatakan tak mengharapkan pujian dari pihak oposisi terkait keberhasilan yang diraih Jokowi. Hanya saja, oposisi juga harus mengapresiasi kerja keras yang telah dilakukan Jokowi dan jajarannya. “Nggak usah memuji tapi balance opinion ajalah. Jika ada beberapa kasus kemacetan, tidak berarti fakta-fakta yang menyenangkan warga jadi hilang kan?” kata Eva. Ia juga berharap, Fadli Zon dan pihak oposisi lainnya dapat memberikan kritikan yang membangun. Dengan demikian, kata Eva, perbaikan-perbaikan terus dapat dilakukan atas kekurangan-kekurangan yang ada. “Kita perbaiki bersama-sama, (sehingga) yang akan datang akan lebih baik (lagi). Kita tunggu saran dan input teknis dan profesionalisme (dari) Wakil Ketua DPR,” ucap anggota DPR ini. Sebelumnya, Fadli Zon menyatakan mudik 2018 diwarnai kemacetan parah. Ini adalah tanda kegagalan pemerintahan Presiden Joko Widodo mengatasi persoalan mudik. “Kemacetan parah juga menandakan kegagalan pemerintah memprediksi puncak kemacetan,” kata Fadli Zon dalam keterangan pers tertulis, Kamis (21/6).

Bela Fadli dari Tantangan Ngabalin, Gerindra Tunjukkan Data

Pihak Istana Kepresidenan menantang Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Gerindra Fadli Zon menunjukkan data yang mendukung pernyataannya terkait gagalnya Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengatasi persoalan mudik. Anggota Badan Komunikasi Gerindra Andre Rosiade membela Fadli dengan membeberkan data-data tersebut. Data kemacetan tersebut didapat dari pengalaman pribadi salah satu keluarganya yang mudik melalui jalur darat dari Jakarta-Ngawi-Jakarta. Kemacetan, kata Andre, terus dijumpai sepanjang perjalanan. “Menjawab pernyataan Bang Ngabalin (Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin) yang menantang Bang Fadli memberikan data kemacetan, ini saya sampaikan pengalaman adik sepupu saya yang mengalami macet di saat mudik,” kata Andre kepada detikcom, Kamis (21/6). Lewat jalur selatan, tepatnya dari Bandung hingga Ciamis, Andre mengatakan tidak ada perubahan dari tahun-tahun sebelumnya terkait persoalan infrastruktur. Minimnya penerangan dan sempitnya jalan masih mewarnai perjalanan mudik salah satu anggota keluarganya itu. “Dan nggak ada akses tol sama sekali dari Ciamis sampai Yogya. Semua lewat jalur N3. Dari zaman Soeharto sampai Jokowi tidak ada perubahan signifikan di jalur Nagreg, Ciawi, Pasar Gentong,” ujarnya. Kemacetan, kata Andre, juga ditemui keluarganya di sepanjang jalan Ajibarang-Purwokerto. Andre menyebut kemacetan di jalur itu telah menjadi problem menahun yang belum terselesaikan. “Jadi kemacetan itu masih ada. Nggak usah pemerintah terlalu lebay kalau dikritik bahwa masih ada macet,” ucapnya. Andre menyebut, saat arus balik pada H+1 Lebaran, dari Ngawi menuju Solo, meski lancar, adanya crossing jalan di Jalan Tol Ngawi-Kertosono menimbulkan bahaya tersendiri bagi para pemudik. Crossing jalan tersebut disebabkan belum selesainya overpass atau jembatan pada jalan tol tersebut. “Perjalanan 2 jam (lancar) tapi bahaya sekali, karena ada crossing jalan yang setiap saat orang bisa menyeberang,” kata Andre. Sementara itu, memasuki perjalanan dari Solo menuju Semarang, kemacetan yang cukup panjang menghadang perjalanan. Andre mengatakan keluarganya harus menempuh perjalanan selama 7 jam dari Solo ke Semarang. “Berangkat jam 16.00 WIB sampai Semarang jam 23.00 WIB. Tidak ada akses tol dibuka sama sekali. Jadi harus pakai Boyolali-Salatiga. Jalanan kecil, menanjak, polisi sedikit. Padahal jalur sebaliknya dibuka untuk tol. Baru ada tol di Salatiga ke Semarang (lancar),” ungkapnya. Dari Semarang menuju Jakarta, pada 17 Juni 2018, semua akses jalan tol dari Batang, Pemalang, Pekalongan, Tegal, Brebes Barat, kata Andre, ditutup. Semua mobil harus lewat outer ring road dan jalan tol dibuka di Brebes Timur. “Total perjalanan dari jam 16.00 WIB sampai Jakarta jam 7.30 WIB. Normal Jakarta-Semarang 8 jam, tapi kenyataannya hampir 16 jam. Sepanjang jalan polisi cuma ada di perempatan besar. Di tol nggak ada polisi yang aktif. Dan semua rest area full dan orang parkir sepanjang bahu jalan,” urai Andre menceritakan pengalaman keluarganya itu. Andre mengatakan kritik yang dilontarkan pihaknya bukanlah kritik yang tidak berbasis data. Dia menilai pernyataan Ngabalin saat menanggapi kritik yang dilontarkan oposisi berlebihan. “Jadi pernyataan Ngabalin itu lebay dan asbun. Kritik ini kan masukan agar ke depan jauh lebih baik,” ujarnya.
Sebelumnya, pihak Istana Kepresidenan menantang Fadli menunjukkan data yang mendukung kritik itu. “Suruh dia siapkan datanya. Suruh siapkan supaya jangan asal bicara. Nanti kalau asal ngomong, malu. Itu kan Wakil Ketua DPR RI. Kan pasti banyak data,” ujar Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin, saat dimintai konfirmasi detikcom, Kamis (21/6). Ngabalin meminta Fadli tidak asal bicara. Sebab, menurut Ngabalin, masyarakat menilai mudik dan arus balik tahun ini lebih baik. “Kalau dia hanya ngomong, ditertawai masyarakat karena masyarakat merasakan adanya kenyamanan mudik dan kembali,” kata Ngabalin.

Berita ini sudah dilihat 169 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA