Connect with us
Update Now

Hulu Sungai Utara

Pengrajin Purun Tunggu Bantuan Pemda HSU Untuk Bantu Mesin Tumbuk yang Baru

Diterbitkan

pada

Pengrajin purun di HSU (dok, tribunnews)

BêBASbaru.com, HULU SUNGAI UTARA – Warga Desa Harusan Telaga di Kecamatan Amuntai Selatan Kabupaten Hulu Sungai Utara, banyak terdapat pengrajin purun. Kebanyak produknya berupa topi, tikar purun dan tas purun. Ernawati salah satu warga Desa Harusan Telaga Kecamatan Amuntai Selatan Kabupaten HSU, mengatakan dirinya turun sudah puluhan tahun karena sejak dari kakek nenek juga merupakan seorang pengrajin. Purun biasanya didapat dari pedagang yang menjajakan turun melalui transportasi air menggunakan kapal motor. Rumahnya yang tak jauh dari aliran sungai membuatnya sangat mudah untuk membeli bahan utama dari pembuatan kerajinan tersebut. Untuk satu ikat purun harganya Rp 9 ribu untuk kualitas yang kering sedangkan jika basah seharga Rp 4 ribu. Satu ikat atau satu dapung purun bisa digunakan untuk membuat satu kodi itu topi purun atau satu lembar tikar purun. Ernawati menjelaskan proses pembuatan kerajinan yaitu pertama dengan cara menjemur agar tidak memiliki kadar air.  Jika membeli purun dalam kondisi basah penjemuran purun biasanya dilakukan antara 4 hingga 5 hari tergantung dari cuaca. Setelah benar-benar kering turun akan diwarnai dengan pewarna khusus yang kemudian kembali dijemur agar warna lebih ih merasuk dan menempel pada kurun proses penjemuran dilakukan sekitar 2 hari. Dilanjutkan dengan proses penumbukan, sayangnya saat ini mesin tumbuk yang dimiliki oleh desa harusan Telaga Kondisinya sudah memprihatinkan. Mesin tumbuk ini berasal dari hibah Desa tetangga yaitu dari Telaga silaba.  Sudah sekitar 3 tahun para pengrajin menggunakan mesin tumbuk ini dan sudah beberapa kali juga mengalami kerusakan dan dilakukan perbaikan secara sederhana. Saat mesin dinyalakan terkadang alat ini terlihat akan roboh bahkan beberapa bagian di bagian atas juga pernah terjatuh yang mengenai para pengrajin saat berada di bawahnya. “Hasil penumbukan juga kurang maksimal karena kayu yang digunakan pada mesin tersebut sudah mulai lapuk,” ujarnya.  Ernawati berharap desanya bisa mendapatkan mesin penumbuk turun baru karena mesin ini digunakan oleh sekitar 50 pengrajin yang ada di desa harusan Telaga. Dalam setiap 1 minggu Ernawati bersama dengan beberapa pengrajin lain biasanya menghasilkan 2 kodi topi purun yang dijual ke tengkulak dengan harga bervariasi antara Rp 55 ribu hingga Rp 75 ribu per kodi. Pada saat musim penghujan warga tidak bisa bertani sehingga waktu untuk membuat kerajinan ini dilakukan setiap hari dan pada saat musim kemarau warga khususnya ibu rumah tangga. Biasanya pada pagi hari ikut membantu ke sawah dan membuat kerajinan dilakukan pada siang hingga sore hari. “Tidak bisa meninggalkan kerajinan ini karena sudah menjadi pekerjaan utama, jika tidak menganyam purun maka tidak mendapatkan penghasilan,” ujarnya. Ernawati juga memiliki kelompok kerajinan yang juga sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah berupa pinjaman modal yaitu untuk membeli bahan baku purun yang memang tidak di dijual dijual sepanjang waktu.  Mereka juga pernah mendapatkan beberapa pelatihan untuk meningkatkan kualitas kerajinan mereka dan lebih berinovasi salah satunya dengan membuat tas dari purun.

Sumber: Banjarmasinpost.co.id dan berbagai sumber

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

SPACE IKLAN

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 113
  • Page views today : 133
  • Total visitors : 505,005
  • Total page view: 1,082,794