Connect with us
Update Now

Investigasi

Posisi Wapres Sejak Jaman Soeharto Diam-diam Sudah Panas, Bagian I

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 227,856 kali

“Dengan ‘memaksakan’ Try sebagai Wapres tanpa konsultasi dengan Soeharto, yang dilakukan ABRI pada saat itu adalah ‘sebuah pemberontakan’”
Selama tiga dekade berkuasa, Soeharto adalah satu-satunya ‘matahari’ di Istana. Jenderal datang dan pergi silih berganti, demikian pula Wakil Presiden, orang kedua di Istana. Tak ada Wakil Presiden yang menduduki jabatannya dua periode sepanjang Orde Baru. Selama 30 tahun, Indonesia hanya punya satu Presiden dengan enam Wakil Presiden. Dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX, digantikan Adam Malik, hingga terakhir, B.J. Habibie. Tak seperti hari ini yang sedemikian riuh saat Joko Widodo maupun Prabowo Subianto mencari pasangan, tak ada yang gaduh setiap kali Presiden Soeharto ‘memilih’ pendampingnya. Tapi bukan berarti tak ada kasak-kusuk, tak ada riak, setiap menjelang Sidang Umum MPR pada masa Presiden Soeharto, meski hanya untuk mengisi posisi orang kedua di Istana – jabatan yang kekuasaannya relatif terbatas. Hingga minggu-minggu terakhir menjelang pembukaan Sidang Umum MPR pada 1 Oktober 1988, Sudharmono masih tak yakin namanya bakal masuk sebagai calon kuat Wakil Presiden. Bagi Soeharto dan Golongan Karya (Golkar), Sudharmono memang punya banyak jasa dan sudah terbukti loyalitasnya. Dia merupakan Menteri Sekretaris Negara terlama, sudah mendampingi Soeharto sejak masa awal berkuasa. Sebagai Ketua Umum Golkar, dia juga sukses besar. Pada Pemilihan Umum 1987, Golkar berhasil menyapu 73 persen suara. “Dalam pikiran saya, Pak Umar Wirahadikusumah dapat dipilih kembali jika Pak Harto, yang menurut perhitungan dan suasananya pasti dipilih kembali sebagai Presiden, menghendakinya,” Sudharmono, seperti dikutip dalam otobiografinya, Pengalaman Dalam Masa Pengabdian, menuturkan. Saya usulkan, gelundungkan saja nama Try sebagai calon Wakil Presiden. Umar yang menggantikan Adam Malik pada 1983 memang belum seberapa tua. Saat itu Umar baru 64 tahun. Meski sempat menduduki sejumlah jabatan strategis di militer, menurut sejumlah sumber, Umar bukan jenderal yang suka berpolitik dan ambisius. Sebelum Sidang Umum MPR memilihnya sebagai Wakil Presiden mendampingi Soeharto pada 1983, nama Umar sebenarnya nyaris tak terdengar di Gedung MPR. Nama Umar, konon baru muncul saat tiga fraksi ‘penyokong pemerintah’ ; Fraksi Karya Pembangunan (FKP), Fraksi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), dan Fraksi Utusan Daerah, berkonsultasi dengan Presiden Soeharto. Bisa jadi, dari kantong Soeharto sendiri nama Umar muncul. Presiden Soeharto sudah lama kenal Umar. Ketika Soeharto menumpas Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965, Umar yang menjabat Panglima Kodam Jaya banyak membantunya. Jenderal Umar pula yang menggantikan Soeharto sebagai Panglima Kostrad. Umar tak ambisius dan tak banyak bicara. “Kalau diminta dan Pak Harto menganggap saya dapat bekerjasama dengan beliau, saya bersedia,” kata Umar kepada wartawan kala itu. Hal itu pula yang konon membuat Soeharto merasa ‘aman dan nyaman’ dengan Umar. Kalau ABRI tidak setuju dan punya calon lain, saya lebih baik menarik diri dari pencalonan. Saya tidak mau berkonfrontasi dengan ABRI…bersambung
Reporter/Penulis: Melisa Mailoa, Editor: Sapto Pradityo
Sumber: detiX.com

Berita ini sudah dilihat 60 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 18
  • Page views today : 21
  • Total visitors : 545,217
  • Total page view: 1,130,336