Connect with us
Update Now

Kisah Tokoh

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 19)

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 131,683 kali

Sejarah Umat Islam setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW sangat menarik sekali untuk kita ketahui dan tentu saja wajib kita ketahui, agar kita tahu bagaimana perjuangan dalam menegakan syariat Islam yang luar biasa hambatan dan rintangannya. Sekaligus kita juga tahu bagaimana Agama Islam mampu jadi perekat seluruh Umat Manusia hingga akhir jaman. Kenapa kami angkat kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz? Karena kita tahu saat ini sangat langka ada pemimpin yang seperti beliau. Baik ketaqwaannya, keadilannya, ketegasannya serta benar-benar hanya memikirkan Umat Islam dan tidak hanya diri sendiri dan keluarga beliau saja. Inilah kisahnya yang kami kutif dari buku ‘Mengenal Pola Kepemimipinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah” Alih Bahasa Oleh: Mahyuddin Syaf dkk, cetakan kedua dari Penerbit CV Diponegoro, Bandung, Tahun 1985. Selamat membaca mulai edisi ini dan seterusnya, semoga bermanfaat

===========================================================

Tidak lama antaranya, Fatimah telah terbiasa dan menyenangi kehidupan yang dipilih oleh suaminya untuk dirinya sendiri dan seluruh keluarganya. Dan ia menghayatinya dengan setia dan penuh rasa cinta. Sentuhan berkah dari suaminya yang suci rupanya telah dapat dirasakan dan dinikmatinya. hingga di ballk kehidupannya yang berat, ia menemukan kebahagiaan terpendam yang tak terhingga nikmatnya. Sementara dari puncak dunia yang fana Ini ia telah melihat surga Firdaus yang maha tinggi. Serta  keridhaan AlIah SWT yang Maha Besar. Dengan kejelasan tanggung jawabnya ini, dengan keterlibatannya yang sangat luas di dalamnya, ditambah dengan keikhlasan yang ada pada dirinya, sempurnalah ikatan Umar bin Abdul Azis dengan tanggung jawabnya. Ikhlas dalam melaksanakan tanggung jawab, bagaimanapun coraknya dapat menjelma menjadi pagar penjaga, yang akan memelihara segala sesuatu yang ada di dalamnya, serta menghindarkan sikap egois dan memperturutkan hawa nafsu semata. Itulah inti keikhlasan yang dimiliki oleh Amirul Mukminin Umar bin Abdul Azis, dalam melaksanakan tanggungjawabnya. Dalam menunailkan tanggung jawabnya itu, ia sama sekali tidak mengharapkan keuntungan atau memperoleh kekayaan duniawi. Telah betul-betul tenggelam dan menyatu dengan tanggung jawabnya, sehingga tiada satu pun benda yang ada di tangannya, di depan dan di belakangnya yang dapat menggoda dan memalingkannya. Keikhlasannya betul-betul diabdikan-nya hanya kepada Allah SWT semata. Orang semacam Umar bin Abdul Aziz, manakala sudah Ikhlas kepada Allah SWT, tidak akan lagi tergiur oleh masalah-masalah duniawi serta membagi perhatiannya kepada Allah SWT dan kepada dunia! Dengan mengulang-ulang ayat:

“Dan sebagian besar dari mereka bukanlah orang-orang yang beriman. Melainkan musryik  kepada-Nya”

Maka keterikatan hatinya kepada Allah SWT sudah demikian kuat. Hingga berkat dorongan ayat itu, ia dapat menunjukan keikhlasannya kepada Allah  SWT dan AgamaNy mencapai puncak tertinggi. Dalam pandangannya yang tajam, ia dapat menghayati bahwa satu hal yang paling kecil sekalipun, berupa riya atau mengambil muka, akan dapat merusak keikhlasan dan menodainya. Dan hal inilah yang dimintakan perhatian oleh Rasulullah SAW. Kepada para sahabatnya untuk dihindari, yang oleh beliau disebut sebagal syirik khafi (kemusyrikan yang tersembuyi). Menurut pandangannya, hal tersebut tak ubahnya bagai seekor semut hitam yang merayap secara diam-diam di atas batu hitam di malam yang kelam. Berbahagialah engkau wahai Armirul Mu’mini, engkau telah dapat menghindarkan diri dari gerayangan semut hitam yang merongrong keikhlasan anda . Sikapnya yang demikian kemudian menjadi buah bibir rakyatnya:

“Inilah khalifah pertama dari Dinasti Umaiyah yang kita tidak perlu terlebih dahulu mengetuk pintu Istananya. Segala sesuatu yang menjadi hak kita, akan datang kepada kita tanpa harus memintanya.. Sebaliknya, yang bukan menjadi hak kita, hanya dengan menyerahkan batang leher kita dapat merebutnya….

Memang benar, tidak ada seorang pun yang dapat rnenghadang langkah dan keikhlasannya, baik ia kerabat yang dekat ataupun teman yang akrab. Sekali waktu terjadilah perselihan di antaranya dengan salah seorang penguasa Umaiah lainnya yang merasa mempunyai hak terhadap sesuatu yang selama ini dikusainya. Kemudian ia berkata kapada Amirul Muminin: Saya akan tunjukkan akte yang dibuat oleb Khalifah Walid!” “Apakah itu berupa Al’Quran?” jawab Umar bin Abdul Aziz dengan tenang. Kebenaran satu-satunya yang dijadikan hukum dan tolak ukur keputusannya…. Tidak ada akte dan piagam yang dipegangnya, selain akte dan piagam kebenaran. Tidak ada kasih sayang dan kekeluargaan kecuali karena sayang dan kekeluargaan yang beriandaskan kebenaran. Tidak ada bantuan dan dari siapapun yang dapat merubah kebenaran yang telab ditetapkannya , tidak ada pun istilah takut dan gentar atau pilih kasih dalam menjalankan kebenaran itu …! Ummu ‘Amr bin Marwan (bibinya) adalah seorang wanita yang manja di kalangan para khalifah dan Pembesar Dinasti Marwan. Selain itu, ia pun seorang yang sangat disayangi dan dihormati oleh Umar bin Abdul Azis. Tatkala hak-hak keistimewaan Daulat Bani Umaiyah dicabut. Maka dicabut pula hak-hak yang dimiliki wanita itu. Oleh sebab itu, ia menemui Umar, yang saat itu didapatinya sedang makan malam. Wanita itu mengucapkan salam. Matanya terbelalak mellhat pemandangan yang hampir tidak dipercayai oleh kedua biji matanya. Apa yang dimakan oleh Umar bin Abdul Aziz tiada lain dari beberapa kerat roti basi dan semangkok kuah. Bumi bagaikan terbalik dalam pandangan wanita Inikah Umar yang dahulu bergelimang kemewahan . . . ? Hanya itukah yang menjadi makanannya? Wanita itu tidak dapat menguasai dirinya lagi, Ia menangis di hadapan Umar. Kemudian katanya:  “Aku datang ke mari karena ada keperluan kepadamu. Tetapi aku tidak akan menyampaikan hal itu sebelum memulai dengan dirimu terlebih dahulu!” Apa yang ingin bibi lakukan?” Umar balik bertanya. “Dapatkah kamu mengambil makanan yang lebih baik daripada ini?” Tapi . . , aku memang tidak punya apa pun selain ini bibi. Kalau ada, tentulah aku akan mengambilnya!” “Pamanmu, Abdul Malik telah memberikan semua yang kubutuhkan.. Kakakmu, Walid malahan menambahnya…. dan demikian pula halnya dengan Sulaiman. Kemudian kekuasaan berpindah ke tanganmu, lalu kamu memutuskan bantuan itu!” Pamanku, Abdul Malik dan kedua saudaraku, Walid dan Sulaiman telah memberikan harta kekayaan kaum Muslimin sebagai bantuan kepada bibi. Sedangkan semua itu bukanlah milikku. Akan tetapi kalau bibi mau, aku dapat memberikan harta milikku sendiri!” “Berapa banyak kekayaan yang kamu punyai hai Amirul Mu’minin?” tanya bibinya pula. “Gajiku , dua ratus dinar setahun, ambilah!” Cukup untuk apa uang sekecil itu bagiku?” ujar wanita itu jengkel. Wanita itu pun pulanglah dengan hati kecewa, karena selama ini, para khalifah Bani Marwan selalu memberinya segala apa yang dimintanya, serta memenuhi segala keinginannya ! Nah, maslah adakah terlihat pertolongan bagi mereka yang meminta tolong dalam sesuatu yang bukan menjadi haknya? Masih dapatkah orang mengharapkan apa yang bukan menjadi miliknya …? BERSAMBUNG

Berita ini sudah dilihat 211 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 303
  • Page views today : 336
  • Total visitors : 532,728
  • Total page view: 1,116,644