Connect with us
Update Now

Post

Oknum Jend-Pol Di Sogok Djoktan Bagian VI: Prasetijo Tagih ‘Mana Jatah Gue’ Lalu Langsung Sunat Duit dari Djoktan

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 230,786 kali

Sidang skandal suap Djoktan dan 2 Jendpol di gelar Tipikor (dok, katadata)

BêBASbaru.com, INVESTIGASI – Prasetijo disebut jaksa sempat meminta ‘jatah’ setelah urusan penghapusan red notice Interpol untuk Djoko Tjandra beres. Awalnya Prasetijo mengenalkan Tommy Sumardi ke Irjen Napoleon Bonaparte yang saat itu menjabat sebagai Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadivhubinter) Polri. Tommy Sumardi merupakan rekanan dari Djoko Tjandra yang dimintai bantuan untuk mengurus tentang penghapusan red notice Interpol dan status Djoko Tjandra dalam daftar pencarian orang (DPO).

Urusan belum selesai. Brigjen Prasetijo kemudian mengenalkan Tommy Sumardi pada Irjen Napoleon Bonaparte. Dalam pertemuan itu, Napoleon mengatakan red notice Djoko Tjandra bisa dibuka asal disiapkan uang Rp 3 miliar.

Tommy Sumardi lalu melaporkan hal itu ke Djoko Tjandra yang dibalas langsung dengan mengirimkan USD 100 ribu. Setelahnya Tommy Sumardi mengantarkan uang itu ke Napoleon ditemani Prasetijo. “Setelah Tommy Sumardi menerima uang tunai sejumlah USD 100 ribu dari Joko Soegiarto Tjandra, pada tanggal 27 April Tommy Sumardi bersama terdakwa Brigjen Prasetijo Utomo menuju kantor Divhubinter untuk menemui dan menyerahkan uang kepada Irjen Napoleon Bonaparte,” kata jaksa.

“Saat di perjalanan di dalam mobil terdakwa Brigjen Prasetijo Utomo melihat uang yang dibawa oleh Tommy Sumardi, kemudian terdakwa mengatakan ‘banyak banget ini ji buat beliau? buat gw mana?'” ungkap jaksa.

Pada bulan Mei 2020 setelah urusan red notice Djoko tjandra selesai, Prasetijo menghubungi Tommy Sumardi. Jaksa mengatakan Prasetijo meminta ‘jatah’ ke Tommy Sumardi. “Terdakwa Brigjen Prasetijo Utomo menghubungi Tommy Sumardi melalui sarana telepon dengan mengatakan, ‘Ji, sudah beres tuh, mana nih jatah gw punya’ dan dijawab oleh Tommy Sumardi ‘sudah, jangan bicara ditelepon, besok saja saya ke sana’,” tutur jaksa.

“Dan keesokan harinya Tommy Sumardi bertemu dengan Brigjen Prasetijo Utomo di ruangan kantornya, dan Tommy Sumardi memberikan uang sejumlah USD 50 ribu,” sambungnya. Setelah menanyakan jatahnya, Prasetijo lalu membagi dua uang yang diberikan dari Djoko Tjandra.

“Dan saat itu uang dibelah dua oleh terdakwa dengan mengatakan ‘ini buat gw, nah ini buat beliau sambil menunjukkan uang yang sudah dibagi 2’,” ungkap Jaksa. Alhasil Tommy Sumardi ‘hanya’ membawa USD 50 ribu untuk Napoleon. Uang itu pada akhirnya ditolak Napoleon.

“Tommy Sumardi menyerahkan sisa uang yang ada sebanyak USD 50 ribu, namun Irjen Napoleon Bonaparte tidak mau menerima uang dengan nominal tersebut dengan mengatakan ‘ini apaan nih segini, nggak mau saya. Naik ji jadi 7 ji, soalnya kan buat depan juga bukan buat saya sendiri. Yang nempatin saya kan beliau dan berkata ‘petinggi kita ini’. Selanjutnya sekira pukul 16.02 WIB Tommy Sumardi dan Brigjen Prasetijo dengan membawa paper bag warna gelap meninggalkan gedung TNCC Mabes Polri,” tutur jaksa.

Keesokan harinya Tommy Sumardi memberikan uang secara bertahap ke Napoleon yang totalnya yaitu SGD 200 ribu dan USD 270 ribu. Irjen Napoleon pun memproses penghapusan red notice Interpol dan DPO Djoko Tjandra dalam hitungan hari. Setelah semuanya beres ternyata Brigjen Prasetijo sempat menelepon Tommy Sumardi. Jaksa menyebut sambungan telepon itu berkaitan dengan ‘jatah’.

“Terdakwa Brigjen Prasetijo Utomo menghubungi Tommy Sumardi melalui sarana telepon dengan mengatakan, ‘Ji, sudah beres tuh, mana nih jatah gw punya’ dan dijawab oleh Tommy Sumardi ‘sudah, jangan bicara ditelepon, besok saja saya ke sana’,” tutur jaksa.

“Dan keesokan harinya Tommy Sumardi bertemu dengan Brigjen Prasetijo Utomo di ruangan kantornya, dan Tommy Sumardi memberikan uang sejumlah USD 50 ribu,” sambungnya. Sementara itu data penghapusan red notice lantas digunakan oleh Djoko Tjandra untuk masuk wilayah Indonesia dan mengajukan Peninjauan Kembali pada bulan Juni 2020 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Setelahnya kehebohan mengenai Djoko Tjandra pun terjadi hingga akhirnya Djoko Tjandra ditangkap berkat kerja sama police to police antara Polri dan Polisi Diraja Malaysia (PDRM). Djoko Tjandra ditangkap pada Kamis (30/7) dan Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo turun langsung membawa Djoko Tjandra dari Malaysia. (Selesai)

Sumber: detik.com dan berbagai sumber yang diolah

Berita ini sudah dilihat 128 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 386
  • Page views today : 436
  • Total visitors : 545,585
  • Total page view: 1,130,751