Connect with us
Update Now

Balangan

Pesta Adat Mesiwah Pare Gumboh Tetap Digelar Tapi Sederhana

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 99,815 kali

Gubernur Kalsel saat hadiri pesta adat Mesiwah Pare Gumboh tahun ini tetap digelar tapi sederhana (dok, berita kalimantan)

BêBASbaru.com, BALANGAN – Berlangsung selama tiga hari, pesta panen tahunan di Desa Liyu Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalsel kali ini digelar sederhana. Pada tahun sebelumnya, pesta pengen yang disebut sebagai Mesiwah Pare Gumboh diadakan dalam bentuk festival. Namun karena masih pandemi Covid 19, festivalnya pun ditiadakan, hanya gelaran ritual adat. Meski begitu ujar Kepala Desa Liyu, Sukri, perayaan pesta panen kali ini tidak mengurangi maknanya sedikitpun. “Walau dilaksanakan secara sederhana, tapi sama sekali tidak mengurangi nilai dan makna dari ritual yang berlangsung,” ucap Sukri. Lebih lanjut paparnya, sempat ada dilema dan rembukan yang alot dengan panitia untuk penyelenggaraannya. Akhirnya diputuskan pelaksanaan Mesiwah Pare Gumboh digelar wajib dengan cara mentaati protokol kesehatan Covid 19 yang berlaku. Panitia juga menyediakan tempat pencucian tangan di depan lokasi balai adat yang digunakan untuk acara. Selain itu ada pemeriksaan suhu badan serta kewajiban penggunaan masker saat berada di dalam area acara. Mesiwah Pare Gumboh ujar Sukri diadakan setiap tahunnya dan selalu di Bulan Juli apapun kondisinya.

Ritual mesiwah pare gumboh (dok, tribunnews)

Tak kalah penting, pelaksanaan Mesiwah Pare Gumboh yang merupakan pesta panen tersebut adalah rasa syukur dari Suku Dayak Deyah atas hasil panen yang didapat. Sebelumnya jelas Sukri, Mesiwah Pare Gumboh hanya digelar per individu atau keluarga. Lantas dua tahun belakangan, sudah digelar secara bersamaan. Kata Gumboh pada Mesiwah Pare Gumboh adalah makna yang artinya “bersama-sama”. Mesiwah Pare Gumboh berlangsung selama tiga hari. Sejak tanggal 24 sampai 27 Juli 2020. Setiap harinya ada agenda atau ritual yang dilaksanakan. Beberapa ritual inti pada Mesiwah Pare Gumboh yakni tolak bala, manopeng, balian dan pantangan. Ketiga ritual tersebut merupakan bagian paling penting dan dilaksanakan saat pesta panen berlangsung. Sukri menerangkan, tolak bala yang digelar adalah bentuk doa agar seluruh masyarakat terhindar dari bala bencana. Selain itu agar Covid 19 saat ini segera berakhir. Ritual berlanjut dengan kegiatan manopeng yang maknanya sebagai bentuk syukur atas rejeki kesehatan yang didapat selama satu tahun belakangan. Sehingga bisa bekerja secara sehat dan tenang. “Rangkaian lainnya ialah balian. Ini dimaknai sebagai bentuk syukur atas hasil panen, kesehatan dan rejeki yang diperoleh,” jelas Sukri. Sementara ritual pantangan dilakukan pada hari ketiga. Dimana ada beberapa hal yang tidak boleh diperbuat pada hari itu. Di antaranya larangan memetik dedaunan atau tumbuhan hidup. Itu dipercaya sebagai tanggung jawab manusia terhadap alam. Pantangan lainnya adalah dilarang membunuh hewan bahkan mengambil ikan di sungai. Selain itu adanya larangan rambut tergerai saat mandi keramas di sungai bagi perempuan. Terlepas dari ritual dan rangkaian yang mengisi Mesiwah Pare Gumboh 2020, Sukri berharap masyarakat di Desa Liyu, umumnya di Balangan bahkan dunia selalu diberi kesehatan dan dimudahkan serta diberi ketenangan dalam usaha. Harapnya pula, pelaksanaan tahun depan bisa dilangsungkan secara meriah apabila Covid 19 telah berakhir.

sumber : banjarmasinpost.co.id dan berbagai sumber (dengan judul: Mesiwah Pare Gumboh Digelar Sederhana, Tak Hilangkan Nilai dan Makna Ritual)

Berita ini sudah dilihat 117 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 320
  • Page views today : 356
  • Total visitors : 528,057
  • Total page view: 1,111,430