Connect with us
Update Now

Lensa

Pasangan Pilkada Ibarat Pacaran…Pake Chimestry Biar Langgeng..!!

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 235,047 kali

Curah

By H. MASRUDDIN

Saat ingin mencalonkan diri sebagai salah satu paslon Pilkada dengan seseorang yang sama sekali tak dikenalnya, sahabat saya ini langsung menelpon saya dan minta bertemu serta saran. Maklum sebagai wartawan, dipikirnya saya banyak tahu sepak terjang calon pasangannya tersebut. Kami pun bertemu dan dia bertanya-tanya, apakah calon pasangan ini baik dan apakah bisa dipercaya dan yang penting bisa amanah dalam menjalankan jabatannya, kalau nantinya menang Pilkada. Pengetahuan saya terhadap calon pasangannya tersebut 11 12 dengan dia, saya hanya mengatakan, kalau orang ini bisa saja di percaya, karena orangnya baik dan cara bicaranya lemah lembut dan sangat pintar mengelola massa atau pemilih. Singkat cerita, majulah mereka berdua, namun saat kampanye, saya sudah melihat ego pasangannya tersebut sangat kuat dan keras dalam mempertahankan pendapat, untungnya sahabat saya banyak mengalah dengan diam saja. Hebatnya kala kampanye keduanya mampu menutupi hal tersebut, ringkasnya menanglah mereka dalam pilkada. 6 bulan pasca dilantik, akhirnya mereka tak kompak lagi, pertentanganpun tak terelakan, tahun pertama masih belum terbuka, tahun kedua dan seterusnya sudah tak bisa ditutupi lagi. Sampai-sampai ada Kepala Dinas berkata “batampar haja kada lagi kedua bos ngini”, yang menggambarkan panasnya hubungan sang kepala daerah tersebut. Demikianlah, pasangan kepala daerah kayak orang pacaran, kalau susah dapat chimestry maka pasti akan sering ribut yang akhirnya bubar jalan alias ga bakal bersama lagi di Pilkada berikutnya. Menurut Mendagri jaman SBY, Gamawan Fauzi, hampir 95% kepala daerah pecah kongsi, karena sudah tak sejalan lagi. Sampai-sampai ada timbul wacana, agar pemilihan kepala daerah tak perlu pakai Wakil, cukup nanti dipilih oleh sang kepala daerah terpilih. Namun wacana itu di tolak oleh legislator senayan (DPR RI). Alasan mereka simple saja, jatah wakil kepala daerah rata-rata di isi oleh kader parpol pengusung, dengan alasan parpol kadang minim punya figur kuat untuk maju sebagai kepala daerah, karena kebanyakan masih di isi mantan birokrat atau kalangan pengusaha.

Perpecahan antara Kepala Daerah dan Wakil nya disebabkan kewenangan yang sangat besar disandang oleh sang Kepala, sedangkan Wakil hanya jadi ban serep belaka. Malah ada Kepala Daerah yang mencueki Wakilnya dan kadang di satu acara lebih suka mendelegasikan ke Sekda, kalau dia berhalangan. Tentu saja hal ini sama dengan menunjukan sikap egois dan menang sendiri, sebab dalam UU jelas tercantum, setiap kepala daerah yang berhalangan, maka wajib hukumnya Wakil Kepala Daerah mewakili, kecuali Wakil nya berhalangan, maka Sekda lah yang mewakili. Di Kalsel sendiri, pecah kongsi bukan hal yang aneh, contoh kala Gubernur Rudy Ariffin pecah kongsi dengan Wagubnya HM Rosehan di Pilkada Tahun 2010 silam, padahal kala terpilih pada Tahun 2005 lalu, keduanya sampai pidato bersama, akan terus kompak hingga 2 periode. Kini hal serupa terjadi lagi, di Tabalong Anang Syakhfiani yang memang sudah lama tak sejalan dengan Wabup nya Zony Alfianoor (padahal Pilkada Tahun 2013 lalu mereka cukup kompak), kini lebih memilih Ketua Golkar Tabalong, Mawardi, lalu di Tanah Laut, Bambang Alamsyah dan Wakilnya Sukamta bakal ‘perang’ di Pilkada 2018. Tentu yang paling di sorot adalah, pecah kongsinya Presiden SBY dengan Jusuf Kalla pada Pilpres 2009, Jusuf Kalla yang kala itu berniat mau saja kembali berpasangan dengan SBY, malah ditolak SBY yang lebih memilih Boediono yang kalem dengan latar belakang Birokrat bukan politikus seperti Jusuf Kalla. SBY pede karena popularitasnya memang sangat tinggi kala itu, jauh mengalahkan JK. Karena harga diri, JK nekad maju (walaupun tahu bakal kalah dari SBY) dan JK akhirnya menggandeng mantan Panglima TNI Jenderal Wiranto. Apa yang dikawatirkan JK terjadi, JK akhirnya harus mengakui keunggulan SBY dan malah dari 3 kontestan, JK paling buncit, kalah dari Mega di urutan kedua dan SBY di urutan pertama, yang menang satu putaran saja (Pilpres pemenangnya wajib di atas 50%+1).

Yang hebat tentunya di AS, negeri yang kini dianggap penentang dunia, karena Presiden nya si Donald ‘bebek’ Trump dukung Yahudi caplok Jerusalem sebagai Ibukota baru negeri zionis ini, memiliki kekompakan yang kuat bersama Wapres nya. Sebagai contoh, Ronald Reagan bersama George Bush Senior, 8 tahun Reagan berkuasa, Bush setia mendampingi, setelah berkuasa 2 periode, barulah Bush maju pilpres dan menang. Namun saat maju lagi diperiode kedua, Bush takluk dari Bill Clinton, Al Gore juga setia mendampingi Clinton hingga 2 periode. Sayangnya, Al Gore takluk dengan anak Bush, yakni George Walker Bush Junior, saat pilpres. Bush Junior melanjutkan tradisi, Wakil Bush junior yakni Dick Cheney tetap kompak temani si Presiden yang suka memerangi negara muslim ini hingga 2 periode. Namun Dick Cheney melanggar ‘tradisi’, sebagai Wapres dua periode dia malah tak minat maju sebagai Capres dan memilih pensiun saja. Tampilah Barackh Husien Obama bersama Wapres nya Joe Biden, Joe yang asli Yahudi ini juga setia temani Obama hingga 2 periode, sama seperti Cheney, usai mendampingi Obama, Joe memilih pensiun dan tak mau maju sebagai Capres. Kini Donald Trump yang menguasai Gedung Putih setelah menang telak secara mengejutkan melawan Ny Hillary Clinton, bersama Wapresnya Mike Peace, akankah Trump tetap bersama? Atau dia akan putus kongsi, hanya Tuhan yang tahu, karena Trump baru 1,5 tahun berkuasa dan masih 2,5 tahun lagi baru Pemilu. Kehebatan AS lagi adalah, mereka tak tabu untuk mencalonkan kader di luar parpol, melalui konvensi mereka buka pendaftaran bagi seluruh warga AS yang berminat jadi Capres dan Trump bukanlah kader Partai Republik, karena dia merupakan pengusaha bukan pengurus parpol, apalagi Senator seperti kebanyakan mantan Presiden AS, yakni Ronald Reagan, George Bush Senior dan Junior, atau Bill Clinton dan Obama. Yang unik lagi, tentu saja di negara kita, Presiden Soekarno dan Soeharto, begitu pecah kongsi dengan sohib karibnya HM Hatta, Soekarno ogah mengangkat Cawapres, dia lebih memilih Perdana Menteri, lalu bila sudah tak sehaluan, ganti lagi PM dan akhirnya dihapus sekalian dan kembali ke sistem Republik, tapi tanpa Wapres sampai dia lengser Tahun 1967 silam. Soeharto beda, saat menjabat Presiden RI hingga 32 tahun, setiap 5 tahun dia ganti Wapres, mulai dari Hamengkobowono IX, lalu Adam Malik, kemudian Umar Wirahadikusumah, lalu Tri Sutrisno, lanjut Sudharmono, diganti lagi oleh BJ Habibie yang akhirnya melanjutkan jabatan Presiden kala Soeharto lengser Tahun 1998 tanpa Wapres, karena Habibie hanya setahun menjabat Presiden, yang kemudian diganti melalui SI MPR RI, yang memilih Abdurahman Wahid sebagai Presiden ke 4 RI pada 20 Oktober 1999 lalu, ga sampai 5 tahun, Gus Dur dikhianati sohibnya sendiri, dia lengser dilanjutkan Mega bersama Wapres nya Hamzah Haz.

Saat ini, di musim Pilkada yangmakin memanas, terlebih 171 Daerah akan melaksanakan Pilkada serentak, yang akan melakukan pencoblosan pada Rabu 27 Juni 2018 yang akan datang. Tentu yang paling heboh adalah rekomendasi yang berubah-ubah, yang lebih parah yakni adanya rekomendasi yang jatuh ke bukan kader utama partai, ini lah menandakan kemorosotan moral dari partai terkait dan itu terjadi di Partai Demokrat, di mana di Tabalong kader utama dikalahkan kader baru.  Imbasnya adalah, pengurus dan kader partai terkait jadi terpecah belah menyikapi rekomendasi yang dianggap tidak berpihak ke bawah, namun hanya mengutamakan kepentingan oknum pengurus di pusat. Saya sebagai ketua partai saja kebingungan menyikapi hal-hal yang diluar dugaan ini, entah apakah yang ada di kepala pengurus pusat, kenapa sampai rekom malah jatuh ke tangan bukan kader lama.  Tapi yang sangat saya sayangkan, oknum-oknum parpol sendiri yang dengan bangga nya membantu kader baru tadi tanpa memperhatikan kader sendiri. Namun saya sadar, kembali lagi ini politik, yang tak bisa dihitung ala matematika. Kadang keputusan diluar nalar dan logika dan pengurus di bawah suka tak suka wajib mematuhinya. Soal hasil kelak di Pilkada itu urusan belakangan, kesimpulannya, ikutin saja, ga perlu pusink, soal kalah dan menang, serahkan pada nasib saja. ê

Berita ini sudah dilihat 51 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 90
  • Page views today : 97
  • Total visitors : 546,118
  • Total page view: 1,131,342