Connect with us
Update Now

Mahakarya

Mahakarya: Kho Ping Hoo BU KEK SIANSU (episode 46)

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 226,554 kali

Sinopsis:

“Bagi para pecinta komik silat, karya-karya Empu pengarang silat Indonesia Kho Ping Hoo sudah tak asing lagi bahkan sudah melegenda, karyanya selalu dinantikan bahkan dibaca berulang-ulang oleh penikmat komik, kali ini kami akan menyajikan serial komik legendaris Bu Kek Siansu, yang nantinya bakal berkembang menjadi Suling Emas, Cinta Bernoda Darah, Mutiara Hitam, Pendekar Super Sakti dll…silahkan dibaca mulai Edisi ini dan seterusnya”

 

Dan hati-hati menghadapi bekas teman yang memperoleh pangkat yang lebih kecil. Terjadi dan berlangsunglah konflik sembunyi diantara mereka. Ke manakah perginya Swat Hong dan Kwee Lun? Di bagian depan telah diceritakan betapa dua orang muda ini berhasil menyelamatkan diri, lari keluar dari istana The Kwat Lin dan terus keluar dari kota raja Tiang-an. Mereka berlari dengan cepat mempergunakan kegelapan malam, berhasil keluar dari benteng tembok kota raja karena para penjaga yang berada dalam suasana pesta kemenangan itu tidak melakukan penjagaan yang terlampau ketat. Setelah terang tanah dan mereka tiba di dalam sebuah hutan jauh dari tembok kota raja barulah keduanya berhenti, terengah-engah dan Swat Hong menjatuhkan dirinya di bawah sebatang pohon besar. Wajahnya pucat biarpun muka dan lehernya penuh keringat yang di usapnya dengan ujung lengan bajunya. Pandang matanya merenung jauh sekali, dan dia diam saja, sama sekali tidak berkata-kata, sama sekali tidak bergerak, seperti dalam keadaan setengah sadar. Kwee Lun juga menghapus peluhnya dan dia pun duduk diam, memandang kepada Swat Hong. beberapa kali dia menggerakan bibir hendak bicara namun ditahannya lagi. Pemuda yang biasanya bergembira ini merasa betapa jantungnya seperti diremas-remas. Dia sendiri merasa kehilangan dan amat berduka dengan kematian Soan Cu, gadis yang kini dia tahu adalah wanita yang amat dicintainya. Akan tetapi, melihat keadaan Swat Hong yang terpaksa harus meninggalkan ibu kandungnya menghadapi kematian, dia melupakan kedukaan hatinya sendiri dan merasa amat iba kepada Swat Hong. Melihat betapa Swat Hong seperti orang kehilangan ingatan, Kwee Lun merasa khawatir sekali.

Kalau dibiarkan saja, gadis ini bisa jatuh sakit, kalau hanya sakit badannya masih mending, akan tetapi kalau terserang batinnya lebih berbahaya lagi. Akhirnya dia memberanikan diri berkata lirih dan halus, “Mati hidup adalah berada di tangan Thian, kita manusia tak dapat menguasainya, Nona.” Mendengar kata-kata ini, Swat Hong menengok dan memandang, akan tetapi pandang matanya tetap kosong, seolah-olah kata-kata itu tidak dimengertinya dan dari mulutnya hanya terdengar suara meragu, “Hemm….?” Suara ini gemetar dan pandang mata itu menusuk perasaan Kwee Lun. Maka pemuda ini lalu memberanikan diri melangkah lebih jauh lagi dengan kata-kata yang lebih membuka kenyataan, “Ibumu gugur sebagai seorang yang gagah perkasa.” Sepasang mata yang kehilangan sinar itu terbelalak, seolah-olah baru sadar dan bibir yang gemetar itu bergerak, mula-mula lirih makin lama makin keras, “…..Ibu…..? Ibu…., Ibu….!” Swat Hong menangis tersedu-sedu dan memanggil-manggil ibunya. “Tenanglah, Nona. Tenanglah…..” Kwee Lun menghibur dan berlutut di depan gadis itu, akan tetapi suaranya sendiri parau dan agak tersedu. “Ibu….! Mengapa aku meninggalkan ibu mati sendiri….? Ibu….! Hu-hu-huuuuuuuk, Ibuuuuuuuu…..!” Memang menangis merupakan obat terbaik bagi batin gadis itu, pikir Kwee Lun penuh keharuan, akan tetapi melihat Swat Hong menjambak-jambak rambut sendiri, dia merasa khawatir. “Ingatlah, Nona. Ingatlah pesan Ibumu….. tentang pusaka Pulau Es….” Swat Hong mengangkat muka dan melihat wajah pemuda itu juga basah air mata, dia menubruk. “Toako…. ahhhh, Toako….!” Dan menangislah dia tersedu-sedu di dada pemuda itu yang dianggapnya merupakan satu-satunya sahabat di dunia yang baginya kosong ini. Kwee Lun memejamkan mata dan membiarkan gadis itu menangis terisak-isak. Dengan sesenggukan Swat Hong berkata, “Ibu tewas….. di depan mataku….. dan aku tidak dapat menolongnya….. hu-hu-huuuuuuuhhhh…… dan Ayah pun sudah tiada, Suheng juga…… hu-huuuuuuuuuhhh apa gunanya aku hidup lagi? Apa gunanya aku mencari pusaka dan mengembalikan ke Pulau Es?’ Seperti seorang yang mendadak menjadi kalap Swat Hong merenggutkan dirinya dari dada Kwee Lun, lalu melompat bangun mengepal tinju. “Katakan, Kwee-toako, apa gunanya semua ini? Ayah ibuku sudah meninggal, dan suheng satu-satunya orang yang kucinta….. dia pun tidak ada lagi……! katakan, apa perlunya aku hidup lebih lama?” Kwee Lun teringat akan kematian Soan Cu yang menghancurkan perasaannya, akan tetapi dia menekan kedukaannya dan berkata, suaranya nyaring bersemangat, “Adik Hong, tidak semestinya seorang perkasa seperti engkau mengeluarkan kata-kata bernada putus asa seperti itu! Engkau adalah puteri dari Pulau Es! Kedukaan apa pun yang menimpa dirimu, harus kau atasi dengan gagah perkasa!

Aku dapat memahami pesan mendiang Ibumu yang mulia dan gagah perkasa itu. Kalau pusaka keluargamu dari Pulau Es terjatuh ke tangan orang lain, bukankah itu amat sayang, berbahaya dan juga merendahkan ? Pusaka itu telah diselamatkan oleh Nona Bu Swi Nio dan Saudara Liem Toan Ki. Sebaiknya kalau kita segera menyusul mereka dan aku akan membantumu mencari Pusaka Pulau Es.” Ucapan penuh semangat itu benar-benar menyadarkan Swat Hong, menarik gadis itu dari lembah kedukaan yang hampir mematahkan semangatnya. Dia menahan isak, menarik napas panjang dan menghapus air matanya, lalu memandang kepada pemuda itu, memegang tangan Kwee Lun. “Kwee-toako, terima kasih atas peringatanmu. Hampir aku lupa akan tugasku. Memang benar, sudah berani hidup harus berani menghadapi apa pun yang menimpa kita. Engkau sungguh baik sekali, Toako. Engkau sendiri menderita, kehilangan Soan Cu, namun masih menghiburku……” Kwee Lun mengangkat mukanya dan memejamkan mata. “Benar…..aku mencinta Soan Cu……. aku mencintanya……” “Dan aku mencintai Suheng. Betapa buruk nasib kita, Toako. Engkau sendiri menderita, kehilangan Soan Cu, namun masih menghiburku……” Kwee Lun mengangkat mukanya dan memejamkan mata. “Benar…. aku mencinta Soan Cu…. aku mencintanya……..” “Dan aku mencinta Suheng. Betapa buruk nasib kita, Toako. Akan tetapi, kau masih mempuyai Gurumu, sedangkan aku hanya seorang diri….. ah, sudahlah. Aku akan pergi, Toako. Semoga engkau akan dapat menemukan kebahagiaan dalam hidupmu. Engkau baik sekali dan terima kasih.”Swat Hong berkelebat dan meloncat pergi. “Nanti dulu! Hong-moi…. biarlah aku membantumu…..” “Tidak usah, Kwee-toako. Aku akan menyusul mereka ke Puncak Awan Merah, kemudian aku akan kembali ke Pulau Es…. untuk…. untuk selamanya. Selamat tinggal!” Swat Hong meloncat dengan cepat sekali dan sebentar saja dia sudah lenyap meninggalkan Kwee Lun yang menjadi lemas. Pemuda ini menjatukan dirinya duduk di atas tanah dan baru sekarang dia tidak dapat menahan bertitiknya air matanya dan baru sekarang terasa olehnya betapa dia kehilangan Soan Cu, betapa dunia terasa amat hampa dan sunyi. Berkali-kali dia menarik napas panjang dan teringatlah dia kepada gurunya, Lam-hai Seng-jin yang seperti orang tuanya sendiri. Dia harus kembali ke Pulau Kurakura di Lam-hai dan terbayang olehnya betapa suhunya itu akan terheran mendengar semua pengalamannya dengan keluarga Pulau Es! Dengan perasaan yang kosong dan sunyi, ingatan akan gurunya ini merupakan setitik harapan kegembiraan hidupnya dan berlahan-lahan Kwee Lun meninggalkan hutan itu untuk kembali kepada gurunya yang sudah amat lama ditinggalkannya. Sementara itu, dengan mata masih merah oleh tangisnya, Han Swat Hong melanjutkan perjalanan seorang diri dengan cepat untuk mengejar Swi Nio dan Toan KI. Kalau dia dapat menyusul mereka dan minta kembali Pusaka Pulau Es dia dapat langsung kembali ke Pulau Es dan selanjutnya…… entah, dia sendiri tidak tahu apakah dia ada niat untuk kembali ke daratan besar. Tidak, dia akan tinggal di pulau itu, di mana dia terlahir. Biarpun pulau itu sudah kosong, dia akan tinggal di tempat kelahirannya itu sampai mati! Bercucuran pula air matanya ketika dia berpikir sampai di situ dan terkenang kepada suhengnya. Kalau saja ada suhengnya di sisinya, tentu tidak akan begini merana hatinya. Akan tetapi, betapapun cepat Swat Hong melakukan pengejaran, tetap saja dia tidak berhasil menyusul Swi Nio dan Toan Ki. Bahkan ketika dia tiba di Puncak Awan Merah, tempat tinggal Tee-tok Siangkoan Houw, di tempat ini dia hanya disambut oleh Ang-in Mo-ko Thio Sam, kakek yang menjadi murid kepala Tee-tok itu yang menceritakan bahwa Tee-tok bersama puterinya telah beberapa pekan pergi turun gunung dan bahwa selama itu tidak ada tamu, juga tidak ada Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki seperti yang ditanyakan oleh gadis itu. Swat Hong mengerutkan alisnya. Hatinya mulai bertanya-tanya. Celaka, pikirnya, jangan-jangan dia telah salah memilih orang untuk dipercaya menyelamatkan Pusaka Pulau Es! Jangan-jangan dua orang muda itu sengaja melarikan pusaka-pusaka itu dan bersembunyi! Timbul kecurigaan yang diikuti kemarahan di hatinya, dan berbareng dengan perasaan ini timbul pula semangatnya yang tadinya amat menurun itu. Hidupnya masih perlu dan ada gunanya, setidaknya dia harus menyelamatkan pusaka-pusaka itu agar tidak terjatuh ke tangan orang lain! Perasaan marah dan khawatir ini mendatangkan perasaan bahwa dia masih amat dibutuhkan untuk hidup terus. Sambil menahan kemarahannya, dia berkata kepada murid kepala Tee-tok itu, “Andaikata ada datang Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki, harap minta kepada mereka untuk menanti saya di sini. Dua bulan lagi saya akan kembali menemui mereka.

“Ang-in Mo-ko Thio Sam yang sudah mengetahui kelihaian dara yang pernah menggegerkan Awan Merah ini, mengangguk-angguk. Kemudian Swat Hong meninggalkan Puncak Awan Merah untuk mengambil jalan kembali ke jurusan kota raja untuk mencari kalau-kalau dua orang muda itu dapat berjumpa dengannya di jalan. Namun semua perjalanannya sia-sia belaka. Dua bulan kemudian, kembali dia tiba di Puncak Awan Merah dan untuk kedua kalinya Ang-in Mo-ko (Iblis Tua Awan Merah) menyatakan penyesalannya bahwa dua orang muda yang dicari itu belum juga datang, bahkan gurunya juga belum pulang. “Saya malah merasa gelisah juga memikirkan Suhu.” kata kakek itu. “Keadaan di mana-mana sedang ribut dengan perang, akan tetapi Suhu pergi begitu lamanya belum juga pulang.” Swat Hong menahan kemarahannya. Tidak salah lagi, pikirnya. Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki tentu berlaku khianat, menginginkan pusaka-pusaka itu untuk diri mereka sendiri. Aku harus mencari mereka dan selain merampas kembali pusaka, juga akan kuhajar mereka! Dia berpamit lalu pergi lagi, di sepanjang jalan dia memaki-maki Bu Swi Nio yang dipercaya. “Dasar murid iblis betina itu,” gerutunya. “Gurunya sudah mati, kini muridnya yang menyusahkan aku!” Mulailah Swat Hong mencari-cari kedua orang itu tanpa hasil. sampai dua tahun dia berkelana mencari-cari kedua orang muda itu namun anehnya, tidak ada seorang pun manusia yang tahu akan mereka. Akhirnya timbullah pikirannya bahwa sangat boleh jadi Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki yang tadinya adalah anak buah An Lu Shan yang kini membalik dan berkhianat itu takut kepada pembalasan pemerintah baru dan telah lari mengungsi ke barat, ke Secuan. Sangat boleh jadi! Pikiran ini membuat dia mengambil keputusan dan berangkatlah dia ke Secuan. Sambil mencari pusaka, dia pun ingin membantu Kaisar yang kabarnya sedang menyusun kekuatan untuk menyerang dan merebut kembali tahta kerajaan. Sebaliknya klau dia membantu, pikirnya. Selain untuk mengisi kekosongan hidupnya, juga sekalian untuk mencari Bu Swi Nio an Liem Toan Ki, juga untuk menghancurkan semua kaki tangan An Lu Shan termasuk Ouwyang Cin Cu, dan juga mengingat bahwa ayahnya adalah seorang keturunan pangeran atau raja muda, maka sebenarnya dia masih berdarah bangsawan dan masih ada hubungan darah dengan keluarga kaisar sehingga sepatutnyalah kalau dia membantu. Sementara itu, di ibu kota yang telah diduduki An Lu Shan, di dalam istana di mana An Lu Shan mengangkat diri sendiri menjadi raja, terjadilah hal-hal yang hebat! An Lu Shan sendiri masih melanjutkan wataknya yang kasar dan mau menang sendiri. Satu di antara kesukaannya adalah wanita, maka begitu dia berhasil, tak pernah berhenti setiap malam dia berganti wanita mana saja yang dipilih dan ditunjuknya, tidak peduli wanita itu masih gadis atau isteri orang lain sekalipun! pada suatu malam, dalam keadaan mabok dan sedang gembiranya, An Lu Shan lupa diri dan dalam keadaan setengah sadar dia memasuki kamar mantu perempuannya yang sudah lama sekali dia rindukan secara diam-diam. Kalau sadar dan tidak mabok, dia masih menahan hasrat hatinya. Akan tetapi malam itu, dalam keadaan mabok, dia tidak mempedulikan apa-apa lagi dan memasuki kamar mantunya! Tidak ada seorang pun manusia di dalam istana yang berani melarang, dan pada saat itu, putera An Lu Shan sedang tidak berada di situ.

Dengan penuh perasaan duka dan ketakutan, mantu yang muda dan cantik jelita itu tidak kuasa menolak atau memberontak, sambil menangis dia terpaksa membiarkan dirinya dipeluk dan diciumi mertua yang mabok itu. Dengan suara lirih dan membujuk dia masih berusaha mengingatkan An Lu Shan, namun seorang laki-laki yang tidak hanya mabok arak, melainkan juga mabok cinta berahi, tidak mempedulikan apa pun. wanita hanya dapat merintih dan menangis, diseling suara ketawa gembira dari An Lu Shan. Ketika pintu kamar itu dengan paksa dibuka dari luar oleh pangeran, An Lu Shan telah tidur mendengkur kelelahan dengan muka merah karena banyak arak, sedangkan isteri pangeran itu menangis terisak-isak, berlutut di atas lantai. Pangeran itu menjadi mata gelap, pedang dicabut dan sekali meloncat dia telah menikam dada ayahnya sendiri. “Crappp….!” “Auhhh…. haiii…. kau…. kau…..?” An Lu Shan yang bertubuh kuat itu, biarpun pedang telah menembus dadanya, masih dapat meloncat dan memcengkeram ke arah puteranya. Akan tetapi pangeran yang sudah mata gelap itu mengelak, kakinya menendang sehingga An Lu Shan terdorong jatuh, membuat pedang itu masuk makin dalam. Dia berkelojotan dan tak bergerak lagi! “Tangkap pembunuh…..!!” teriakan ini keluar dari mulut Shi Su Beng yang bersama dengan Han Bu Ong sudah lari ke dalam kamar.

Shi Su Beng menggerakan pedangnya dan terdengar teriakan mengerikan ketika pangeran itu roboh pula di dekat mayat ayahnya dalam keadaan tak bernyawa pula karena lehernya hampir putus terbabat pedang Pangeran Shi Su Beng! Gegerlah seluruh istana. rapat kilat diadakan dan Shi Su Beng yang dianggap membela Kaisar itu mempergunakan kesempatan ini untuk merampas kedudukan Kaisar! Dalam keadaan kacau balau itu, Shi Su Beng mengangkat diri sendiri sebagai raja dan Han Bu Ong menjadi raja muda pembantunya yang setia! Hanyalah mereka berdua saja yang tahu bahwa semua peristiwa itu memang digerakkan oleh mereka berdua! Shi Su Beng yang membangkitkan berahi An Lu Shan terhadap mantu perempuannya, bahkan di dalam mabok, Shi Su Beng yang membujuk supaya Kaisar baru itu memasuki kamar dengan mengatakan bahwa di dalam kamar itu dia telah menyediakan seorang wanita cantik mirip mantunya itu untuk An Lu Shan! Dan selagi An Lu Shan yang mabok itu menggagahi mantunya sendiri, diam-diam Han Bu Ong menghubungi pangeran dan membisikan bahwa ada penjahat memasuki kamarnya. Maka terjadilah seperti apa yang telah direncanakan oleh mereka berdua, yaitu kematian An Lu Shan di tangan puteranya sendiri dan kemudian kematian pangeran di tangan Shi Su Beng. Terjadilah perubahan besar-besaran di kota raja, pergantian kekuasaan dan kembali Han Bu Ong berhasil mengangkat dirinya sendiri seperti yang dicita-citakan ibunya, yaitu menjadi seorang pangeran yang berkuasa, jauh lebih berkuasa dari pada di waktu ibunya masih hidup, yaitu menjadi tangan kanan penguasa baru yang menjadi sekutunya! Akan tetapi, jatuhnya An Lu Shan dan berpindahnya kekuasaan di tangan Shi Su Beng, masih saja belum meredakan ketegangan-ketegangan di kota raja akibat perebutan kekuasaan. Seperti biasa penguasa baru mengangkat teman-temannya sendiri menduduki jabatan tinggi, melakukan penggeseran-penggeseran sehingga menimbulkan dendam dari kawan-kawan yang berbalik menjadi lawan. Dalam keadaan seperti itu, kacau rencana perebutan kekuasaan, kalau perlu dengan cara halus maupun kasar, para pemberontak yang kini memegang tampuk kerajaan itu menjadi lalai. Mereka terlalu memandang rendah Kaisar yang telah melarikan diri ke Secuan, menganggap keluarga Kaisar lama itu sudah jatuh benar-benar.

Kesibukan untuk kepentingan ambisi pribadi membuat mereka lengah dan kurang memperhatikan pertahanan sehingga mereka tidak tahu betapa Kaisar dan keluarganya di Secuan telah membentuk kekuatan baru untuk melakukan pembalasan! Kaisar Tua Hian Tiong, yang hancur lahir batinya karena bukan hanya mahkota kerajaan dirampas oleh pemberontak An Lu Shan, akan tetapi terutama sekali karena selirnya tercinta, Yang Kui Hui, harus mati digantung oleh keputusannya sendiri, setibanya di Secuan, menjadi seorang kakek yang patah semangat dan selalu tenggelam dalam duka cita. Dalam keadaan mengungsi itu, di Secuan, keluarga kaisar dan para pengikutnya yang masih setia, menerima keputusan Kaisar Tua untuk mengangkat Kaisar baru, yaitu putera mahkota yang bergelar Su Tiong. Pada waktu itu sisa pasukan pemerintah yang telah kalah perang terhadap An Lu Shan, di bawah pimpinan Panglima Besar Kok Cu I, telah menyusul pula ke Secuan. Kaisar Su Tiong lalu menghimpun kekuatan dari rakyatnya di daerah Secuan, dan minta bantuan kepada negara-negara tetangga yang bersahabat. Maka terkumpullah pasukan-pasukan campuran yang terdiri dari bermacam suku, bahkan terdapat pula bangsa Turki, Tibet, dan kemudian sekali datang pula bala bantuan dari pasukan Arab yang dikirim sebagai tanda bersahabat oleh Kalipu. Pasukan-pasukan itu disusun menjadi barisan besar dan diberi latihan-latihan berat dalam persiapa kaisar Su Tiong untuk merampas kembali kerajaannya, Kok Cu I. Tidak ada hal penting terjadi selama perjalanan Swat Hong menuju ke Secuan. Gadis yang dahulu berwatak periang dan jenaka itu, yang wajahnya selalu berseri dan gembira, kini menjadi pendiam dan ada garis-garis dan bayangan muram di wajahnya yang tetap cantik jelita walaupun tidakpernah bersolek. Perantauan selama dua tahun mencari-cari pusakanya yang hilang tanpa hasil itu membuat dia merasa berduka dan juga penasaran sekali.

Di dalam hatinya di berjanji bahwa dia takkan pernah berhenti mencari sebelum mendapatkan pusaka Pulau Es itu. Dalam perantauannya itu dia mendengar pula tentang kematian An Lu Shan dan puteranya. Ketika dia tiba di Secuan, pada waktu itu Kaisar yang baru, yaitu Kaisar Si Tiong, memang sedang menyusun tenaga di bawah pimpinan Panglima Besar Kok Cu I sendiri. panglima Kok ini menyebar para pembantunya, yaitu panglima-panglima bawahan di seluruh daerah Secuan untuk menerima dan mendaftar para sukarelawan yang hendak masuk menjadi tentara. Seorang di antara bawahannya yang bertugas mengumpulkan bala bantuan bahkan menghubungi orang-orang asing dari barat ini adalah Panglima Bouw Kiat. Panglima inilah yang telah berjasa menghubungi orang-orang Arab sehingga akhirnya Kaliphu (yang kuasa di Arab) sendiri mengirim pasukan bala bantuan. Bouw Kiat berkedudukan di sebuah dusun daerah selatan dan di sini dia menyusun pasukannya sambil menjamu pasukan dari Arab yang sebagian kecil sebagai pasukan pelopor telah tiba di situ. Panglima Kok Cu I yang cerdik memisah-misahkan para pasukan asing yangmembantunya agar menjauhkan terjadinya bentrokan. Pasukan bantuan dari Turki berada di utara, dari Tibet berada di selatan dan dari timur adalah pasukan yang terdiri dari bermacam-macam suku bangsa. Pada suatu hari, Swat Hong tiba di daerah yang dikuasai oleh Panglima Bouw Kiat inilah. Dara ini merasa heran ketika melihat ada banyak tentara asing yang bertubuh jangkung, bersikap gagah dan berkulit coklat gelap, bermata tajam dan bercambang bauk berkeliaran di daerah itu. Di tengah jalan, dia melihat seorang laki-laki asing yang tinggi besar dan gagah, memegang gandewa dan akan panah dikelilingi prajurit-prajurit Han dan Arab sambil tertawa-tawa. Laki-laki  berusia tiga puluh tahun lebih yang gagah itu berkata dalam bahasa Han yang kaku, “Lihat burung-burung itu! Aku akan menurunkannya sekaligus tiga ekor. Yang mana kalian pilih?” Swat Hong tertarik , berhenti dan memandang ke atas. Diam-diam dia terkejut dan menganggap orang itu sombong. Mana bisa menjatuhkan burung-burung yang terbang begitu tinggi sekaligus tiga ekor kalau orang ini bukan seorang ahli panah yang sakti? “Tiga ekor dari depan!” terdengar teriakan. “Tidak, yang paling belakang adalah paling sukar!” kata orang lain. Perwira bangsa Arab itu tersenyum dan tampaklah giginya yang rata dan putih berkilauan, kumisnya bergerak-gerak. “Biar kujatuhkan dua terdepan dan burung terakhir!” Kelompok burung yang terbang tinggi sudah tiba tepat di atas mereka. Perwira itu memasang tiga batang anak panah pada gendewanya, lalu menarik tali gendewa . Terdengar suara menjepret dan meluncurlah tiga batang anak panah seperti tiga sinar berkilauan ke atas. Dari bawah tidak kelihatan bagaimana burungburung itu terkena anak panah, namun jelas tampak betapa dua ekor burung terdepan dan seekor paling belakang tiba-tiba runtuh ke bawah. Ketika tiga ekor burung itu jatuh ke tanah dan semua orang melihat bahwa dada burung itu tertusuk anak panah, mereka bersorak dan bertepuk tangan memuji. “Boleh juga dia,” pikir Swat Hong sungguhpun dia maklum bahwa kepandaiannya memanah seperti itu hanyalah berguna untuk pertempuran jarak jauh dan sama sekali tidak ada artinya untuk pertandingan berdepan.

Tentu kalah cepat oleh am-gi (senjata rahasia) seperti jarum, paku, piauw dan lain-lain. “Hai, Nona! Tepuk tangan untuk kelihaian Perwira Ahmed!” Tiba-tiba ada seorang laki-laki menegur Swat Hong. Laki-laki ini adalah seorang perajurit Han dan sambil menyeringai dia bertepuk tangan dan mendesak Swat Hong untuk ikut bertepuk tangan.  Akan tetapi Swat Hong tidak mau melayaninya, membuang muka dan melanjutkan langkahnya. Akan tetapi laki-laki itu melompat dan menghadang didepannya sambil bertolak pinggang. “Eitt….. nanti dulu! Berani kau menghina Perwira Ahmed? Dia bukan hanya lihai dan menembak tepat, juga banyak wanita tergila-gila kepadanya! Dan kau berani memandang rendah?” Swat Hong memandang dengan mata melotot lalu mendengus, “Pergilah!” sambil melangkah terus. “Dan kau laki-laki kurang ajar!” Swat Hong berkata dan sekali dia menggerakan lengannya yang terpegang, dia berbalik sudah memegang pergelangan tangan laki-laki itu dan begitu dia membetot, laki-laki itu jatuh tersungkur mencium tanah! “Aihhh, berani kau memukulku?” Prajurit itu marah sekali dan cepat melompat dan menubruk. “Plakkk! Augghhh….!” Perajurit itu terlempar dan mengaduh-aduh, mukanya membengkak. Melihat ini, lima orang perajurit kawan orang pertama itu menjadi marah dan menerjang maju. “Tangkap, dia tentu mata-mata!” Swat Hong merasa muak sekali dan juga marah. Melihat lima orang itu menerjang dan hendak berlumba menangkap dan merangkulnya, kaki tangannya bergerak dan dalam segebrakan saja, lima orang itu pun roboh tersungkur dan tidak dapat berlagak lagi karena mengaduh-aduh kesakitan. Tentu saja keadaan menjadi ribut dan banyak anak buah pasukan mengurung, akan tetapi tiba-tiba perwira yang ahli menggunakan anak panah tadi meloncat maju dan menghadik. “Mundur semua!” Setelah orang-orang mundur tidak melanjutkan gerakan mereka untuk mengeroyok, perwira itu membungkuk di depan Swat Hong sambil berkata, “Harap Nona maafkan. Sudah lazim bahwa anak buah pasukan selalu bersikap kasar. Nona tentu bukan orang sini, kalau boleh bertanya hendak ke manakah?” “Hemm, pikir Swat Hong. Pantas kalau banyak wanita tergila-gila. Memang perwira yang bernama Ahmed ini gagah sekali, gagah dan tampan, amat keras daya tariknya terhadap wanita terutama sekali sepasang matanya yang tajam dengan bulu mata panjang lentik dan alis yang tebal itu. Juga dagunya berlekuk dan menambah kejantanannya. Selain tampan dan gagah, juga laki-laki ini pandai bersikap manis terhadap wanita. “Sudahlah,” kata Swat Hong. Aku pun tidak ingin mencari permusuhan, asal mereka jangan kurang ajar. Bahkan aku ingin menghadap Kaisar untuk membantu perjuangannya. Di manakah aku dapat menghadap Kaisar?” Mendengar ucapan gadis yang cantik jelita dan gagah itu, seketika lenyaplah kemarahan para prajurit. “Aih, kiranya seorang lihiap (pendekar wanita)!” “Tentu tokoh kang-ouw kenamaan!” Perwira Ahmed menghentikan ribut-ribut itu dan kembali dia tersenyum, manis dan menarik sekali. “Untuk membantu perjuangan, tidak perlu menghadap Sri Baginda, Nona. Tidak mudah menghadap Sri Baginda yang sedang sibuk. Kebetulan di sini juga merupakan markas dan dipimpin Bouw-ciangkun. Banyak pula orang-orang kang-ouw yang telah diterima menjadi sukarelawan. Akan tetapi baru sekarang datang seorang sukarelawati seperti Nona. Ahh, terimalah hormat dan rasa kagumku, Nona. Engkau tentulah yang disebut pendekar wanita dari dunia kang-ouw, bukan?” Swat Hong tidak peduli, yang penting adalah membantu perjuangan untuk membasmi An Lu Shan dan keturunan atau pengganti…  ê (bersambung)

sumber: www.microsofreader.com.

https://www.goodreads.com/series/68206-serial-bu-kek-siansu

 

Berita ini sudah dilihat 300 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 179
  • Page views today : 201
  • Total visitors : 544,996
  • Total page view: 1,130,087