Connect with us
Update Now

Investigasi

Penderitaan Etnis Uighur Berawal Dari Ingin Merdeka Karena Dilarang Beribadah Sampai Jomplang Secara Ekonomi

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 216,415 kali

Penangkapan Muslim di Propinsi Xinjiang-Uighur sering dilakukan tentara Tiongkok (dok, google.com)


Investigasi – Bangsa Tiongkok awalnya bukanlah berpaham komunis, namun berbentuk kekaisaran yang silih berganti menguasai Cina daratan selama ratusan abad. Silih bergantinya Kaisar yang berkuasa, ditambah intrik berdarah sekaligus pemberontakan lalu, berganti-ganti kaisar membuat Tiongkok memutuskan menjadi negara Republik namun berpaham sosialis komunis. Gerakan mendirikan Republik dimulai kala Jepang menginvasi Tiongkok Tahun 1930 hingga 1940 an, rakyat Tiongkok marah dengan kekaisaran yang dianggap lemah dan malah berpihak kepada Jepang. Pemberontakan terhadap kekaisaran yang dipelopori Mao Zedong bersama jutaan rakyat Tiongkok membuat kekaisaran akhirnya rontok, Kaisar terakhir Tiongkok yakni Pu Yi dari etnis Mancu (padahal Tiongkok dominan ber etnis Han), ditangkap dan malah dicopot tahtanya, harta kekaisaran di sita untuk negara yang baru, bersamaan dengan bangkitnya rakyat Tiongkok melawan pendudukan Jepang. Negara ini resmi didirikan pada tahun 1949 setelah berakhirnya Perang Saudara Tiongkok, dan sejak saat itu dipimpin oleh sebuah partai tunggal, yaitu Partai Komunis Tiongkok (PKT). Sekalipun seringkali dilihat sebagai negara komunis, kebanyakan ekonomi republik ini telah diswastakan sejak tahun 1980-an. Bagaimanapun, pemerintah masih mengawasi ekonominya secara politik terutama dengan perusahaan-perusahaan milik pemerintah dan sektor perbankan. Sejak berdiri hingga kini, Tiongkok mengharamkan partai lain selain Komunis di sana, bahkan saat ada gerakan Mahasiswa yang ingin perubahan di Tiongkok Tahun 1989, ratusan mahasiswa malah di gilas pakai tank tentara Tiongkok sampai mati, di lapangan Tiananmen. Tindakan refresif itu membuat banyak tokoh-tokoh reformis Tiongkok terpaksa kabur ke luar negari hingga kini. Karena berpaham komunis, negara Republik Tiongkok pun tentunya tidak begitu memperdulikan soal agama, walaupun di Tiongkok sendiri yang mayoritas ber suku Han, agamanya adalah Budha, tapi agama lain pun berkembang cukup pesat di sana, seperti Nasrani, Islam dan juga Hindu. Namun, khusus rakyat nya yang beragama Islam terutama yang ber etnis Uighur, salah satu propinsi yang kaya dengan sumber daya alam nya, penguasa Tiongkok selalu mencurigai kalau agama ini akan mengganggu kedaulatan RRT, sejak dulu hingga saat ini, etnis Uighur selalu ditangkapi, dicurigai serta disiksa dan seolah ditasbihkan sebagai kaum pemberontak oleh penguasa komunis RRT.


Cerita kesengsaraan yang dialami muslim Uighur kembali membuka mata dunia. Dalam sebuah laporan The Associated Press (AP) pada Selasa (18/12/2018), mengungkapkan, China mulai melengkapi penjara bagi minoritas etnis muslim Uighur yang disebut kamp interniran atau konsentrasi oleh korban dengan pusat manufaktur. Ap menelusuri, di kamp interniran mereka dipaksa untuk memproduksi pakaian-pakaian dengan bayaran rendah. Pakaian-pakaian hasil kerja paksa Muslim Uighur di kamp Xinjiang, barat China ini disebut diekspor ke perusahaan di Amerika Serikat. Bagaimana kesengsaraan muslim Uighur di kamp interniran ini sebelumnya pernah diungkapkan oleh salah seorang perempuan Uighur, Mihrigul Tursun, pada November 2018 lalu. Melansir japantimes.co, Tursun menjelaskan penyiksaan dan penganiayaan yang ia alami di salah satu kamp interniran di mana pemerintah China telah menahan ratusan muslim Uighur. Berbicara kepada wartawan di Washington, Tursun mengatakan dirinya diinterogasi selama empat hari berturut-turut tanpa tidur. Rambutnya pun dicukur dan menjadi sasaran pemeriksaan medis yang mengganggu setelah penahanan kali keduanya di Tiongkok pada tahun 2017. Setelah ia ditahan untuk yang ketiga kali, apa yang didapatkannya semakin memburuk. “Saya pikir saya lebih baik mati daripada mendapat penyiksaan ini dan memohon mereka untuk membunuh saya,” kata Tursun (29) kepada wartawan pada pertemuan di National Press Club. Dibesarkan di China, Tursun pindah ke Mesir untuk belajar bahasa Inggris disebuah universitas. Ia juga bertemu dengan pria yang akhirnya menjadi suaminya dan memiliki tiga anak kembar. Tetapi pada tahun 2015 saat ia kembali ke Tiongkok untuk bertemu dengan keluarganya, Tursun ditahan dan dipisahkan dengan anak-anaknya yang masih bayi. Ketika Tursun dibebaskan tiga bulan kemudian, salah satu dari anak kembarnya meninggal dunia karena masalah kesehatan. Tursun kembali ditangkap dua tahun kemudian di tahun 2017. Beberapa bulan kemudian, Tursun kembali ditahan untuk ketiga kalinya dan menghabiskan tiga bulan di sebuah sel yang penuh sesak dengan 60 perempuan Uighur lainnya. Mereka harus tidur secara bergantian, menggunakan toilet dengan diawasi kamera pengamanan, dan menyanyikan lagu-lagu yang memuji Partai Komunis China. Tursun juga mengatakan, ia dan perempuan tahanan lain dipaksa meninum obat yang tidak diketahui.

Potret tahanan kaum Uighur (dok, google.com)


Sejarah Bangsa Uighur
Otoritas di Tiongkok atau China melarang kelompok minoritas Muslim Uighur mengenakan jilbab atau memelihara janggut. Aturan baru tersebut menambah sederet tindakan represif Pemerintah Beijing terhadap etnis Turk tersebut. Siapa sebenarnya Bangsa Uighur ini? Uighur adalah etnis minoritas di China yang secara kultural merasa lebih dekat terhadap bangsa Turk di Asia Tengah, ketimbang mayoritas bangsa Han. Kendati ditetapkan sebagai daerah otonomi, Xinjiang tidak benar-benar bebas dari cengkraman partai Komunis. Baru-baru ini Beijing mengeluarkan aturan baru yang melarang warga muslim Uighur melakukan ibadah atau mengenakan pakaian keagamaan di depan umum. Larangan tersebut antara lain mengatur batas usia remaja untuk bisa memasuki masjid menjadi 18 tahun dan kewajiban pemuka agama untuk melaporkan naskah pidatonya sebelum dibacakan di depan umum. Selain itu upacara pernikahan atau pemakaman yang menggunakan unsur agama Islam dipandang “sebagai gejala radikalisme agama.” Keberadaan bangsa Uighur di Xinjiang dicatat oleh sejarah sejak berabad-abad silam. Pada awal abad ke-20 etnis bangsa ini mendeklarasikan kemerdekaan mereka dengan nama Turkestan Timur. Namun pada tahun 1949, Mao Zedong menyeret Xinjiang ke dalam kekuasaan penuh Beijing. Sejak saat itu hubungan China dengan etnis minoritasnya itu diwarnai kecurigaan, terutama terhadap gerakan separatisme dan terorisme. Salah satu cara Beijing mengontrol daerah terluarnya itu adalah dengan mendorong imigrasi massal bangsa Han ke Xinjiang. Pada 1949 jumlah populasi Han di Xinjiang hanya berkisar enam persen dari total penduduk China. Di tahun 2010, jumlahnya sudah berlipatganda menjadi 40 persen. Di utara Xinjiang yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, bangsa Uighur bahkan menjadi minoritas. Sebenarnya, bangsa Uighur bukan etnis muslim terbesar di China, melainkan bangsa Hui. Berbeda dengan Uighur, bangsa Hui lebih dekat dengan mayoritas Han secara kultural dan linguistik. Di antara etnis muslim China yang lain, bangsa Hui juga merupakan yang paling banyak menikmati kebebasan sipil, seperti membangun mesjid atau mendapat dana negara buat membangun sekolah agama. Salah satu kelompok yang paling aktif memperjuangkan kemerdekaan Xinjiang adalah Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM). Kelompok lain yang lebih ganas adalah Partai Islam Turkestan yang dituding bertalian erat dengan Al-Qaida, dan bertanggungjawab atas serangkaian serangan bom di ruang publik di Xinjiang. Xinjiang adalah provinsi terbesar di China dan menyimpan sumber daya alam tak terhingga. Tidak heran jika Beijing memusatkan perhatian pada kawasan yang dilalui jalur sutera itu. Sejak beberapa tahun dana investasi bernilai ratusan triliun Rupiah mengalir ke Xinjiang. Namun kemakmuran tersebut lebih banyak dinikmati bangsa Han ketimbang etnis lokal. Laporan BBC mengungkap, akar ketegangan antara bangsa Uighur dan etnis Han bersumber pada faktor ekonomi dan kultural. Perkembangan pesat di Xinjiang turut menjaring kaum berpendidikan dari seluruh China. Akibatnya, etnis Han secara umum mendapat pekerjaan yang lebih baik dan mampu hidup lebih mapan. Ketimpangan tersebut memperparah sikap anti China di kalangan etnis Uighur.
Sumber: Tribunnews.com dan Kompas.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 52 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 189
  • Page views today : 204
  • Total visitors : 544,100
  • Total page view: 1,129,098