Connect with us
Update Now

Mahakarya

Kho Ping Hoo BU KEK SIANSU (episode 44)

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 230,995 kali

Sinopsis:

“Bagi para pecinta komik silat, karya-karya Empu pengarang silat Indonesia Kho Ping Hoo sudah tak asing lagi bahkan sudah melegenda, karyanya selalu dinantikan bahkan dibaca berulang-ulang oleh penikmat komik, kali ini kami akan menyajikan serial komik legendaris Bu Kek Siansu, yang nantinya bakal berkembang menjadi Suling Emas, Cinta Bernoda Darah, Mutiara Hitam, Pendekar Super Sakti dll…silahkan dibaca mulai Edisi ini dan seterusnya”

Liu Bwee bersamaa Ouw Sian Kok telah menerjang ke dalam. “Heiii! Siapa….!!” Bentakan The Kwat Lin terhenti dan wajahnya berubah pucat ketika dia melihat munculnya wanita yang tentu saja amat dikenalnya itu. Dia menjadi pucat ketakuan karena mengira bahwa bekas suaminya, Han Ti Ong Raja Pulau Es yang amat ditakutinya itu muncul. Akan tetapi ketika melihat bahwa laki-laki yang datang bersama Liu Bwee itu bukanlah Han Ti Ong, hatinya menjadi lega dan dengan tabah dia meloncat ke depan, dua kali menendang membuat dua orang pelayannya terlempar keluar ruangan, kemudian menghadapi Liu Bwee sambil tersenyum mengejek. “Aih kiranya wanita buangan yang datang mengacau dan mengantarkan nyawa!” bentaknya. “Perempuan hina yang berhati iblis! engkau telah menerima budi kebaikan dari suamiku, mengangkatmu dari lembah kehinaan ke tempat mulia, malah membalasnya dengan khianat! Engkau dan anak harammu itu harus mampus di tanganku!” “Mulut busuk!” The Kwat Lin balas memaki dan sekali tanganya bergerak, tampak sinar merah dari Pedang Ang-bwe-kiam di tangan kananya, kemudian tanpa menanti lagi, sinar merah itu sudah meluncur ke depan menyerang Liu Bwee. “Cringggg….!!” Bunga api berpijar dan The Kwat Lin mundur dua langkah sambil memandang Ouw Sian Kok yang telah menangkis pedangnya dengan sebatang pedang di tangan, tangkisan yang membuat lengannya tergetar, tanda bahwa laki-laki yang datang bersama Liu Bwee ini memiliki kepandaian tinggi pula. “Siapa engkau?” Bentaknya, sementara para rekannya, empat belas orang perwira dan panglima pengawal, telah mencabut senjata masing-masing dan mengurung, menanti saat bantuan mereka diperlukan oleh The Kwat Lin.

Ouw Sian Kok yang mengerti bahwa dia bersama Liu Bwee dan Han Swat Hong telah memasuki guha harimau dan berada dalam ancaman bahaya besar, sengaja mengulur waktu untuk memberi kesempatan kepada Swat Hong yang oleh ibunya ditugaskan menyelinap ke dalam istana untuk mencari dan merampas kembali pusaka-pusaka Pulau Es, karena hanya dengan jalan demikian saja kiranya pusakapusaka itu dapat dirampas kembali. Dia tertawa dan mengelus jenggotnya, seadngkan Liu Bwee siap dan berdiri saling membelakangi punggung dengan Ouw Sian Kok, maklum bahwa mereka tentu akan menghadapi pengeroyokan dan karenanya harus dapat saling melindungi. “Ha-ha-ha! engkau tanya siapa aku? Aku pun seorang buangan! namaku Ouw Sian Kok dari Pulau Neraka!” Mendengar ini The Kwat Lin diam-diam merasa terkejut dan heran juga. Dia sudah mendengar dari bekas suaminya, Raja Pulau Es, bahwa para buangan di Pulau Neraka bukanlah orang-orang sembarangan, bahkan banyak di antara mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi karena dia percaya akan kepandaiannya sendiri, juga merasa aman berada di antara para pengawal dan lebih lagi berada di dalam istananya di kota raja, dia memandang rendah. “Huh, kiranya adalah buangan rendah dan hina dari Pulau Neraka.” Ouw Sian Kok yang ingin mengulur waktu, kembali tertawa untuk mengalihkan perhatian The Kwat Lin. “Ha-ha-ha! Biarpun kami para penghuni Pulau Neraka adalah orang-orang buangan, namun kiranya sukar dicari seorang pun di antara kami yang memiliki watak rendah untuk mengkhianati orang yang telah menolong dan melimpahkan kebaikan kepada kami seperti yang dilakukan olehmu, The Kwat Lin!” “Manusia hina! Mampuslah!!” “Sing-sing-singggg….!!” Ouw Sian Kok maklum akan kelihaian wanita ini, maka cepat ia mengelak, menangkis dan membalas menyerang sambil mengerahkan seluruh tenaga dan kegesitannya, dan mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya. Terjadilah duel yang amat hebat di antara kedua orang berilmu tinggi ini.

Melihat betapa Ouw Sian Kok yang memang seperti direncanakan harus menghadapi The Kwat Lin lihai, Liu Bwee cepat memutar pedangnya dan menghadapi pengeroyokan belasan orang pengawal itu. Pedangnya bergerak dahsyat sekali, dan dalam sepuluh jurus saja dia telah merobohkan dua orang pengawal. yang lain tetap mengepungnya karena tidak ada seorang pun di antara mereka yang berani membantu The Kwat Lin, melihat betapa bayangan wanita itu dan bayangan lawannya lenyap menjadi satu digulung oleh sinar pedang mereka. Mulai cemas rasa hati The Kwat Lin ketika mendapatkan kenyataan bahwa Ouw Sian Kok merupakan lawan yang berat dan seimbang dengannya. Sedangkan para rekannya itu biarpun berjumlah banyak, ternyata tidak mampu mengimbangi amukan Liu Bwee sehingga berturut-turut roboh pula beberapa orang di antara mereka! “Cari bantuan dari benteng!” Terpaksa The Kwat Lin berteriak keras dan mendengar ini, seorang di antara para pengawal itu segera lari keluar untuk minta bala bantuan. Melihat gelagat yang berbahaya ini, Ouw Sian Kok menjadi khawatir juga. Mengapa Swat Hong belum juga kembali? “Lekas robohkan mereka dan bantu aku mengalahkan dia ini!” Katanya kepada Liu Bwee ketika melihat betapa Liu Bwee tidak begitu sukar untuk mendesak para pengeroyoknya. Liu Bwee maklum pula akan kelihaian The Kwat Lin dan tahulah dia bahwa betapapun lihainya Ouw Sian Kok, menghadapi wanita itu amat sukar untuk mencapai kemenangan. Maka dia memutar pedangnya makin cepat, merobohkan lagi tiga orang. Pada saat itu, berkelebat bayangan yang gesit dan tampaklah Swat Hong yang membawa sebatang pedang dan di punggungnya tampak sebuah buntalan kain sutera merah. “Ibu, aku berhasil….!” teriakan sambil menerjang maju merobohkan dua orang pengeroyok ibunya. Melihat ini, The Kwat Lin menjadi marah sekali. Maklumlah dia bahwa dia kena diakali dan dia dapat menduga apa isi buntalan sutera merah itu, sutera merah yang amat dikenalnya. Pusaka-pusaka Pulau Es telah berada di tangan Swat Hong! “Bedebah! Kembali kan pusaka-pusaka itu!” bentaknya dan tubuhnya secara tiba-tiba sekali mencelat ke arah Swat Hong, pedangnya menusuk tenggorokan tangan kirinya meraih ke arah punggung. “Trangggg….!” Liu Bwee yang menangkis pedang The Kwat Lin, terhuyung dan hampir roboh, Seorang pengawal menubruknya akan tetapi pengawal itu terlempar dengan dada pecah karena ditendang oleh Liu Bwee, sedangkan swat Hong sudah dapat menangkis pedang The Kwat Lin yang kembali menyerangnya.

Ouw Sian Kok sudah meloncat pula dan menerjang The Kwat Lin sehingga kembali mereka bertanding dengan hebat . “Hong-ji, kauselamatkan dulu pusaka-pusaka itu!” tiba-tiba Liu Bwee berteriak kepada puterinya. “Kita akan cepat menyusul pergi!” kata pula Ouw Sian Kok kepada Swat Hong. Swat Hong yang melihat bahwa jumlah pengawal tinggal hanya tinggal lima orang dan mereka bukanlah lawan berat bagi ibunya, sedangkan Ouw Sian Kok juga dapat menahan Kwat Lin, mengangguk dan sekali berkelebat dia meloncat ke luar. “Tahan dia…..! Jangan larikan pusaka Pulau Es….!” Kwat Lin berteriak marah akan tetapi dia tidak dapat mengejar karena sinar pedang Ouw Sian Kok menghalanginya dengan serangan-serangan dahsyat. Terpaksa dia mengerahkan tenaganya untuk mendesak Ouw Sian Kok dan dalam kemarahan yang amat hebat ini tenaga The Kwat Lin bertambah sehingga Ouw Sian Kok berseru kaget dan mundur karena pundak kirinya berdarah, terluka sedikit kena diserempet sinar pedang kemerahan. Ketika Swat Hong berlari cepat sekali keluar, dia terkejut setengah mati melihat sepasukan pengawal berbondong datang memasuki istana itu dari pintu luar, bersenjata lengkap, dipimpin sendiri oleh Ouwyang Cin Cu! Binggunglah dia. Pusaka memang harus diselamatkan, akan tetapi betapa mungkin dia meninggalkan ibunya yang terancam bahaya maut? Selagi dia meragu dan mengintai dari tempat bersembunyi, tiba-tiba dia melihat berkelebatnya bayangan empat orang, dan ketika dia mengenal dua orang di antara mereka adalah Kwee Lun dan Soan Cu, dia menjadi girang sekali. Cepat dia meloncat keluar, berseru lirih, “Kwee-toako! Soan Cu….!!” Soan Cu dan Kwee Lun terkejut dan berhenti, juga Swi Nio dan Liem Toan Ki yang datang bersama mereka. Ketika melihat bahwa orang yang muncul dari balik pohon di luar istana itu adalah Swat Hong, Kwee Lun menjadi girang sekali, akan tetapi Soan Cu cemberut. Bagaimana hatinya dapat merasa girang bertemu dengan dara yang menimbulkan iri di hatinya dahulu itu? Akan tetapi, Swat Hong yang girang sekali tentu saja tidak dapat melihat wajah cemberut di tempat yang remang-remang itu, maka cepat dia berkata, “Soan Cu, Ayahmu berada di dalam, bersama ibuku, sedang dikepung para pengawal.

“Seketika pucat wajah Soan Cu dan dia memandang bengong, sampai lama baru dapat berkata gagap, “A…. Ayah…. ku….?” “Benar! Kita harus membantunya,” kata lagi Swat Hong. “kalau begitu tunggu apa lagi? mari kita membantu orang tua kalian!” Kwee Lun berkata. “Nanti dulu…. siapakah dua orang ini?” Swat Hong bertanya sambil menuding kepada Swi Nio dan Liem Toan Ki. “Namaku Bu Swi Nio, Adik Han Swat Hong. Aku sudah mendengar namamu dari kedua saudara ini dan aku merasa kagum sekali. Ketahuilah bahwa aku dahulu adalah murid The Kwat Lin, akan tetapi sekarang aku hendak mencari dan membunuhnya.” Swi Nio berkata penuh semangat. “Dan aku tadinya mata-mata Jenderal An Lu Shan, akan tetapi aku berjuang bukan untuk mencari pangkat, melainkan untuk membalas dendam. Sekarang aku hendak membantu dia….eh, tunanganku ini untuk menghadapi The Kwat Lin.” Tiba-tiba Swat Hong bergerak maju, kedua tangannya bergerak cepat sekali, yang kanan menyerang ke arah leher Liem Toan Ki, sedangkan yang kiri menotok ke arah dada Swi Nio. “Eiihhh….” “Haiiiittt……!” Toan Ki Dan Swi Nio yang terkejut sekali cepat mengelak, namun tetap saja mereka terhuyung dan hampir jatuh terdorong sambaran kedua tangan Swat Hong. “Eh-eh…. apa yang kaulakukan itu?” Kwee Lun dan Soan Cu menegur heran dan juga marah. “Aku hanya menguji mereka. Maafkan aku, Enci Swi Nio dan Liem-toako. Melihat tingkat kepandaian kalian, lebih baik kalian tidak ikut masuk. Musuh amat kuat, dan ada tugas yang lebih penting lagi bagi kalian, kalau benar kalian suka membantu kami dari Pulau Es.” Swi Nio dan Toan Ki yang tadinya terkejut dan marah, menjadi lega bahwa kiranya gadis yang amat lihai itu hanya menguji mereka. Biarpun ucapan itu merendahkan tingkat kepandaian mereka, namun harus mereka akui bahwa ilmu kepandaian mereka masih jauh kalau dibandingkan dengan Kwee Lun, Soan Cu, apalagi Swat Hong ini. “kami berdua siap membantu!” Toan Ki berkata, hampir berbareng dengan Swi Nio. Tanpa ragu-ragu lagi karena mengkhawatirkan keadaan ibunya, Swat Hong melepaskan ikatan buntalan dari punggungnya, menyerahkannya kepada Toan Ki. Dia lebih percaya kepada Toan Ki daripada kepada Swi Nio, hal ini karena tadi dia mendengar bahwa Swi Nio adalah bekas murid The Kwat Lin! “Inilah pusaka kami dari Pulau Es yang seharusnya kuselamatkan. Akan tetapi karena Ibuku dan Ayah Soan Cu terkurung di dalam, aku harus membantu mereka dan kuharap kalian suka menyelamatkan pusakapusaka ini jauh dari kota raja. Kelak, kita dapat saling bertemu di Puncak Awan Merah di tempat kediaman Tee-tok Siangkoan Houw, di Pegunungan Tai-hang-san. Nah, kalian pergilah cepat!” Liem Toan Ki menerima bungkusan itu dengan hati kaget bukan main, juga Swi Nio terkejut dan cepat dia menyambar tangan kekasihnya. “Mari kita segera pergi!” Kedua orang muda itu menyelinap lenyap di dalam kegelapan malam. “Hayo kita bantu Ibu dan Ayahmu!” kata Swat Hong kepada Soan Cu. Soan Cu mengangguk karena merasa lehernya seperti dicekik oleh sedu-sedan yang naik dari dalam dadanya. Ayahnya! Dia akan bertemu dengan ayah kandungnya yang selama hidupnya belum pernah dia lihat itu.

Bertemu dalam keadaan terancam bahaya maut! Tampak tiga bayangan berkelebat ketika Soan Cu, Swat Hong, dan Kwee Lun menyerbu ke dalam istana itu. Ketika mereka tiba di dalam, ternyata Liu Bwee dan Ouw Sian Kok telah dikepung ketat dan kini pertempuran telah berpindah ke ruang luar yang lebih lega. Agaknya, agar dapat melakukan perlawanan dengan leluasa dan mendapat kesempatan untuk meloloskan diri, Liu Bwee dan Ouw Sian Kok telah pindah keluar dari ruangan dalam yang sempit, dan kini, dengan saling membelakangi, kedua orang itu mengamuk dengan hebat, dikepung ketat oleh para pengawal istana, sedangkan The Kwat Lin dan Ouwyang Cin Cu menonton di pinggir. Ketika Swat Hong dan dua orang kawannya masuk, mereka melihat Kwat Lin berlari pergi ke dalam istananya. Swat Hong maklum bahwa wanita itu tentulah hendak memeriksa simpanan pusakanya, maka dia lalu menyentuh tangan Soan Cu yang sedang bengong memandang kepada laki-laki setengah tua yang mengamuk dengan gagahnya itu, dengan mata merah hampir menangis. Soan Cu sadar dan menengok. “Kita kejar dia! Dialah yang paling jahat dan berbahaya!” Soan Cu mengangguk dan kedua orang gadis berkelebat pergi mengejar Kwat Lin. Kwee Lun Sendiri lalu berteriak keras dan meloncat ke depan, meyerbu para pengeroyok. Sepak terjang pemuda tinggi besar ini memang hebat, tenaganya yang amat kuat itu membuat dia sekali turun tangan merobohkan empat orang pengeroyok. tentu saja kepungan menjadi buyar dan kacau. Dan ketika mereka membalik untuk mengeroyok Kwee Lun, pemuda yang lihai ini lalu merobah tenaga dahsyat tadi dengan pukulan-pukulan Bian-sin-kun, pukulan kapas yang kelihatannya lemah dan lunak namun setiap kali menyentuh tubuh para pengeroyok tentu membuat dia terguling. “Jiwi-locianpwe, saya adalah Kwee Lun, sahabat baik dari Nona Swat Hong dan Nona Soan Cu! Mereka sedang mengejar Si Iblis Betina!” teriak Kwee Lu dengan suara nyaring. Liu Bwee dan Ouw Sian Kok terkejut dan girang sekali, terutama Ouw Sian Kok yang mendengar bahwa puterinya juga datang! Akan tetapi, malang baginya. Karena dia terlampau girang hendak melihat wajah puterinya, dia menoleh ke sana ke mari mencari-cari. “Ouw-toako, awas….!!” Tiba-tiba Liu Bwee berteriak dan wanita ini berusaha untuk menangkis sinar biru dari pedang Ouwyang Cin Cu. “Trangggg…..aih…..!!” Liu Bwee terlambat dan bergulingan untuk menyelamatkan diri, sedangkan Ouw Sian Kok terjungkal karena tamparan tangan kiri Ouwyang Cin Cu mengenai punggungnya. “Plakk! Aughhhh…..!” Ouw Sian Kok muntahkan darah segar dari mulutnya. “Curang….!!” Kwee Lun membentak dan kipas di tangan kiri serta pedang di tangan kanannya menyambar ganas. Namun, dia terlalu lunak bagi Ouwyang Cin Cu dan sekali tangkis kipas itu robek dan pedangnya hampir terpental.

“Haiiiitttt…..!!” Ouw Sian Kok yang marah sekali menerjang maju dengan tangan terbuka. Melihat serangan ganas ini, Ouwyang Cin Cu terkejut dan cepat dia meloncat mundur. Sebelum dia didesak oleh tiga orang lawan itu, para pengawal sudah mengepung lagi dan kini mereka bertiga dikeroyok dan dihujani senjata oleh puluhan orang pengawal. “Twako….. kau…..terluka….?” Sambil mengamuk dengan pedangnya, Liu Bwee bertanya. “Tidak apa…. mati pun aku rela…. pusaka telah diselamatkan…….” kata Ouw Sian Kok. “Tapi…… tapi anakku…..” Dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena harus menghadapi pengeroyokan banyak pengawal. Sementara itu di dalam istana juga terjadi pertempuran yang mati-matian dan hebat sekli. The Kwat Lin yang melihat datangnya bala bantuan yang dipimpin sendiri oleh Ouwyang Cin Cu, setelah melihat bahwa dua orang pengacau itu terkepung ketat, lalu teringat akan pusaka yang tadi dibawa Swat Hong. Dia teringat pula akan puteranya yang sudah tidur di kamarnya, maka cepat dia luka….?” Sambil mengamuk dengan pedangnya, Liu Bwee bertanya. “Tidak apa…. mati pun aku rela…. pusaka telah diselamatkan…….” kata Ouw Sian Kok. “Tapi…… tapi anakku…..” Dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena harus menghadapi pengeroyokan banyak pengawal. Sementara itu di dalam istana juga terjadi pertempuran yang mati-matian dan hebat sekli. The Kwat Lin yang melihat datangnya bala bantuan yang dipimpin sendiri oleh Ouwyang Cin Cu, setelah melihat bahwa dua orang pengacau itu terkepung ketat, lalu teringat akan pusaka yang tadi dibawa Swat Hong. Dia teringat pula akan puteranya yang sudah tidur di kamarnya, maka cepat dia meninggalkan tempat pertempuran untuk memeriksa pusaka dan puteranya. Dilihatnya Bu Ong masih tidur nyenyak dan terjaga, maka dia cepat lari ke dalam kamarnya sendiri. Seperti telah diduganya, para penjaga sebanyak lima orang yang berada di kamarnya tewas semua dan keadaan kamarnya rusak dan kacau. Sekali saja melihat ke arah peti hitam yang terbuka di depan tempat tidurnya, tahulah dia bahwa semua pusaka telah dirampas oleh Swat Hong, seperti yang dikhawatirkannya. “Mencari apa, wanita iblis? Pusaka Pulau Es telah aman!” The Kwat Lin cepat menengok dan melihat Swat Hong telah berdiri di ambang pintu bersama seorang gadis lain yang tak dikenalnya. Kemarahan seperti api membakar dadanya melihat dara ini. Sambil mengeluarkan jerit melengking nyaring, dia lalu menerjang dan menggerakkan pedang merahnya. “Cring-trang….!!” Pedang Swat Hong disusul pedang Coa-kut-kiam di tangan Soan Cu menangkis dan kedua orang dara itu meloncat ke belakang, ke tempat yang lebih lega.

Dengan kemarahan meluap-luap The Kwat Lin meloncat keluar dan melanjutkan serangannya. Akan tetapi, setelah bergerak belasan jurus, wanita ini terkejut dan merasa menyesal mengapa dia menuruti kemarahan hatinya.  JILID 22 Dia berada dalam bahaya! Kiranya selain Swat Hong yang telah memiliki kepandaian hebat juga gadis yang gerakan-gerakannya liar dan ganas itu amat berbahaya, apalagi cambuk ekor ikan Phi yang meledak-ledak dahsyat. Sebentar saja dia tertekan dan terdesak. Beberapa kali dia berusaha untuk meloloskan diri, akan tetapi sambil mengejek Swat Hong selalu menutup jalan keluar dan dia terus digulung oleh sinar dua orang gadis lihai itu. The Kwat Lin menjadi nekat. Sambil menggigit bibirnya dia menyerang dahsyat kepada Swat Hong, mencurahkan daya serangannya kepada anak tiri yang dibencinya ini. Menghadapi terjangan dahsyat yang bertubi-tubi itu, Swat Hong mundur-mundur juga. Akan tetapi kesempatan baik ini dipergunakan oleh Sian Cu untuk menyerang dari belakang. Cambuk ekor ikan Phi meledak dua kali mengancam ubun-ubun kepala The Kwat Lin, dan ketika wanita ini mengelak kesamping sambil melanjutkan serangan pedangnya kepada Swat Hong, Soan Cu menusukan pedangnya mengarah lambung Kwat Lin. “Singgg….crat….. aihhhhh!!” Kwat Lin terkejut karena biarpun dia telah mengelak, tetap saja pedang Coakut- kiam (Pedang Tulang Ular) itu melukai lambungnya, merobek kulit dan mendatangkan rasa nyeri dan panas dan perih sekali. Akan tetapi, wanita yang lihai ini sudah membalik sambil juga membalikan pedangnya menyambar leher Soan Cu. Hal ini tidak disangka-sangka oleh gadis Pulau Neraka ini. “Awas Soan Cu…..!!” Swat Hong berseru dan pedangnya menyambar, yang diarah adalah lengan kanan Kwat Lin karena hanya dengan jalan itulah dia dapat menolong Soan Cu. “Brettt…. crok….. aughhhh……!!” Soan Cu terhuyung, pundaknya berlumuran darah karena terluka parah, sedangkan Kwat Lin cepat memindahkan pedang ke tangan kirinya karena lengan kanannya juga terluka parah, terbacok di bagian bahu hampir putus! Dengan kemarahan meluap-luap dia menubruk Swat Hong, namun gadis Pulau Es ini mengelak ke kiri sambil mengangkat kaki menendang lutut. “Dukkk! Aduh….!” Kwat Lin terbelalak ketika tahu-tahu pedang Coa-kut-kiam telah bersarang di perutnya! Kiranya ketika tadi Swat Hong menendangnya Soan Cu yang terluka dengan kemarahan meluap menubruk, maka begitu wanita itu terguling, pedangnya cepat menyambar dan menusuk perut Kwat Lin. “Bedebah kau….!” Tiba-tiba pedang di tangan Kwat Lin meluncur. “Soan Cu, awas….!!” Swat Hong berteriak kaget namun terlambat. Pedang yang terlempar dari jarak dekat dan tak terduga-duga itu dilakukan dengan dorongan tenaga terakhir, tak dapat dielakkan dengan baik oleh Soan Cu dan menancap di bawah pundak sampai dalam! “Soan Cu!” Swat Hong melompat dan pedangnya membabat. Kwat Lin memekik dan lehernya hampir putus! Dengan cepat Swat Hong memeluk tubuh soan Cu yang tersenyum! Pergilah…. Aku…. aku tak berguna lagi….!” katanya. “Omong kosong!” Swat Hong menghardik, mencabut pedang Ang-bwe-kiam dari pundak Soan Cu.

Soan Cu menjerit dan pingsan. Dengan gemas Swat Hong melempar pedang itu memondong tubuh Soan Cu, dibawanya keluar. Betapa kagetnya ketika ia tiba di ruangan luar, pertempuran yang masih berlangsung hebat itu ternyata membuat pihak ibunya terdesak. Bahkan ibunya kelihatan terluka di beberapa tempat, juga ayah Soan Cu, yang mengamuk dengan gagah telah berlumuran darah seluruh tubuhnya. Kwee Lun juga masih mengamuk, dan hanya pemuda inilah yang belum terluka, karena Ouwyang Cin Cu menujukan serangan-serangannya kepada Liu Bwee dan Ouw Sian Kok, karena menganggap ringan kepada Kwee Lun. “Ibu….!!” Dengan kemarahan meluap-luap, Swat Hong meloncat, melampau para pengepung dan menurunkan tubuh Soan Cu ke atas lantai. Lalu gadis ini mengamuk dengan pedangnya, merobohkan beberapa orang pengawal. Gerakannya demikian hebat sehigga para pengepung terkejut dan gentar, bergerak mundur. “Ibu…..!” “Ayahhhhh…..!” Ouw Sian Kok menghentikan amukannya dan menjatuhkan diri berlutut. Tadi dia mengira bahwa puterinya telah tewas, maka panggilan itu menggetarkan jantungnya dan membuat dia lemas. “Kau…..kau Soan Cu…..?” “Ayahhhhhhh….. Hu-hu-hu-huuuuu…..!!” Soan Cu menangis dalam rangkulan ayahnya yang juga bercucuran air mata. Baru pertama kali Ouw Sian Kok dapat mencucurkan iar mata. “Wutttt….. trangggggg……!!” Dua batang golok terpental oleh tangkisan oleh tangkisan Ouw Sian Kok tanpa menoleh karena dia sedang mendekat dan menciumi dahi puterinya. “Ayah, aku puas….. dapat bertemu denganmu…….!” “Soan Cu…… aihhhh, anakku, kauampunkan dosa ayahmu…..” Ouw Sian Kok berkata dengan suara terisak. “Trang-trang….. dessss!!” Dua orang pengawal yang berani menyerang roboh oleh tangkisan pedang Ouw Sian Kok dan mecuatnya kaki Soan Cu yang menendang. “Ah, jangan kau keluarkan tenaga…..” kata Ouw Sian Kok melihat betapa tendangan tadi membuat napas Soan Cu memburu. “Ayah….. aku…..aku tidak kuat lagi…..kalu larilah, ayah…….” “Soan Cu……! Soan Cuuuu……!!” Sian Kok meraung-raung ketika menyaksikan dengan mata sendiri betapa puterinya yang baru dilihatnya selama hidup puterinya itu, menghembuskan napas di dalam dekapnya, dengan bibir tersenyum. Laki-laki gagah perkasa itu masih terus meraung-raung, dengan air mata bercucuran ketika dia telah membaringkan tubuh puterinya ke atas lantai kemudian dia mengamuk seperti seekor naga, menyebar maut diantara pengeroyoknya! Hujan senjata tidak dirasakannya lagi pedangnya sampai menjadi merah dari ujung sampai kegagang, bahkan sampai ke lengannya! Sementara itu Liu Bwee yang sudah banyak kelilangan darah juga makin lemas gerakannya. kalau tidak ada Swat Hong, tentu dia roboh oleh Ouwyang Cin Cu.

Untung bagi mereka agaknya kakek yang sudah menjadi Kok-su ini hanya setengah hati saja bertempur, sering kali dia sengaja mundur dan membiarkan anak buah pengawal yang mengeroyok. Hal ini karena dia sebetulnya tidak begitu suka kepada The Kwat Lin yang dianggapnya berbahaya. Pula, setelah sekarang dia telah memperoleh kedudukan tinggi, dia tidak membutuhkan kerja sama dengan The Kwat Lin. Selain itu, juga dia ingin menghindarkan sedapat mungkin permusuhan dengan orang-orang lihai, apalagi keluarga dari Pulau Es! “Swat Hong, cepat kau pergi……!” “Tidak, Ibu!” “Kalau tidak, kau akan mati……!” “Mati bersamamu merupakan kebahagiaan, Ibu!” “Hushhhh, anak bodoh. kalau begitu siapa yang akan mengembalikan pusaka? Kauingat pesan Ayahmu.” “Tapi, Ibu…..” “kalau kau membantah dan sampai tewas di sini, Ibumu tidak akan dapat mati dengan mata meram.” “Ibu……!” “Lihatlah, dia…..diapun akan mati….. Ibu ada seorang teman yang baik……Ibu dan dia…..ah, kami senang mati bersama…..kau jangan ikut-ikut……!” Mendengarkan ucapan ini, Swat Hong terkejut sekali dengan menengok ke arah Ouw Sian Kok yang mengerikan keadaannya itu.Mengertilah dia bahwa Ibunya dan laki-laki perkasa itu telah saling jatuh cinta! Jantungnya seperti ditusuk, teringat dia akan kesalahan ayahnya terhadap ibunya. Ibunya tidak bersalah, sudah sepantasnya menjatuhkan hati kepada pria lain karena disakiti hatinya oleh suami yang tergila-gila kepada wanita lain! “Ibu……” “Pergilah, dan ajak pemuda gagah itu!” Sambil bercucuran air mata, Swat Hong mengamuk, memutar pedangnya dan mendekati Kwee Lun yang juga masih mengamuk. “Toako, hayo kita pergi!!” “Eh? Ibumu? Soan Cu? Ayahnya…….?” “Ayolah…..!!” “Baik, baik…..!” Mereka berdua membuka jalan darah, akhirnya berhasil meloncat keluar. “Jangan kejar mereka! kepung saja yang berada di dalam!” terdengar Ouwyang Cin Cu berseru. Tidak terlalu lama Ouw Sian Kok dan Liu Bwee dapat bertahan. Mereka sudah kehabisan tenaga, juga terlalu banyak mengeluarkan darah. Akhirnya, mereka roboh berdekatan, di dekat mayat Soan Cu. Ouwyang Cin Cu menghela napas panjang, kagum sekali menyaksikan kegagahan mereka itu. Dia masih belum menduga bahwa tiga orang yang telah tewas ini adalah orang-orang yang datang dari tempat yang hanya didengarnya dalam dongeng! wanita cantik setengah tua itu adalah bekas permaisuri Raja Pulau Es, sedangkan laki-laki perkasa dan dara jelita itu adalah ayah dan anak dari Pulau Neraka, bahkan merupakan tokoh pimpinan! Dia menghela napas pula ketika melihat bahwa The Kwat Lin juga tewas dalam keadaan mengerikan.

Diam-diam dia merasa lega, karena dia maklum betapa dilubuk hati wanita ini tersembunyi cita-cita yang amat hebat, yang kelak mungkin membahayakan kedudukan kaisar, dan kedudukannya sendiri. Setelah membuat laporan kepada Kaisar baru, yaitu An Lu Shan, tentang kematian The Kwat Lin bekas jenderal ini hanya menarik napas panjang. “Hemm, sayang sekali, dia merupakan tenaga yang berguna.” Kemudian mengelus jenggotnya dan berkata, “kalau begitu bagaimana dengan puteranya?” “Menurut pendapat hamba, puteranya itu masih berdarah Raja Pulau Es yang kabarnya masih mempunyai hubungan keluarga dengan kerajaan lama. Maka kalau dia dibiarkan saja menjadi pangeran di sini, kelak kalau sudah dewasa tentu akan merupakan bahaya.” An Lu Shan mengangguk-angguk. “habis bagaimana pendapatmu?” Kok Su yang merupakan penasehat utama itu mengerutkan alisnya yang bercampur uban, lalu berkata, “Mereka itu datang dari Rawa Bangkai, biarlah dia hamba bawa kembali ke sana, diberi kedudukan sebagai penguasa di Rawa Bangkai dan daerahnya. Anak kecil itu tidak tahu apa-apa, asal diberi kedudukan di sana mengepalai bekas anak buah ibunya dan Kiam-mo Cai-li, tentu kelak akan senang hatinya.” “Baiklah, urusan ini kuserahkan kepadamu untuk dibereskan.” demikianlah, setelah penguburan jenazah ibunya selesai, Han Bu Ong yang masih kecil itu menurut saja ketika oleh Ouwyang Cin Cu diberitahu bahwa dia oleh kaisar “diangkat” menjadi “raja muda” yang berkuasa di Rawa Bangkai, di mana telah….  ê (bersambung)

sumber: www.microsofreader.com

Berita ini sudah dilihat 114 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 422
  • Page views today : 481
  • Total visitors : 545,621
  • Total page view: 1,130,796