Connect with us
Update Now

Kisah Tokoh

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 20)

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 128,564 kali

Sejarah Umat Islam setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW sangat menarik sekali untuk kita ketahui dan tentu saja wajib kita ketahui, agar kita tahu bagaimana perjuangan dalam menegakan syariat Islam yang luar biasa hambatan dan rintangannya. Sekaligus kita juga tahu bagaimana Agama Islam mampu jadi perekat seluruh Umat Manusia hingga akhir jaman. Kenapa kami angkat kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz? Karena kita tahu saat ini sangat langka ada pemimpin yang seperti beliau. Baik ketaqwaannya, keadilannya, ketegasannya serta benar-benar hanya memikirkan Umat Islam dan tidak hanya diri sendiri dan keluarga beliau saja. Inilah kisahnya yang kami kutif dari buku ‘Mengenal Pola Kepemimipinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah” Alih Bahasa Oleh: Mahyuddin Syaf dkk, cetakan kedua dari Penerbit CV Diponegoro, Bandung, Tahun 1985. Selamat membaca mulai edisi ini dan seterusnya, semoga bermanfaat

Masa Kemunduran Dinasti Umayyah

Selama jadi Khalifah, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz lebih suka berdiplomasi daripada selalu menerapkan kekerasan atau perang dengan negara lain yang berbeda faham adan agama. Pasukan-pasukan yang berperang dia suruh pulang dan dia juga menggaji para prajurit dengan gaji yang besar untuk mensejahterakan para prajurit (dok, UMMA) 

Tidak hanya keikhlasannya yang telah membakar hangus segala bentuk ketamakan. Kelkhlasannya telah menulari dirinya dari segala macam godaan dan penyelewengan. Sebagaimana ia juga menjadi benteng yang tangguh yang melindungi dirinya dari segala macam intimidasi dan ancaman. Ketika Umar menghapuskan hak-hak istimewa bagi para penguasa daulat Bani Umaiyah, beberapa kawan dekatnya berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, apakah anda tidak takut terhadap tindakan yang diakibatkannya?” Mendengar pertanyaan itu, yang biasanya lemah lembut, santun dan tiada henti-hentinya menangis itu , tiba-tiba wajahnya menjadi merah padam. la bangkit seperti singa, dan suaranya keras bagaikan halilintar. “Apakah kalian menyuruh diri saya takut pada selain kiamat…? sama sekali tidak ada artinya bagiku …!” Benar, sifat-sifat utama itu akan beroleh pahala yang setimpal …. dan bila keikhlasan seseorang telah mencapai tingkatan seperti ini, maka keikhlasannya itu akan dapat melenyapkan segala halangan dan rintangan yang tidak mungkin dilenyapkan oleh apa pun juga. Kebiasaan-kebiasaan jelek yang dilakukan oleh para khalifah keluarga Bani Umaiyah selama ini, kebobrokkan yang merajalela, baik politik maupun ekonomi dan sosial terutama pengangkatan para keluarga untuk jabatan yang penting, semuanya luluh di bawah jiwa yang ikhlas dari Umar bin Abdul Ariz. Apabila kita telah terpesona oleh kemampuannya yang luar biasa dalam menyapu segala ranjau dan bendungan, maka sebelum itu, ia pun telah mempesonakan kita dengan makna keikhlasan yang terdapat dalam pengertian dan hati nuraninya. Meskipun ia memang cerdas, tapi tidaklah benar anggapan yang menyatakan bahwa ia menghadapi tanggung jawabnya dengan kecerdasan otaknya. Tetapi menghadapi itu semua dengan keilkhlasannya semata.  la berlepas diri dari daya dan tenaganya kepada tenaga Allah SWT.  Dengan keikhlasannya yang murni itu, ia tinggi dari kodrat insani, dari ikhtiar pribadi  menunju ikhtiar izzati dan dari penglihatan manusiawi menuju taufiq rohani. Oleh sebab itu do’a yang tidak pernah putus –putusnya diucapkannya adalan: “Ya Allah, jadikanlah aku rela dengan keputusanMu. Berkahilah aku dengan takdirMu, sehingga aku tidak akan suka memajukan sesuatu yang Engkau undurkan dan mengundurkan apa yang Engkau majukan”. la menyadari bahwa keikhlasan itu manakala sudah dapat rnenghimpun daya dan tenaga manusia dan meleburnya pada pola dan acuannya, maka ia akan dapat melipatgandakan potensi kerja jadi berlipat ganda. la takkan terpecah belah dalam maksud dan tujuan, sebaliknya ia akan bersatu padu dalam amal dan sasaran. Dan kesatu paduan inilah yang menjadi hasil dari ke ikhlasan itu, yakni suatu buah yang amat manis dan amat diharap-harapkan. Sebagaimana halnya listirik dapat menimbulkan daya dan memancarkan-cahaya, maka keikhlasan terhadap tanggung jawab pemerintahan pun dapat melahirkan kekuatan hidup dalam diri Umar bin Abdul Aziz, satu kekuatan yang tidak dari kesucian.  Sedangkan kesucian itu adalah hasil keikhlasan dari keutamaan-keutamaan rohani yang bersatu padu dan bercahaya-cahaya serta kemudian memancar dan menampakkan diri dalam puncak kegemilangan dan terang benderang. Di sinilah terciptanya kesucian itu, dan di sini pula munculnya manusia suci. Tanggung jawab telah memberikan taufik kepada Umar bin Abdul Aziz. Keutamaan-keutamaan serta kesuciannya telah men-capai tingkatan yang paling tinggi . Dari sini dapat ditarik kesimpulan, bahwa tanggung jawab itulah yang menjadi penyebab langsung dari diperolehnya kesucian. Dan inilah yang merupakan saripati dari mukjizatnya yang luar biasa itu. Seandainya ia sejak semula memang suci, lalu kekhalifahan nya datang kepadanya dan ia mampu mempertahankan kesucian dan keluhuran itu. Berarti ia hanya meneruskan jejak langkahnya yang lama. Akan tetapi kenyataan yang terjadi adalah bahwa jabatannya sebagai khallfah justru yang membangkitkan kesucian itu. Tanggung jawabnya yang besar, merupakan tangga yang mengangkatnya kepada kesucian dirinya dalam sekejap mata ke surga kesucian dan kepada kedudukan seorang yang suci! Ada satu pemyataan yang dikemukakan oleh para penulis biografinya yang menarik perhatian dan menyebabkan kita tertegun. Bunyinya “Lalu dibai’atlah Umar bin Abdul Aziz sebagai Kalifah, kemudian duduklah ia bersimpuh di atas tanah . “. Pernyataan singkat ini memberi gambaran kepada kita tentang kekuatan (kesucian) yang dianugrahkan Allah SWT kepada hamba-Nya yang saleh, Umar bin Abdul Aziz. la merupakan kekuatan yang menyapu bersih segala corak dan norma formal yang konvensional, guna membentuk norma-norma khusus dan hubungan-hubungan yang tulus. Tidak ada halangan baginya untuk duduk. Penampilannya seperti itu tidaklah menjatuhkan martabat dan wibawanya. Bahkan sebaliknya, hal itu mengangkatnya. Benar, tidak ada halangan apa pun bagnya. Umar mengetahui semuanya dengan ilmunya yang dalam serta wawasan pandangannya yang sangat luas. Sungguh, yang merubah semuanya bukanlah karena jiwa kekhalifahannya, melainkan jiwa kesuciannya. Kesucian itu (selamanya) menempatkan media yang dipergunakannya setaraf dengan sasaran yang hendak di capainya. Hingga baginya, mencapai sasaran itu tidaklah begitu penting, tetapi media itulah yang terpenting. Dan ia mempunyai media dan cara tersendri untuk itu. la berhubungan dengan inti setiap sesuatu, dan tidak dengan sesuatunya itu sendiri. Manakala menurut pandangan kesucian, inti kekuatan itu berarti ketundukan mutlak dan bertanggun jawab kepada semua hak manusia, yang menyerahkan kepemimpinan kepadanya, maka kedudukannya adalah di tengah-tengah mereka itulah, dan bukanlah berada di hadapan meraka. Dan bentuk yang paling cocok pada pandangan Umar tentang kenyataan ini, muncul dengan ungkapan sebagaimana yang telah dilakukannya, yakni duduk di atas tanah bertatap muka dengan rakyatnya. Benar, yang jadi inti persoalan bukanlab duduknya di atas tanah itu, tetapi maknanya yang terkandung dalam tindakan itu suatu kenyataan yang amat indah, yang ditamsilkan dengan “duduk di atas tanah”, Suatu hakikat bahwa kekuasaan itu berarti ketundukan mutlak terhadap hak-hak rakyat ! Dengan demikian, dari segi lahiriah ia akan mengambil ketundukan yang maksimal. Semantara dari segi maknaniyah berarti keterikatan yang seerat-eratnya. Karena Pengertian semacam itulah, maka khalifah tidak segan-segan duduk di atas tanah yang antara dirinya dengan debu tidak ada yang memisahkan, kecuali sehelai tikar yang menjadi alas duduknya. la duduk di atas tanah untuk menghilangkan citra keunggulan dan ketinggian dari pandangan rakyatnya. la turun dari singasana yang megah ke tanah yang rendah, kepada kerendahan hati dan kasih sayang. Kesucian yang dinikmati oleh putera Abdul Aziz ini , adalah kesucian seorang tokoh yang semua peribadatannya selalu berada dalam bimbingan Allah SWT. Tanpa terhalang oleh tabir atau jarak. Karena demikian besarnya rasa tanggung jawab terhadap rakyatnya, maka tatkala dianjurkan orang kepadanya untuk mengeluarkan sejumlah dana yang besar untuk kiswah (kain penutup Ka’bah), maka jawabnya: ‘Dana sebesar itu lebih baik diberikan untuk perut mereka yang sedang kelaparan. Sebab mereka lebih memerlukannya daripada Ka’bah !”. BERSAMBUNG

Berita ini sudah dilihat 104 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 252
  • Page views today : 282
  • Total visitors : 532,259
  • Total page view: 1,116,118