Connect with us
Update Now

Sahibar Banua

Masih Terdampak Virus Corona, Harga Karet di Banua Makin Terjun Bebas, Malah banyak Pengumpul Stop Pembelian ke Petani

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 461,998 kali

SAHIBAR BANUA – Sudah hampir 3 minggu harga karet di tingkat pengumpul dan petani terjun bebas alias jatuh. Bahkan di Tabalong, banyak pengumpul yang menahan diri membeli karet dari para petani, dengan alasan pabrik menyetop menerima karet bokar, akibat penuhnya gudang pabrik, karena mereka tidak bisa mengeksport ke negara pembeli, khususnya Cina. Penyebaran Virus Corona atau Novel Coronavirus (nCov) di Cina ternyata berdampak kepada ekspor karet Banua. Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Kalselteng menginformasikan bahwa gangguan virus mematikan tersebut telah mengakibatkan harga karet dunia turun. “Iya, selain karena persaingan dagang antara Amerika dan Cina. Virus corona juga menjadi salah satu penyebab anjloknya harga karet dunia,” kata Sekretaris Eksekutif Gapkindo Kalselteng, Hasan Yuniar. Dia mengungkapkan, semenjak isu virus corona merebak harga karet dunia turun sekitar 10 sen Amerika per kilogramnya. “Harga karet sekarang 1,38 Dolar Amerika, sebelumnya 1,48 Dolar Amerika,” ungkapnya. Menurutnya, penyebaran virus corona dapat mempengaruhi harga karet lantaran Cina salah satu negara pengimpor karet terbesar di dunia. “Di Kalsel, Cina menjadi pengimpor karet terbesar ketiga, setelah Jepang dan Amerika. 20 persen karet kita diekspor ke sana,” ujarnya. Lanjutnya, akibat merebaknya virus corona sejumlah perusahaan di Kalsel berencana menahan ekspor karet ke Cina. “Mungkin bulan ini kita upayakan untuk menahan ekspor ke sana. Karena menyebarnya virus corona membuat pembayaran yang dilakukan importir mengalami penundaan,” bebernya. Secara terpisah, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalsel Suparmi tak menampik jika penyebaran virus corona berdampak kepada ekspor karet di Banua. “Karena Cina merupakan salah satu negara pengimpor, jadi otomatis ada pengaruh secara nasional,” ungkapnya. Namun dia memastikan bahwa pengaruh corona terhadap karet Banua tidak begitu signifikan. Hal itu menurutnya bisa dilihat dari harga karet di Kalsel yang masih tinggi dari daerah lain. “Harga karet Kalsel tidak terlalu merosot karena masih tembus Rp16 ribu untuk K3 (kadar karet kering) 100 persen. Kalau provinsi lain sudah anjlok ke Rp13 ribu,” ucapnya. Ditambahkannya, untuk bisa menjaga agar harga karet tetap tinggi pihaknya mengajak para petani untuk bergabung atau membentuk Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB). Sebab, keberadaan UPPB berpotensi menaikkan kualitas dan harga jual karet yang mengacu K3. “Saat ini baru ada 113 UPPB di Kalsel. Kami menargetkan selama lima tahun ke depan ada 650 UPPB yang terbentuk,” tambahnya. Suparmi menjelaskan, lewat UPPB petani dapat menjual harga karet lebih tinggi dibandingkan menjual langsung ke tengkulak. “Jadi kalau kita sering menerima keluhan harga karet murah itu adalah harga karet yang dijual petani langsung ke tengkulak,” jelasnya. Selain bisa menjual karet dengan harga tinggi, dia membeberkan melalui UPPB petani juga akan diberikan bantuan berupa pupuk, benih, perawatan dan gudang penyimpanan. “Gudang penyimpanan juga bisa digunakan oleh petani di luar UPPB,” pungkasnya.
Sumber: kalsel.prokal.co dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 105 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.