Connect with us
Update Now

Dunia

Manuver Politik Erdogan Terkait Hagia Sophia, Membuat Namanya Makin Populer

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 122,581 kali

BêBASbaru.com, ISTANBUL – Hagia Sophia yang menjulang di Tanduk Emas kembali dialihfungsikan menjadi masjid untuk pertama kalinya sejak 86 tahun setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan mengubah statusnya pada Jumat. Pengadilan Turki menganulir status museum Hagia Sophia 1934 yang diberlakukan pada masa pemerintahan sekuler Mustafa Kemal Ataturk. “Ini adalah saat-saat paling kami nantikan, yaitu mendengar suara-suara azan di Hagia Sophia!” kata Erdogan. Mimpi Erdogan tidak sekadar mendengar kembali lantunan azan di Hagia Sophia atau yang dikenal sebagai Masjid Agung Ayasofya, tetapi lebih dari itu sebagai manuver politiknya. “Sebelumnya sekelompok NGO memang mengajukan gugatan terhadap pengalihan status Hagia Sophia atau Ayasofya yang sebelumnya museum menjadi masjid. NGO yang mengajukan gugatan mendasarkan argumen bahwa ketika ditaklukkan Hagia Sophia menjadi masjid. Sehingga terlihat bahwa kebijakan Presiden Erdogan merupakan aspirasi publik,” kata Dosen Magister Kajian Ketahanan Nasional-SKSG UI dan penulis buku “Recep Tayyip Erdogan: Revolusi dalam Sunyi” kepada Tempo 14 Juli 2020. Syahroni mengatakan motivasi Erdogan mengalihfungsikan Hagia Sophia bisa dilihat dari sisi ideologis dan pragmatis. Erdogan memiliki ideologis cita-cita Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) karena Turki mencapai puncak keemasan pada periode tersebut sehingga Erdogan menghidupkan narasi Ottoman untuk konteks saat ini. “Sementara terkait aspek pragmatis, boleh jadi Erdogan ingin tetap memelihara dukungan kelompok konservatif yang dalam beberapa kesempatan memang memiliki keinginan untuk mengembalikan status Hagia Sophia menjadi masjid.” Kehadiran partai baru Partai Gelecek pimpinan Ahmet Davutoglu dan Partai Deva pimpinan Ali Babacan yang merupakan eks AKP (partai pimpinan Erdogan) berpotensi mengambil suara kelompok konservatif, sebelum itu terjadi boleh jadi langkah ini bisa meredam perpindahan dukungan, kata pakar Hubungan Internasional lulusan Doktor Marmara University itu. Partai AK Erdogan kalah telak dalam pemilu wali kota Istanbul yang dimenangkan oposisi dari Partai Rakyat Republik (CHP) Ekrem Imamoglu dan mengakhiri dominasi 25 tahun Partai AK di ibu kota.

Hagia Sophia yang semula museum sudah diubah jadi mesjid oleh Presiden Turki, Tayyip Erdogan (dok, antara.com)

Studi Eurasia Public Opinion Research Centre (AKAM) yang dirilis pada Mei 2020 mengungkapkan Wali Kota Istanbul Ekrem Imamoglu dapat mengalahkan Erdogan dengan selisih kecil jika pilpres digelar saat itu. Lebih dari 40 persen peserta dalam survei mengatakan mereka akan memilih Erdogan, sementara 45,5 persen lebih memilih Imamoglu, menurut studi AKAM, yang dilaporkan Ahval News. “Kekalahan AKP di Istanbul memang menjadi alarm bagi Erdogan dan kader AKP. Kekalahan di Istanbul tidak lepas dari pecahnya basis suara yang selama ini seratus persen mendukung AKP. Keluarnya Davutoglu dan Babacan dengan mendirikan partai baru juga memiliki kontribusi. Davutoglu punya magnet untuk kalangan konservatif sementara Babacan punya magnet untuk kalangan liberal,” kata Syahroni. Kebijakan tersebut, kata Syahroni, mungkin bisa menaikkan elektabilitas di kalangan konservatif seperti pendukung Partai Saadet. Namun secara umum figur Erdogan memang masih menjadi penentu permainan. Figur Erdogan masih terlalu kuat untuk dikalahkan figur-figur oposisi. “Apalagi belakangan Ekrem Imamoglu yang diharapkan bisa menjadi penantang Erdogan tidak menunjukkan hasil maksimal sebagai wali kota. Kegagalan Ekrem Imamoglu justru bisa membuat pemilih kembali memilih figur dari AKP.” Smith Al Hadar, pengamat Timur Tengah dan penasihat dari lembaga wadah pemikir Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES), mengatakan menurunnya dukungan politik terhadap Erdogan karena kesalahan kebijakan ekonomi rezim bahkan sebelum virus corona. Itu terlihat dari kalahnya partai Keadilan dan Kemakmuran pimpinan Erogan dalam sejumlah pilkada, terutama di ibu kota Ankara dan Istanbul.

Ekrem Imamoglu, Walkot Istanbul yang mampu kalahkan jagoan dari Partai Erdogan, namun kini menjabat Walikota, dia tak punya prestasi di Istanbul yang bisa mengalahkan Erdogan pada Pemilu Presiden Turki. (dok, tempo.co)

“Dalam konteks melemahnya dukungan rakyat pada rezim Erdogan seiring dengan terpuruknya ekonomi, Erdogan mengalihkan kembali fungsi museum Hagia Sophia menjadi masjid dalam rangka menarik dukungan rakyat yang mulai melemah,” ujar Smith. Arya Sandhiyudha, Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI) dan peraih gelar Doktor Ilmu Politik dan Hubungan Internasional dari Istanbul University, memaparkan polling MetroPOLL Aratrma di Turki, yang menunjukkan bagaimana sikap warga para pemilih parpol di Turki mengenai kebijakan Hagia Sophia. “Betapa mengejutkan melihat ada 50% pemilih MHP (Partai Gerakan Nasionalis) yg setuju mempertahankannya sebagai museum; dan sekitar 21% pemilih CHP menginginkan pengembaliannya sebagai fungsi masjid. Jadi elemen politik domestik Saya duga tetap menjadi pertimbangan utama Erdogan,” kata Arya Sandhiyudha kepada Tempo. Kebijakan Hagia Sophia dipilih Erdogan karena memang punya magnet sebagai kekuatan pemersatu dari sekian ragam simbol bersejarah di Turki, kata Arya. “Itulah yang dipilih di tengah kondisi popularitasnya yang melemah di Turki, terutama di dua kota terbesar: Ankara dan Istanbul.” Arya mengatakan perubahan status Hagia Sophia selalu digunakan untuk menambah pundi-pundi dukungan bahkan ketika isu ini diangkat sejak 1950-an. Status Hagia Sophia, menurut Arya, merupakan agenda kampanye politik AKP dan perang budaya dengan partai-partai yang mengidentikkan diri dengan haluan Kemalis, baik MHP dan CHP. Erdogan, di samping memikirkan momentum politik domestik yang hendak dicapainya, memang akhirnya dipersepsi memiliki tujuan lain di balik kebijakan Hagia Sophia seperti kebijakan luar negeri terhadap Yunani, kalangan Kristiani internasional, meraih simpati kalangan Islamis global dan dunia Muslim, atau bahkan agenda mengambil alih Israel, kata Arya Sandhiyudha. Alih fungsi Hagia Sophia tentu memancing reaksi dari negara-negara tetangga, apalagi mereka yang memiliki ikatan sejarah terhadap Kekaisaran Romawi Suci. Kantor Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis, mengutuk Turki karena mengubah Haghia Sophia menjadi masjid, Middle East Monitor melaporkan. Bahkan partai politik Yunani, Greek Solution, mengancam untuk mengubah rumah Mustama Kemal Ataturk di Thessaloniki untuk dijadikan museum Genosida Yunani, menurut laporan The Greek City Times.

Mustafa Kemal Ataturk Presiden Turki yang hancurkan Kesultanan Turki dan rubah Hagia Sophia jadi museum, dia juga merubah haluan Turki jadi negeri sekuler yang 100% mengadopsi gaya barat, padahal sebelumnya Turki merupakan negeri Islam dengan hukum-hukum Islam (dok, republika)

Sementara Paus Fransiskus mengutarakan kesedihannya saat Misa Mingguan di alun-alun Santo Peter terkait langkah Turki. Syahroni mengatakan Erdogan tentu sudah menimbang dampak internasional terkait alih fungsi Hagia Sophia. “Tapi yang saya lihat keputusan ini tidak memiliki dampak serius bagi hubungan Turki-Uni Eropa karena ini lebih bersifat urusan domestik. Hal ini dikuatkan dari sikap Wakil Menlu Rusia yang menganggap urusan Hagia Sophia adalah urusan internal Turki. Erdogan baru-baru ini juga saling telepon dengan Vladimir Putin membahas perkembangan di Libya,” ujar Syahroni ketika ditanya apakah isu Hagia Sophia berdampak pada negara tetangga termasuk dari sekutu Eropa. Pemerintah Rusia, negara dengan mayoritas penganut Gereja Ortodoks, tampaknya tidak mau terlalu jauh memprotes Erdogan. Dikutip dari RT, juru bicara Vladimir Putin, Dmitry Peskov, berharap agar Turki menimbang kembali rencana mengubah Hagia Sophia, namun menyatakan Rusia akan menghormati apapun keputusan Turki. Sementara Arab Saudi tampaknya mengkritik secara tidak resmi keputusan Erdogan. Melalui kolom opini dan editorial harian Arab News dan Saudi Gazette, alih fungsi status Hagia Sophia dianggap sebagai keputusan provokatif. “Kendati bermusuhan dengan Turki, Arab Saudi tak dapat mengkritik Turki lebih keras karena ia berhadapan dengan opini publiknya yang tentunya mendukung keputusan Erdogan,” ujar Smith Al Hadar. Ikon Hagia Sophia juga bukan satu-satunya yang disinggung Erdogan. Dalam pidatonya, Erdogan bersumpah akan membebaskan Masjid Al Aqsa. “Hagia Sophia adalah langkah awal untuk pembebasan Al Aqsa,” kata Erdogan dan mengaitkannya dengan kebangkitan Islam dari Bukhara di Uzbekistan sampai Andalusia di Spanyol. “Terdapat kekhawatiran ketika kebijakan ini dikaitkan dengan kampanye Erdogan tentang agenda pembebasan Al Aqsa. Tentu perlu dipikirkan bagaimana pola komunikasi Turki pasca-kebijakan Hagia Sophia ini. Sebab kita mengetahui bahwa Paus di Vatikan dan Uskup Agung Canterbury merupakan pihak yang melakukan perbincangan langsung dan memiliki kesamaan pandangan dengan Erdogan tentang upaya melindungi status Yerusalem sebagai kota tiga agama, merawatnya sebagai warisan UNESCO, dan membentuk aliansi antar-peradaban,” kata Arya Sandhiyudha, menambahkan populisme yang dipilih Erdogan dalam kebijakan Hagia Sophia ini tidak boleh menjadi penajam dalam potensi Clash of Civilization. Sementara Syahroni Rofi’i mengatakan narasi Al Aqsa adalah khas Erdogan. “Dia memiliki sense sebagai pemimpin dunia dan memiliki pandangan global dengan jejak sejarah kebesaran Turki Utsmani,” katanya. “Untuk jangka pendek mungkin narasi Erdogan itu bisa menjadi peringatan bagi Israel yang terlihat agresif menganeksasi Tepi Barat dan wilayah sengketa di Palestina. Namun untuk jangka panjang pasti Turki akan menggunakan pendekatan diplomatik untuk bernegosiasi dengan Israel,” papar Syahroni. Smith Al Hadar mengatakan pidato Erdogan soal membebaskan Al Aqsa sekadar retorika belaka. “Tentu saja pidato Erdogan itu omong kosong. Mana mungkin Turki bisa membebaskan Masjid Al Aqsa. Kalaupun ia punya nuklir seperti Israel, Turki tak akan melakukannya karena merupakan tindakan bunuh diri. Pidato itu tak lain bermaksud mencari dukungan dunia Islam.” Keputusan Erdogan menjadikan Hagia Sophia sebagai masjid dianggap sebagai upaya mengembalikan memori sejarah penaklukan Ottoman. Arya Sandiyudha mengatakan dirinya tidak yakin kebijakan Erdogan terkait Hagia Sophia punya proyeksi terhadap masyarakat Muslim di luar Turki. Erdogan mau mengambil hati konservatif menggunakan panji Utsmaniyah karena Hagia Sophia adalah ikon kesultanan paling kentara, dengan mengembalikan memori penaklukan Sultan Mehmed atas Konstantinopel pada 1453 dan mengubah Hagia Sophia menjadi masjid.

Sumber: detik.com dan berbagai sumber (dengan judul: Manuver Politik Erdogan Melalui Alih Fungsi Hagia Sophia)

Berita ini sudah dilihat 95 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 94
  • Page views today : 107
  • Total visitors : 531,681
  • Total page view: 1,115,462