Connect with us
Update Now

Investigasi

Politik Soft Demokrat, Agar Tak Bernasib Seperti Golkar dan PPP?

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 99,189 kali

Investigasi – Masih banyak pertanyaan, kenapa Partai Demokrat tak dilirik Jokowi tapi justru seteru politiknya, yakni Partai Gerindra yang dilirik, padahal Ketumnya mantan Presiden RI ke 6, bahkan sudah pernah segala diundang ke di Istana Negara. Namun, kalau orang tahu sejarahnya, tentu maklum, ada orang-orang tertentu yang masih sakit hati dengan Susilo Bambang Yudhoyono ini, khususnya kala dia terpilih sebagai Presiden RI dua periode 2004 dan 2009 silam. SBY pernah secara blak-blakan bilang, susahnya ketemu Presiden Jokowi, bukan karena factor kesibukan Jokowi, tapi ada oknum dilingkaran Istana yang sengaja menghalangi pertemuan tersebut. Siapa yang memerintah hal tersebut, semua pasti sudah tau siapa orangnya. Bahkan ssebelum Munas PD ke III Tahun 2015 di Surabaya, SBY secara terus terang minta, agar pemerintah dalam hal ini Jokowi, jangan mengganggu Partai Demokrat, seperti yang menimpa Partai Golkar dan PPP. Tentu sangat memalukan, Partai Demokrat yang pernah jadi jawara dan mengantar dua kali kadernya jadi Presiden RI, hancur-hancuran karena di obok-obok dari dalam dan dipengaruhi dari luar. Demi menyelamatkan parpolnya, SBY dan Demokrat ‘terpaksa’ tak melawan secara terang-terangan (oposisi) dengan pemerintahan Jokowi dan disokong penuh oleh PDIP. Ringkasnya, pertemuan demi pertemuan yang dilakukan SBY dengan Jokowi dan SBY juga memerintahkan kadernya untuk tidak bersikap keras terhadap jalannya pemerintahan Jokowi, tak lain dan tak bukan demi kejayaan Partai Demokrat. Padahal sebagai Presiden RI yang memerintah selama 10 tahun, SBY hapal betul titik lemah pemerintahan Jokowi saat ini, sangat gampang bikin statemen menjatuhkan pemerintahan Jokowi. Partai Demokrat di awal-awal diprediksi bakal masuk koalisi pemerintahan Joko Widodo dan Maruf Amin. Salah satu kader Demokrat yang digadang-gadang jadi menteri adalah putra mahkota Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Tetapi, saat Presiden Jokowi mengumumkan 38 menteri dan pejabat setingkat menteri Kabinet Indonesia Maju, Rabu pagi (23/10), tidak ada nama AHY dan kader Demokrat yang disebut. Pemerhati politik yang juga Direktur Mahara Leadership, Iwel Sastra mengatakan, awalnya memang Demokrat diprediksi bakal masuk koalisi Jokowi-Maruf. “Setelah Pilpres 2019 justru yang terlihat mendekat dan didekati adalah Partai Demokrat. Namun pasca pertemuan Jokowi dan Prabowo di MRT, komunikasi Jokowi dan Demokrat nyaris tak terdengar lagi,” ungkap dia kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (23/10).Meski demikian, Iwel menilai sudah tepat partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu berada di luar pemerintahan. Dengan harapan, Demokrat bisa berbenah untuk menatap agenda-agenda politik di masa mendatang. “Ambil hikmahnya, sebenarnya sangat bagus jika Demokrat di luar, bisa membenahi partai sambil menarik lagi simpati publik yang berujung naiknya suara Demokrat pada Pemilu 2024,” tutupnya.
Sumber: RMOL.id dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 32 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 65 = 72

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 184
  • Page views today : 207
  • Total visitors : 527,921
  • Total page view: 1,111,281