Connect with us
Update Now

Kesehatan

Obat Korona Dari Unair Dianggap Belum Sempurna dan Harus Uji Klinis Lagi

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 113,152 kali

Obat korona made in lokal dari Unair Surabaya ini ternyata masih harus melalui tahapan-tahapan uji klinis (dok, detik.com)
BeBASbaru.com, KESEHATAN – Universitas Airlangga (Unair) Surabaya sempat bawa harapan besar dengan temuan obat korona produksi mereka. Namun, pemerintah melalui BBPOM beranggapan obat korona itu masih kurang sempurna dan harus di uji klinis lebih lanjut.
Berisiko Picu Kanker, 67 Batch Obat Asam Lambung Ranitidin Ditarik BPOM. Kepala BPOM Penny K Lukito
Kepala BPOM Penny K Lukito (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkap ada critical finding dalam uji klinis 3 kombinasi obat untuk virus Corona COVID-19 yang dilakukan tim Universitas Airlangga (Unair). Temuan kritikal itu harus diperbaiki dan diklarifikasi. Untuk virus Corona COVID-19 yang dilakukan tim Universitas Airlangga (Unair). Temuan kritikal itu harus diperbaiki dan diklarifikasi. Kepala BPOM Penny K Lukito menjelaskan perlu ada klarifikasi data yang kritikal dari hasil inspeksi di senter penelitian di wilayah Bandung pada 27-28 Juli 2020. Klarifikasi tersebut menyangkut data laboratorium yang dapat membuktikan bahwa efektivitas kombinasi obat yang diuji lebih baik dibanding standar. Hal lain yang perlu diklarifikasi adalah efektivitas pada subjek dengan derajat penyakit sedang dan berat, karena semua kasus di SECAPA Bandung adalah pasien dengan gejala ringan. Bahkan ada yang tanpa gejala dan seharusnya tidak perlu mendapat obat. Klarifikasi dan perbaikan tersebut nantinya akan dinilai oleh BPOM. “Jika perbaikan dan klarifikasi tersebut tidak dapat mendukung validitas hasil uji klinik, maka peneliti harus mengulang pelaksanaan uji klinik,” demikian tulis BPOM dalam rilisnya. Dalam konferensi pers di channel YouTube BPOM, Penny menyampaikan beberapa catatan. Selain soal sampel yang tidak merepresentasikan randomisasi, hasil uji klinis juga belum memenuhi nilai kebaruan. “Belum menunjukkan perbedaan yang signifikan,” tegas Penny.

Ketiga kombinasi obat yang menjalani uji klinis adalah sebagai berikut:

  1. Lopinavir/Ritonavir dan Azithromycin
  2. Lopinavir/Ritonavir dan Doxycyclin
  3. Hydrochloroquine dan Azithromycin.

sumber: detik.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 104 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 110
  • Page views today : 119
  • Total visitors : 530,066
  • Total page view: 1,113,638