Connect with us
Update Now

Hulu Sungai Selatan

Pantang Mengemis, Renta+Kayuh Sepeda 8 Km Kakek Saini Tetap Jajakan Sapu Lidi Untuk Biayai Istri

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 110,332 kali

Kakek Saidi ajarkan kepada siapa saja, selama masih sehat gunakan badan untuk bekerja, bukan malas-malasan, apalagi mengemis ke sana ke mari atau jual kehormatan dengan jadi penjilat! (dok, Bpost)

BêBASbaru.com, HULU SUNGAI SELATAN – Tugas suami memang bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya. Namun, kalau sudah sepuh apalagi badan tak sesehat waktu muda, semestinya dinikmati dengan istrirahat bersama anak dan cucu.

Namun tidak dengan kakek satu ini. Kai Saini, demikian dia disapa. Kakek yang mengaku berusia 69 tahun itu tetap bekerja keras, menghidupi istrinya yang juga sudah lansia.  Tinggalnya di Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Provinsi Kalimantan Selatan, kakek ini menjajakan sapu lidi secara keliling.

Tiap hari, menempuh jarak sekitar 8 kilometer dari desanya ke Kandangan, ibu kota Kabupaten HSS. Sapu lidi yang dijajakan, dibeli di pasar seharga Rp 10.000 dan dijual kembali Rp 15.000 per ikat. Karena sudah uzur, dan tak begitu kuat mengayuh sepeda setiap hari, Kai Saini hanya berjualan per tiga hari sekali.

Satu kali berjualan, kakek yang mengaku mempuanyai tiga anak yang sudah berkeluarga dan tinggal terpisah itu bisa membawa pulang keuntungan Rp 50.000 sampai Rp 60.000. Karena barang yang dijual bukan keperluan pokok, seringkali sapu lidinya hanya laku beberapa buah. “Apalagi kalau pas hujan, kadang tak ada yang beli,” tuturnya ditemui di perempatan lampu merah Jalan S Parman, Durian Sumur, Kota Kandangan.

Menurut Kai Saini, untuk memudahkan pembeli melihat barang yang dijualnya, sering mangkal di perempatan lampu merah. Selain di Jalan S Parman, juga di perempatan lampu merah Jalan Jenderal Sudirman.

Cara itu cukup efektif menarik perhatian lalu lalang masyarakat pengguna jalan. Beberapa orang yang bersimpati dengan Kai Saini, datang membeli sapu lidi. Kadang membeli dengan niat membantu agar jualan kakek itu laku.

Adapula yang menghampirinya, bukan untuk membeli. Tapi, memberinya uang untuk sedekah. “Niat saya sebenarnya berjualan. Tapi jika ada yang mampir memberi sedekah, saya terima dan saya doakan rezekinya berkah dan ditambah Allah. Yang terpenting bagi saya adalah tak ingin meminta-minta dan tak mengemis. Selama masih bisa bekerja, saya tetap bekerja. Saya juga tak ingin merepotkan anak-anak,” tuturnya.

Secara fisik, tubuh kakek itu terlihat masih sehat, meski saat berjalan sedikit tertatih. Menurut Kai Saini sebenarnya untuk beras, dia telah menerima bantuan pemerintah. Namun saat ditanya apakah program beras sejahtera atau raskin, dia mengatakan tak mengetahui.

Meski sudah mendapat bantuan beras, Saidi mengatakan, tetap harus mencari nafkah untuk membeli lauk dan sayuran. Dan, sepeda tuanya itupun menjadi andalan. Pelan, menyusuri jalan di antara lalu lalang kendaraan bermesin.

Sumber: banjarmasinpost.co.id dan berbagai sumber (dengan judul: Kayuh Sepeda 8 Kilometer di Kabupaten HSS, Kakek Saini Jajakan Sapu Lidi Biayai Istri)

Berita ini sudah dilihat 100 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 2 
  • Visitors today : 149
  • Page views today : 168
  • Total visitors : 529,683
  • Total page view: 1,113,217