Connect with us
Update Now

Barito Kuala

Peneliti ULM Turun Tangan Bantu Petani, Terapkan Model Paludikultur Tanam Sawit

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 465,119 kali

Mahasiswa ULM turun tangan bantu petani sawit di Batola (dok, LPPM-Bpost)

BêBASbaru.com, BATOLA – Perkebunan kelapa sawit rakyat di lahan gambut atau bergambut yang memasuki usia tidak produktif sudah harus melakukan peremajaan. Namun, sebagian petani tidak melaksanakan peremajaan disebabkan keterbatasan modal yang dimiliki dan kekhawatiran akan kehilangan pendapatan dalam kegiatan peremajaan.

Di lain sisi, kegiatan peremajaan kelapa sawit di lahan gambut/bergambut dihadapkan pada permasalahan kerusakan ekosistem jika tidak memperhatikan fungsi utama lahan gambut sebagai sumber karbon dan penyimpan air.

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) telah menyalurkan bantuan dana hibah melalui program peremajaan sawit rakyat. Paludikultur adalah cara budidaya di lahan rawa (gambut) dengan prinsip utama memperlambat proses dekomposisi dan menghasilkan bahan organik (biomassa) untuk mencegah kerusakan lahan gambut, melalui tiga aspek utama yaitu rewetting, revegetation dan Revitalisation.

Penerapan sistem paludikultur saat peremajaan sawit dengan sistem multiple cropping dengan tanaman semusim menjadi alternatif pendapatan selama awal pertumbuhan sawit.

BPDPKS bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat (LPPM ULM) yang terdiri dari para peneliti dari Fakultas Pertanian ULM Banjabaru yakni, Dr Ir Fakhrur Razie, MSi, Dr Yudi Ferrianta SP MP dan Rifiana SP MP melakukan penelitian ini di Desa Sawahan Kecamatan Cerbon Barito Kuala.

“Penelitian ini bertujuan mengkaji model pengelolaan tanaman sawit saat peremajaan di lahan gambut/bergambut di Kalimantan Selatan, untuk membangun model peremajaan kelapa sawit dan optimalisasi peremajaan kelapa sawit dengan sistem paludikultur, serta kajian untuk merumuskan strategi penguatan peran kelembagaan petani,” ujar Ketua Peneliti, Dr Ir Fakhrur Razie MSi.

Dikatakannya, sistem multiple cropping diadopsikan pada areal peremajaan sawit sistem paludikultur yang dilaksanakan ini dapat menjadi satu di antara rekomendasi dalam rangka meningkatkan pendapatan dan menjaga kontinuitas pendapatan petani sawit terutama pada saat awal peremajaan sawit.

erdasarkan analisis optimalisasi pola tanam sayuran menggunakan metode linear programming menghasilkan pola tanam optimalisasi petani sayuran adalah komoditas kacang panjang, mentimun dan labu madu. Sedangkan untuk tanaman lainnya ditetapkan adalah tanaman padi, cabe serta serai wangi dan purun danau.

Diakuinya, lahan bergambut dengan status kesuburan tanah rendah dan memiliki kesesuaian lahan dari semua sayuran terpilih termasuk kelas kesesuaian marginal (S3) dengan faktor penghambat retensi hara (KTK, KB dan pH rendah), genangan air dan curah hujan, sehingga upaya pengelolaan yang diterapkan dengan pembuatan surjan, pengaturan tata air, pemberian bahan organik dan pengapuran.

Kemudian, ujarnya, model peremajaan kelapa sawit rakyat sistem paludikultur dicirikan dengan pengembalian biomassa bagian atas sawit setara dengan 10 ton kompos/hektare, dan pengembalian biomassa dari kegiatan pertanian tanaman semusim dari sistem multiple cropping, serta pengaturan tata air sehingga kedalaman muka air tanah 40 cm.

“Pengembalian biomassa yang dikomposkan dan pengapuran telah meningkatkan status kesuburan tanah menjadi tergolong sedang dengan pH tanah tergolong masam hingga agak masam (4,59-6,06) jika sebelumnya lahan tersebut berstatus kesuburan rendah, sangat masam hingga masam (3,65-4,69),” ujarnya.

Produktivitas lahan untuk tanaman sayuran yang diusahakan adalah 8,54 ton kacang panjang/hektare/tahun; 9,3 ton timun/hektare/tahun dan 4,8 ton labu/hektare/tahun. Biomassa kacang panjang, timun dan labu yang dapat dikembalikan ke dalam tanah secara berurutan dihasilkan 9,41; 4,12 dan 2,53 ton/hektare/tahun.

Berdasarkan analisis usahatani pada tanaman sayur yang di tanam menunjukkan bahwa tanaman sayuran yang paling menguntungkan adalah tanaman labu madu yakni dengan nilai keuntungan labu madu sebesar Rp 5.881.667/hektare per periode tanam.

Sedangkan keuntungan kacang panjang dan timun masing-masing sebesar Rp 5.305.000/hektare per periode tanam dan Rp 3.775.000/hektare per periode tanam.  Strategi penguatan peran kelembagaan petani menggunakan dasar hasil analisis Structural Equational Modeling/SEM.

Dikatakan Fakhrur, hasil penelitian menunjukkan pentingnya penguatan peran kelembagaan petani dalam meningkatkan kapabilitas petani dalam menerapkan inovasi paludikultur melalui peran internal dan kelembagaan eksternal.  Strategi peningkatan kapabilitas inovasi model pengelolaan tanaman sawit saat peremajaan dengan sistem paludikultur, dilakukan melalui empat pendekatan.

“Pendekatan itu di antaranya, perbaikan terhadap kelembagaan kelompok tani, perbaikan terhadap karakteristik perilaku penerima inovasi (individu petani), perbaikan terhadap kualitas informasi dan memaksimalkan interaksi sosial baik melalui sosialisasi, dialog, koordinasi dan partisipasi antar petani, maupun Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian dan pemerintah dapat mengambil peran sebagai mitra dan sumber informasi,” kata staf pengajar Fakultas Pertanian ULM Banjarbaru ini.

Sumber: banjarmasinpost.co.id dan berbagai sumber (dengan judul: Remajakan Kebun Sawit di Sawahan Batola, Peneliti ULM Terapkan Model Paludikultur)

Berita ini sudah dilihat 415 kali