Connect with us
Update Now

Dunia

Peta Perang Mulai Terbagi Bagian 3 : Posisi Arab Saudi Sekutu Dekat AS di Timur Tengah, Justru Israel yang Ambil Untung

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 422,378 kali

Dunia – Kurang ajarnya negeri Zionis Israel, atau bisa jadi jenius pintar memanfaatkan moment, hubungan mesra antara negara Arab dengan AS justru dimanfaatkannya untuk meminta dukungan atas pendudukan negeri Palestina. Arab Saudi dikenal tak akur dengan Iran. Berbanding terbalik dengan hubungan Arab Saudi dan Amerika Serikat yang semakin akur. Konflik Iran dan Arab Saudi terjadi sejak 1979, saat itu penguasa Arab Saudi terperanjat menyaksikan Raja Shah Mohammed Reza Pahlevi digulingkan ulama Muslim Syiah. Atas kekalahan itu, Iran menyatakan Revolusi Islam mereka. Karena ‘ngambek’ dengan Iran, Saudi kemudian mendukung Irak dalam perang Iran-Irak pada 1980-1988. Warga Iran protes, sebab Saudi membolehkan Irak menggunakan senjata kimia. Hubungan diplomatik kedua negara ini terus memburuk dan hampir mencapai puncaknya pada 1987. Kala itu, 275 orang Iran tewas dalam bentrokan di Tanah Suci, Makkah dari total korban 402 jemaah. Berbeda dengan Iran, Arab Saudi kerap melakukan kerjasama dengan Amerika Serikat. Pada Maret 2019, Pemerintahan Presiden AS Donald Trump diam-diam mengejar kesepakatan yang lebih luas tentang teknologi nuklir antara negaranya dan Arab Saudi, dengan tujuan membangun setidaknya dua pembangkit listrik tenaga nuklir. Pangkalan militer Amerika Serikat tersebar di Timur Tengah, yakni Afganistan, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, Suriah dan Turki. Terdapat 55 ribu personel yang tersebar di berbagai pangkalan militer AS di Timur Tengah. Jumlah pasukan AS terbanyak berada di Kuwait, yakni sebesar 13 ribu personel. Kemudian di Afghanistan, pasukan militer AS sebanyak 12 ribu personel, di Turki sebanyak 1,700 personel, Suriah sebanyak 500 sampai 1,000 personel, Qatar 10 ribu personel dan Irak sebanyak 5 ribu personel. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengklaim negaranya dipandang sebagai sekutu penting bagi negara-negara Arab. Khususnya dalam memerangi Iran dan ISIS. Ini disampaikan Netanyahu saat diwawancara Globo TV dalam kunjungannya ke Rio de Janeiro, Brazil, Senin (31/12/2018) lalu. Atas penilaian negara-negara Arab itu, Netanyahu mengatakan telah terjadi revolusi dalam hubungan Israel dengan negara Arab. Komentar itu muncul ketika Israel meningkatkan serangan udara pada posisi Iran di Suriah. Netanyahu juga mengaku telah berulang kali memperingatkan bahwa Iran tengah berusaha mengembangkan senjata nuklir untuk menghancurkan negaranya. Israel, kata Netanyahu, telah menunjukkan diri untuk aktif memerangi kelompok garis keras. “Islam radikal, Islam yang keras, baik yang dipimpin oleh Syiah radikal yang dipimpin oleh Iran, atau yang dipimpin oleh Sunni radikal yang dipimpin oleh Daesh (ISIS) dan Al Qaeda,” kata dia seperti dilansir dari AFP. “Sayangnya kami belum membuat kemajuan dengan Palestina. Setengah dari mereka sudah berada di bawah senjata Iran dan pengaruh Islam radikal,” tambahnya.
Sumber: merdeka.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 83 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup