Connect with us
Update Now

Kisah Tokoh

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 18)

Diterbitkan

pada

Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)

Sejarah Umat Islam setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW sangat menarik sekali untuk kita ketahui dan tentu saja wajib kita ketahui, agar kita tahu bagaimana perjuangan dalam menegakan syariat Islam yang luar biasa hambatan dan rintangannya. Sekaligus kita juga tahu bagaimana Agama Islam mampu jadi perekat seluruh Umat Manusia hingga akhir jaman. Kenapa kami angkat kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz? Karena kita tahu saat ini sangat langka ada pemimpin yang seperti beliau. Baik ketaqwaannya, keadilannya, ketegasannya serta benar-benar hanya memikirkan Umat Islam dan tidak hanya diri sendiri dan keluarga beliau saja. Inilah kisahnya yang kami kutif dari buku ‘Mengenal Pola Kepemimipinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah” Alih Bahasa Oleh: Mahyuddin Syaf dkk, cetakan kedua dari Penerbit CV Diponegoro, Bandung, Tahun 1985. Selamat membaca mulai edisi ini dan seterusnya, semoga bermanfaat

 

Mereka semua, senantiasa bercokol dalam hatinya dan mengajukan padanya kebutuhan-kebutuhannya, keluhan-keluhannya dan pengaduan-pengaduannya. Dibayangkannya sermua itu sedang menunggun-nunggu kesempatan untuk menyeretnya ke mahkamah Illahi. yakni di hadapan Allah Qadhil Izazti pada hari kiamat nanti. Sedangkan tak seoang pun yang dapat menyelamatknya selain usahanya sendiri, dalam memberikan hak mereka, keadilan. kesejahteraan dan kebaikan yang mereka butuhkan! Dari gambaran sepintas mengenai jelasnya tanggung jawab yang dihadapinya, sekarang kita beralih kepada gambaran lain mengenai keterlibatannya yang mendalarn dalam tanggung jawab dan usahanya yang mati-matian untuk menyelesaikannya. Tanggung jawab itu sudah demikian menyita seluruh perhatiannya, hingga ia tak sempat menghiraukan kepentingan dirinya. keluarganya, dunianya dan alam sekitarnya. Bahkan ia lupa kepada haknya untuk beroleh imbalan waktu hanya sekedamya. disebabkan rasa takutnya yang demikian hebat kepada Allah SWT. Ia hampir tak pernah mengingat suatu pun selain tanggung jawabnya itu. Semua pekerjaannya dikerjakan demikian hati-hati disebabkan rasa takut seakan-akan hal itu merupakan sesuatu yang selama ini belum pernah dialaminya. Selalu terlintas dalam benak dan hatinya bayangan yang tak pernah lekang, yaitu pertanggung jawabannya nanti di hadadapan Allah Azza Wajalla, yang menanyainya perihal pengabdiannya terhadap agama-Nya.” Tanggung jawab terhadap semua umat yang berada di bawah kepemimpinannya. Fathimah (isterinya) mengatakan : selalu ingat akan Allah selagi dI tempat tidurnya. Tubuhnya gemetar laksana seekor burung pipit yang dinginan karena takutnya. Bahkan ak suka berkata pada diriku sendiri: “jangan-jangan esok pagi. Di saat semua orang mulai bangun, mereka telah kehilangan khalifah mereka …!” Sementara itu Ali bin Zaid mengatakan “Umar bin Abdul Aziz selalu ketakutan, seakan-akan neraka Itu hanya diciptakan untuk dirinya saja!” Keterlibatannya dalam tanggung jawab sudah demikian jauh menembus bata-batas yang paling dalam. la merasa malu bila dilihat oleh Allah tatkala ia sedang mengunyah makanan yang sedikit enak, atau mengenakan pakaian yang sedikit indah, bahkan merasa malu bila dilihat Allah bibirnya melukis tawa. Walau hanya tawa yang wajar sekalipun! Hingga semenjak ia diangkat menjadi Khalifah sampal kembali mene-mui Khaliqnya, tak pernah ia tertawa. Laki-laki yang sebelum diangkat menjadi Khalifah merupakan seorang yang kaya raya, senang makanan lezat, suka bersolek dan berpakaian mewah , kini dalam waktu sekejap dirubah oleh rasa tanggung jawabnya yang besar menjadi manusia yang lain sama sekali. Menjadi orang yang kusut masai dan tak karuan pakaiannya. Memang, ia seperti kakeknya (Umar bin Khatthab) yang agung itu. Bila ada seseorang yang belum mengenalnya, kemudian bertemu dengannya, mungkin ia akan bertanya padanya manakah saya dapat menemui Amirul Mu’minin?” Ya. Umar bin Abdul Aziz betul-betul telah menjauhkan dari kenikmatan dan kesenangan duniawi. la berlindung kepada suasana yang bersahaja, suasana yang telah mendekati suasana miskin dan menderita. Kegoncangan yang timbul dari ketegasan dan tanggung jawab-nya dengan segala kehebatan dan ke agungannya, telah melepaskan setuluh kehidupannya ke tempat yang baru, yang titik beratnya berpusat pada pertanggung jawabannya kepada Allah, tentang hak-hak agama, negara dan umat yang dipimpinnya. Pengatxliannya kepada Allah sudah demikian banyak. Dan Itu merupakan manifestasi dari rasa cintanya kepada Allah. Kini, setelah ia menjadi khalifah bagi umat Islam maka hubungan dengan Khaliqnya bukanlah sekedar hubungan antara hamba dengan Khaliqnya semata, tetapi telah merupakan hubungan antara yang diberi tugas dengan yang memberi tugas. Tatkala isterinya ditanya perihal ibadah suaminya. Ia berkata: demi Allah, ia bukanlah orang yang paling rajin melakukan shalat atau shaum ! Tetapi demi Allah, aku tidak pernah melihat orang yang lebih takut kepada Allah daripadanya.  Benar …!Seandainya ketakutannya ini adalah ketakutan seorang hamba yang khawatir kekurangan ibadahnya, maka pastilah ia akan segera dapat menebusnya… tapi yang dikhawatirkannya adalah tentang amanat kepemimpinan yang dipikulkan kepadanya, la berpendapat bahwa Allah telah memberinya amanat dalam urusan dan ke khalifahan tentang manusia tumbuh-tumbuhan dan juga binatang. Keterlibatan dirinya dalam tanggungjawab, atau tenggelamnya tanggung jawab dalam dirinya, sudah betul-betul tak dapat dilukiskan dan melampaui batas-batas yang paling jauh mencakup segi kehidupannya sebagai khalifah, sebagal suami, saudara, bapak, anak, kerabat dan teman sejawat. Semua yang ada hubungan dengan dirinya, dengan keluarga dan semua orang yang ada di bawah tanggung jawabnya.  Tenggelam bersama dirinya sampai ke dasar yang terdalam. Bahkan mereka turut tenggelam bersamanya, jauh atau dekatnya sesuai dengan tingkat jauh atau dekatnya hubungan kekeluargaan mereka dengan dirinya. Dan hal inilah yang menyebabkan hubungan kekeluargaan dan persaudaraan dengan nya dapat berubah menjadi beban yang berat bagi pihak keluarga dan saudaranya. Tentang kenyataan ini, gambaran  yang dikemukakan oleh pembantu rumah tangganya. Sekali waktu, Amirul Mu’minin melihatnya sedang mengusap keledainya. Amirul Mu’minin pun bertanya, bagairmana kabarnya rakyat kita ?” ‘Semua dalam keadaan sejahtera, kecuali anda sendiri,  saya dan keledal ini!” ujas pembantu itu. Keterlibatan dalam tanggung jawab terpantul pada dirinya, keluarganya dan semua orang yang berada di bawah tanggung jawabnya dengan amat sempurna. Sungguh, Umar bin Abdul Aziz telah berubah menjadi manusia lain yang asing dan aneh. Untuk itu marilah kita simak apa yang dikatakan oleh Muhammad bin Ka’ab al.Quradhi dibawah ini: ‘Sekall waktu saya menemui Umar bin Abdul Aziz setelah ia diangkat menjadi khallfah. Kiranya tububnya sudah sangat kurus, rambutnya telah memutih, raut mukanya sudah jauh berbeda dengan sebelumnya. Padahal, sewaktu ia menjadi gubernur di Madinah, ia adalah orang yang tampan dan berisi. Kutatap wajahnya lama sekali, sehingga dia bertanya kepadaku. “Wahai Ibnu Ka’ab, apa yang menyebabkan anda menatap ku seperti itu, padahal dulu anda tak pemah berbuat demikian. ”Saya sangat heran wahai Amirul Mu’minin!” Apa yang mengherankan anda?” tanyanya. Perubahan diri anda,  badan anda yang telah kurus, rambut anda yang memutih dan raut wajah anda yang memucat, ke mana penampilan diri anda yang mempesona dulu? Rambut hitam lebat, tubuh gempal dan subur?” “Anda akan lebih heran lagi bila melihat diriku nanti setelah terkubur dalam tanah. Mataku akan copot dari tempatnya, dan ulat-ulat akan berkeliaran di mulut dan tenggorokanku!” Setelah berkata demikian ia pun menangis !” Ya, wajah yang tampan dan tubuh yang tegap perkasa itu telah berubah karena deraan tanggung jawabnya yang demikian besar. Suatu hari, di awal jabatannya sebagai khalifah, dipanggilnya isterinya (Fathimah), lalu dihadapkannya pada kenyataan yang harus mereka hadapi. Dengan lemah lembut, disampaikannyalah bahwa sebagai seorang suami, ia sudah tak ada harganya lagi. Beban yang harus dipikulnya demikian berat, hingga tak ada lagi waktu yang tersisa untuk keperluan-keperluan lainnya. Kemudian diserahkannyalah kepadanya hak sepenuhnya untuk memilih jalan hidup dan menentukan hari depannya. Dan Fathimah, namanya akan tetap terukir dengan gemerlapan sepanjang lembaran buku sejarah, kita senantiasa akan menyampaikan hormat dan takzim kepadanya, yakni hormat dan takzim yang memang sudah sepantasnya. Dia selalu mendampingi suaminya yang suci itu memasuki kehidupan yang teramat berat, yakni menyelesaikan tugas dan tanggung jawab. la sama sekali tidak pernah rnengeluh tatkala perutnya keroncongan karena lapar dan tulang-tulangnya terasa nyeri karena lelah bekerja, selain hanya mengatakan: “Wahai, alangkah bedanya kehidupan kami sebelum dan sesudah menjadi khalifah, bagaikan timur dengan barat …”. ‘Demi Allah, kami belum pernah menikmati kegembiraan setelah kami menduduki jabatan ini. Fathimah sudah bertekad bulat untuk menerjunkan diri bersama suaminya dalam tanggung jawabnya yang besar itu. Kini, lenyaplah segalanya dari sisi permaisuri ini,  padahal sebelumnya la adalah puteri seorang khalifah dan merupakan saudara khalifah, yang segala kenikmatan hidup tersedia baginya. Sutera dewangga, intan permata, emas dan perak serta berbagai harta kekayaan lainnya. Dan tinggallah kini hanya dua lembar baju kasar, karena khalifah telah menyuruh semua kekayaannya dijual, termasuk kekayaan isterinya, kekayaan anak-anaknya. Semua uang hasil penjualannya diserahkannya kepada Baitul Mal milik Kaum Muslimin. Kini, ia hanya makan roti kering yang hanya diolesi minyak atau dicampur dengan sedikit bumbu.  Hingga wanita yang cantik itu telah berubah menjadi seorang wanita yang pucat, kuyu dan lunglai! Waktu, Amirul Mu’rninin masuk ke dalam kamarnya. Didapatinya isterinya sedang menambal pakaiannya yang usang sambil duduk bersimpuh di atas tikar. Dipegangnya pundak isterinya, dengan bergurau ia berkata: “Fathimah, alangkah nikmatnya malam-malam yang kita lalui di Dabiq dulu, jauh lebih menyenangkan dari malam-malam seperti sekarang ini “. (maksudnya kehidupan mereka sebelum menjadi khalifah). Maka jawab isterinya: “Demi Allah, padahal waktu itu, kanda tidak lebih mampu dari waktu sekarang ini”. Mendengar ucapan itu, wajah Umar pun menjadi muram, airmatanya pun mengalir . . . . Ia sadar bahwa senda guraunya telah melewati batas, lalu katanya: “Wahai Fathimah . . . , aku takut terhadap siksa Rab-ku jika mendurhakai-Nya, yakni di suatu hari yang amat dahsyat!”…..BERSAMBUNG

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

SPACE IKLAN

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 37
  • Page views today : 43
  • Total visitors : 504,074
  • Total page view: 1,081,678