Connect with us
Update Now

Dunia Islam

Kisah Qarun, Orang Miskin Jadi Milyuner Lalu Sombong dan Ingkar

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 438,979 kali

Ilustrasi, kisah Qarun, orang terkaya tapi sombong yang pernah ada di muka bumi (dok, jadiberita.com)

BệBASbaru.com, DUNIA ISLAM – Saat ini di dunia, ada 4 orang yang dianggap paling kaya raya, ketiganya ternyata keturunan Yahudi. Yakni Jeff Bezos bos Amazon, Bill Gates bos Microsof dan pemilik mobol Tesla, Elon Musk, terakhir pemilik whatsapp dan facebook, Mark Zuckerberg.  Kekayaan mereka di taksir hampir 9.000 trilyun rupiah, kalau di gabungkan.

Tapi, kekayaan mereka itu tidak ada apa-apanya dibandingkan milyuner di jaman Nabi Musa AS, yakni Qarun. Di dalam Alquran dijelaskan, kekayaannya sangat melimpah. Bahkan, untuk kunci-kunci Gudang hartanya saja harus dipikul sejumlah orang dengan badan yang besar dan kuat. (QS Al Qashash [28]: 76).

Qarun disebutkan punya kekerabatan dengan Nabi Musa, ada yang bilang sepupu, ada juga yang bilang hanya sahabat biasa dan jadi umat yang sangat alim dan taat beribadah kepada Allah SWT, dan selalu mematuhi perintah Nabi Musa, tapi dia sangat miskin dan tidak punya apa-apa, bahkan anaknya yang banyak sering kelaparan saking miskinnya.

Qarun meminta ke Nabi Musa, agar didoakan kepada Allah SWT, supaya diberikan kekayaan dan janji akan mempergunakan kekayaannya kelak, untuk membantu sesamanya. Nabi Musa tentu saja dengan senang hati mendoakan, karena Qarun termasuk umat yang taat beribadah dan yakin akan menepati janji-janjinya.

Ini Dia, 5 Harta Karun yang Konon Masih Terkubur di Bumi Indonesia -  Halaman all - Surya Malang

Ilustrasi, harta terpendam yang di sebut harta karun, untuk mengingat kisah Qarun yang ditenggelamkan ke bumi oleh Allah SWT, dengan seluruh hartanya (dok, tribunnews.com)

 

Nabi Musa adalah seorang Kalimullah, yang bisa bercakap langsung dengan Allah SWT, tanpa perantara Malaikat Jibril. Doa Nabi Musa dikabulkan, dan Qarun pun lambat laun jadi kaya raya, karena usaha dagangnya makin besar dan malah dia memonopoli ekonomi di kaum Bani Israel, termasuk di rakyat Raja Fir’aun, dia malah akrab dengan Raja Fir’aun dan mulai membangkang perintah Nabi Musa.

Tak hanya memiliki banyak harta, tapi Qarun juga termasuk orang berilmu. Bahkan, dirinya tercatut sebagai ahli kitab Taurat setelah Nabi Musa AS dan Harun. Kepandaian Qarun dalam ilmu agama membuat dirinya sering disebut dengan “Munawir” karena kemerduan suaranya dalam membaca kitab Taurat. Selain itu, Qarun juga lihai dalam berbisnis dan mengetahui trik investasi yang menguntungkan serta jalur perdagangan internasional yang strategis.

Ribuan gudang yang dimilikinya penuh dengan emas dan perak. Namun, sayang keberuntungan yang didapat membuatnya gelap mata. Qarun pun mulai hidup dengan penuh pamer kekayaan dan sombong.  Kekayaan yang diberikan Allah SWT malah membuatnya lupa dengan Sang Pemberi.

Bill Gates, Elon Musk dan Jeff Bezos, trio orang terkaya di dunia saat ini, tapi walaupun digabung, kekayaan mereka tetap kalah jauh dengan harta Qarun yang hidup di jaman Nabi Musa AS.

 

Pernah dikisahkah, Qarun memamerkan harta kekayaannya dengan mengenakan pakaian mewah, didampingi 300 pelayan laki-laki dan 300 pelayan perempuan. Tak cukup itu, Qarun juga dikelilingi oleh 4000 pengawal dan diiringi 4000 binatang ternak, ditamah 60 ekor untar yang membawa kunci-kunci gudang dimana harta kekayaannya tersimpan.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 76 yang artinya:

“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.”

Janji Qarun untuk lebih taat beribadah dan membantu sesama jika diberi kekayaan oleh Allah SWT dilupakan. Dia mempergunakan kekayaan tersebut dalam kesesatan, kezaliman, dan permusuhan sehingga membuatnya menjadi sombong dan terlena kekayaan. Sosok Qarun sangat jelas mendurhakai Allah SWT.

 

Bahkan para Muslimin pada masa itu pernah menasihati Qarun untuk bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Tapi, dia malah mengindahkan nasihat tersebut. Dari sikapnya tersebut sudah jelas sekali bahwa Qarun tidak membutuhkan nasihat kebenaran, bahkan merasa tidak takut dengan ancaman Allah SWT. Sebab, Qarun sudah memiliki segalanya, dirinya hebat, pintar, dan punya banyak harya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 78 yang artinya:

“Sesungguhnya, aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.”

Qarun juga menunjukkan bahwa dirinya bukanlah orang yang berakhlak. Akhlaknya begitu buruk kepada sesama manusia, apalagi terhadap Allah SWT yang memberi semua harta kekayaan itu. Sudah pasti, Qarun adalah lelaki yang tidak memiliki akal sehat. Sosoknya jauh dari orang berakal. Hanya orang berakal lah yang mendapatkan cinta dari Allah dan Rasul-Nya.

“Orang yang paling kucintai dan yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti adalah yang paling baik akhlaknya, yaitu yang tawadhu’ yang mencintai dan dicintai.” (HR Thabrani)

Di dalam Alquran juga telah dijelaskan bahwa Qarun merupakan lelaki yang berkhianat, bukan hanya kepada Nabi Musa AS, tetapi juga Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mukmin ayat 23-24 yang artinya:

“Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata kepada Fir’aun, Haman, dan Qarun, maka mereka berkata, ‘(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta’.”

Sikap sombong lain yang diperbuat Qarun adalah ketika Nabi Musa AS diperintahkan oleh Allah SWT untuk menunaikan zakat. Ketika Qarun dimintai zakat, ia pun langsung marah dan tidak memberikan sedikit kekayaannya. Lantas, apa yang dipikirkan Qarun? Dia berpikir bahwa harta kekayaan yang dimilikinya didapat dari hasil kerja keras dan usahanya dan tidak ada kaitan dengan siapa pun, termasuk Allah SWT.

Gambaran kisah Qarun menunjukkan bahwa dirinya sangat sombong, zalim, durhaka kepada Allah SWT, pelit, dan tidak memiliki akal sehat. Perbuatan Qarun sangat tidak patut dicontoh oleh siapa pun. Selalu ingat bahwa apa yang kamu miliki saat ini hanyalah sebuah titipan dari Allah SWT dan cobalah untuk selalu bersyukur atas nikmat tersebut.

Harta bukanlah hal yang bisa diperhitungkan sebagai bekal di akhirat, namun amalan baik lah yang menuntunmu menuju surga.Qarun terus berbuat aniaya, ia angkuh dan sombong. Hatinya beku dan akalnya keras, sehingga ia tidak bisa menerima nasihat kebenaran. Ketika diperingatkan agar tidak angkuh dan sombong dengan harta yang dimilikinya ia malah berpaling sembari berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS Al Qashash [28]: 78).

Menurut Ibnu Katsir, ucapan Qarun itu menunjukkan bahwa dia tidak butuh nasihat kebenaran. Bahkan, ia tidak merasa butuh dengan apa pun, termasuk ampunan dan ancaman Allah SWT. Ia merasa dirinya hebat dan harta yang dimilikinya murni karena kepintarannya.

Sikap Qarun yang tidak bisa menghargai orang lain dan selalu menganggap dirinya lebih baik dan lebih terhormat hanya semata-mata karena harta yang dimiliki adalah sikap orang yang kurang akal. Sikap demikian biasanya umum terjadi pada mereka yang dititipi harta kekayaan.

Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitabnya, Taj al-‘Aruus al-Hawi li Tahdzib al-Nufus menjelaskan,  “Hal pertama yang semestinya engkau tangisi adalah akalmu. Sebagaimana kekeringan bisa terjadi pada rumput, akal juga bisa mengering.

Berkat akal manusia dapat hidup berdampingan bersama manusia lain dan bersama Allah. Bersama manusia dengan akhlak yang baik dan bersama Allah dengan mengikuti apa yang diridai-Nya.”

Jadi, kriteria orang berakal atau tidak, sama sekali bukan pada berapa kekayaan yang dimiliki, tetapi pada bagaimana akhlak yang dimiliki, baik akhlak kepada sesama manusia maupun kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang paling kucintai dan yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti adalah yang paling baik akhlaknya, yaitu yang tawadhu’ yang mencintai dan dicintai.” (HR Thabrani).

Dengan demikian dapat dipahami bahwa orang yang berakal bukanlah orang yang semata-mata kaya, tetapi orang yang memanfaatkan siang dan malamnya untuk zikir dan pikir, sehingga tidak bertambah usia melainkan bertambah baik keimanan dan ketakwaannya, serta semakin baik pula akhlaknya, baik kepada sesama maupun kepada Allah SWT

Sumber: kumparan.com dan republika.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 258 kali