Connect with us
Update Now

Uncategorized

KPK Tanyakan ke Cak Imin Apakah Ikut Terima Aliran Dana

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 413,415 kali

POST – Lama tak terdengar kabarnya, politisi yang sempat ngebet ingin damping Jokowi di Pilpres lalu ternyata mulai berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pada Rabu (29/1), KPK memeriksa Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau yang akrab dipanggil Cak Imin terkait proyek di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tahun anggaran 2016. Plt Jubir KPK Bidang Penindakan, Ali Fikri mengungkapkan, penyidik membutuhkan keterangan Cak Imin untuk tersangka Hong Artha terkait pengetahuan Cak Imin tentang aliran dana untuk dugaan suap PUPR jalan di Maluku dan Maluku Utara. “Kan ada Rp 7 miliar, ada juga Rp 1 miliar dan sebagiannya, nah itu pengetahuan saksi sejauh mana, ya terkait itu. Bahwa apakah saksi mengetahui atau bahkan apakah itu saksi ikut menerima dan sebagiannya itu tentunya tidak bisa kami sampaikan untuk saat ini,” kata Ali di Gedung KPK Jakarta, Rabu (29/1). Pertanyaan tersebut, lanjut Ali, juga ditanyakan kepada beberapa politikus PKB yang sebelumnya juga telah diperiksa sebagai saksi oleh lembaga antirasuah. Keterangan para elite partai dibutuhkan penyidik untuk membuktikan adanya dugaan perbuatan Hong Artha. Sebelumnya, beberapa nama politikus PKB juga dipanggil lembaga antirasuah. Salah satunya Wakil Gubernur Lampung yang juga politikus PKB Chusnunia Chalim alias Nunik. Selain itu, tim penyidik juga pernah memeriksa tiga politikus PKB Fathan, Jazilul Fawaid, dan Helmi Faisal Zaini. Dalam perkara ini, KPK menduga Hong Artha bersama-sama memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada Kepala Badan Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) IX Maluku dan Maluku Utara, Amran HI Mustary. Amran diduga menerima uang sebesar Rp 8 miliar dan Rp 2,6 miliar dari Hong Artha. Hong Artha sendiri merupakan tersangka ke-12 setelah sebelumnya KPK menetapkan 11 orang lainnya. Dari 11 orang tersebut, 10 diantaranya sudah divonis bersalah dan dijebloskan ke penjara. Penetapan status tersangka terhadap Hong Artha dilakukan pada 2 Juli 2019 lalu. Namun, hingga kini, KPK belum melakukan penahanan terhadap Hong Artha. Kasus ini bermula dari penangkapan mantan anggota Komisi V DPR RI Damayanti pada 13 Januari 2016. Dalam perkara tersebut, Amran telah divonis enam tahun penjara dan denda Rp 800 juta subsider empat bulan kurungan karena menerima Rp2,6 miliar, Rp15,525 miliar, dan 202.816 dolar Singapura. Sementara Damayanti juga telah divonis 4,5 tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan karena terbukti menerima 278.700 dolar Singapura dan Rp1 miliar. “Saya datang untuk memenuhi panggilan sebagai saksi dari Hong Artha,” kata Cak Imin seusai pemeriksaan di Gedung KPK Jakarta, Rabu (29/1). Menurut Cak Imin, penyidik KPK menjadwalkan pemeriksaan terhadap dirinya pada Kamis (30/1). Namun, lantaran ia memiliki jadwal acara lain sehingga ia meminta untuk dimajukan jadwalnya. “Alhamdullilah selesai semuanya sudah-sudah saya berikan penjelasan ya selesai,” kata dia. Saat ditanyakan apakah ada aliran dana yang masuk ke partainya, Cak Imin langsung membantahnya. “Tidak benar, kaitannya tidak ada,” tegasnya.
Sumber: republika.co.id dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 180 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 100
  • Page views today : 111
  • Total visitors : 553,668
  • Total page view: 1,140,120