Connect with us
Update Now

Lensa

Pemimpin Bukan Pendendam…Walaupun Dulu Sahabat, Tapi Politik Bisa Merubah Jadi Lawan Politik

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 113,789 kali

Lensa – Pembaca mungkin tahu bagaimana mantan Presiden HM Soeharto dianggap sangat refresif kala berkuasa, dengan UU Subversif, lawan-lawan politiknya dipenjarakan, padahal mereka juga dulu kawan seperjuangan, tapi berbeda pandangan politik. Malah saat Gus Dur jadi Ketum PBNU dan sering kritik Soeharto, kaki tangan penguasa selalu mengganggu Gus Dur sampai ingin membunuhnya. Yang paling parah adalah terjadinya dualisme kepemimpinan di PBNU, setelah pemerintah menolak Gus Dur yang terpilih kembali di Muktamar Tahun 1984, pemerintah pun bikin PBNU tandingan, dengan Abu Hasan sebaga Ketum nya. Tapi saat Gus Dur jadi Presiden, ga sampai sebulan menjabat, Gus Dur malah mengunjungi Soeharto di Cendana. Malah sampai 2x Gus Dur berkunjung, secara blak-blakan Gus dur bilang, mereka ber haha hihi dan bercanda ria dan dendam masalalu terhapus semuanya. Namun semua sepakat, tak ada rasa dendam kepada orang yang berlawanan. Termasuk mantan Presiden Ir Soekarno, yang menangis kala meneken surat persetujuan hukuman mati kepada pemimpin DI TII Kartosuwiryo, yang dituding makar kepada pemerintahannya. Soekarno menangis karena Kartosuwiryo yang sudah kurus dan sepuh merupakan kawan seperjuangan kala melawan penjajah Belanda. Tapi luar biasa teguh dengan pendirian dan ingin mendirikan negara dengan Khilafah Islam murni serta tak setuju dengan ideologi bangsa, yakni Pancasila. Tapi dendamkah mereka, konon Kartosuwiryo tak pernah menyatakan rasa dendamnya ke Soekarno. Dia menerima hukuman mati dengan lapang dada, karena UU negara sudah menyatakan, berani makar maka hukuman mati menanti. Mereka layak di sebut sebagai teladan bagi siapa saja. Penulis akan mengambil contoh dari tokoh muslim seperti Kasman Singodimedjo, Buya Hamka, dan M. Natsir.

Kasman Singodimedjo (Tokoh Muhamadiyah)

H. Gazali Syahlan dalam buku “Hidup itu Berjuang: Kasman Singodimedjo 75 Tahun” (1982: 301, 302) mengambil dengan sangat baik bagaimana cara berpakaian Kasman bukan pemimpin pendendam. Kadang-kadang ada konflik sengit terjadi dengan orang yang berseberangan dengan dia, namun terkait masalah itu sampai membuat dendam. Gazali yang sering dilihat menyaksikannya-diambil sengit Kasman; misalnya dengan rekan-rekannya di Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Suatu hari nanti akan ada yang menolak persetujuannya. Sambil membuka meja, beliau menimpali, “Silakan keluar!” Tanpa ba bi, penentangnya pun keluar –naik pitam– pulang di luar sidang. Mungkin sebagian besar mengira, konflik tersebut akan membuat keretakan hubungan antar pemimpin. Nyatanya tidak. Pada pertemuan berikutnya, H. Gazali mendapati dia dengan penentangnya tetap rapat, saling salaman dan penuh kehangatan. Seolah-olah tidak ada pertentangan sebelumnya.

Buya Hamka (Tokoh Politik dan Agama)

Haji Abdul Karim Amrullah atau biasa dikenal Hamka tidak kalah menarik sebagai contoh pemimpin yang bukan pendendam. Dalam sejarah, dia pernah berkonflik cukup tajam dengan Soekarno, Moh. Yamin, dan Pramoedya Ananta Toer. Irfan Hamka dalam buku “Ayah” (2016: 253-263) Pada tahun 1964-1966 —selama dua tahun empat bulan — beliau dipenjara oleh rezim Soekarno atas peraturan miring subversif. Selama masa itu jelaslah, Hamka dan keluarga semakin sulit untuk hidup. Tapi menantang! Apakah beliau dendam? Tidak. Pada tanggal 16 Juni 1970 dia malah meluluskan wasiat Soekarno yang ingin Hamka menjadi imam shalat jenazahnya. Demikian juga M. Yamin. Karena perbedaan pandangan di konstituante, membuatnya sangat benci Hamka. Hal itu tampak kompilasi dalam pertemuan. Menurut penghargaan Hamka, kebenciannya bukan hanya terlihat kompilasi dalam pertemuan, namun nuraninya pun juga benci. Apa Hamka dendam? Sama sekali tidak. Malah, beliau mendampingi jenazah Yamin hingga ke liang lahat, di kampung halamannya, menerima permintaan Yamin yang dikirimkan Chaerul Saleh ke Hamka. Tak kalah sengit adalah Pramoedya yang begitu kalah dengan Hamka. Bahkan Buya sering dijelek-jelekkan di media cetak, sebelum pada saat meminta penjiplakan. Karyanya berjudul “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk” dituduh menjiplak. Citra Hamka dihabisi di ranah publik. Apa beliau dendam? Tentu tidak. Malah, kompilasi putri dan calon menantu Pram ingin belajar agama ke Hamka, diundang dengan baik oleh beliau.

Moh. Natsir (Tokoh Politik, Pers dua jaman)

Buya Natsir –baik di akhir Orde Baru maupu Orde Lama — disiapkan ruang geraknya, tidak pernah menyimpan dendam. Jauh sebelum kemerdekaan, bagaimanapun juga terlibat di media cetak, tidak ada yang muncul bagi Soekarno. Malah menurut cerita mantan Menteri Penerangan ini dalam buku “Percakapan Antar Generasi Pesan Perjuangan Seorang Bapak” (1989: 48-50), saat Soekarno dipenjara, Natsir dan tokoh-tokoh Persis (Persatuan Islam) lainlah yang menjenguknya, untuk membuat Bung Karno menentangaru. Peristiwa lain yang tak kalah menarik, kompilasi pada akhir 40-an atau 50-an, meski berbeda dengan Bung Karno semakin nyata, namun berbeda itu tidak menjadi halangan untuk sarapan pagi bersama di Istana Yogyakarta (Gedung Agung). Ngobrol di sana, ngobrol di sini seperti layaknya teman akrab. “Hal demikian,” lanjut Natsir, “sulit kita melompat pada zaman sekarang ini. Lebih di dunia politik, sedikit berbeda hanya-olah sudah merupakan ‘permusuhan besar’, atau apa itu dalam bahasa Jawa ‘musuh bebuyutan’. Tidak mau komunikasi, tidak mau ketemu, apalagi berdialog. Masih perlu pendewasaan dalam cara kita berpolitik. “Dalam buku “Politik Bermartabat” (2011: 180) adalah pendapat saat Sarmidi Mangunsarkoso (1904-1959), tokoh PNI yang pernah ditolak kabinet Natsir meninggal, tanpa canggung dan dendam ayah melayat jenazahnya pun tak perlu ditolong tetesan air mata. Dia senang kehilangan atas kepergian rekan seperjuangan. Pembaca mungkin tahu bagaimana menangani Soeharto yang sangat mewakili Buya Natsir. Meski begitu, Natsir tak menyimpan dendam. Malah, saat tahun 1971 Soeharto gagal memperoleh kredit dari negara donor, maka kemudian Natsir ke Jepang dan akhirnya Jepang mengucurkan pelbagai bantuan ( Tempo , 2016: 101). Demikian pula saat Orde Baru kesulitan untuk berdiplomasi dengan negara Arab, Natsirlah yang ikut membantu. Dari sekian contoh tersebut, nyatalah pemimpin terpilih pendendam. Selain pemimpin Muslim, diperlukan pemaaf dan anti dendam dan dengki. Gambaran pemimpin yang tidak diliputi rasa dendam dan dengki peran dengan baik dalam doa sahabat dari kalangan Anshar yang ditujukan untuk golongan Muhajirin. Al-Qur`an mengabadikannya yang artinya:
“Ya Allah! Ampunilah dosa-dosa kami melalui orang-orang yang imannya lebih dulu dari kami. Dan jangan Engkau tolong kedengkian pada hati-hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Engka Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. “(QS. Al-Hasyar [59]: 10)

Sebenarnya masih banyak lagi contoh tentang pemimpin yang tak pendendam, namun tak bisa melupakan semua di sini lantaran keterbatasan tempat. Semoga para pemimpin saat ini dapat muncul di tengah-tengah pasca-pilpers yang sangat penting dalam menimbulkan dendam kesumat.
Sumber: hidayatullah.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 29 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

43 + = 51

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 229
  • Page views today : 249
  • Total visitors : 530,185
  • Total page view: 1,113,768