Connect with us
Update Now

Lensa

Khasiat Kopi dalam Kajian Ibnu Sina dan Peta Penyebarannya di Dunia Arab

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 101,972 kali

Lensa – Kopi merupakan minuman lintas generasi yang tak hanya disukai kaum tua, tapi saat ini kopi telah menjadi minuman yang sangat digemari kaum muda. Bagaimanapun, pembicaraan ilmiah tentang khasiat kopi sudah diselidiki terlebih dahulu. Pada abad ke-10, ilmuwan genius Ibnu Sina membahas efek kopi dalam perspektif medis melalui karyanya, al-Qanun fi al-Tibb. Ahli kedokteran yang wafat pada 1037 itu menerangkan bahwa kopi berasal dari Yaman dan sudah banyak ditanam di Jazirah Arab dan sekitarnya pada zamannya hidup. Lebih jauh, Ibnu Sina juga mengklasifikasi jenis-jenis kopi. Menurutnya, kopi yang baik dan unggul mesti berwarna kuning dan bobotnya ringan. Adapun kopi berwarna putih dan cenderung berat adalah yang buruk. Dia mengakui beberapa manfaat meminum air kopi, semisal dapat mempertahankan kesehatan tubuh, membuat kulit menjadi bersih, dan mengurangi kelembapan kulit. Aroma kopi juga dinilainya menstimulus kesehatan tubuh dan pikiran. Selain kelompok sufi, para jamaah haji juga berjasa dalam memopulerkan kopi ke seluruh dunia. Abdul Qadir al-Jaziri, yang menulis Umdat Al-Safwa pada 1587, menceritakan penyebaran kopi di dunia Islam. Katanya, kopi sampai di Makkah pada abad ke-15. Kedai-kedai kopi marak bermunculan di kota yang selalu ramai tiap musim haji. Pengunjungnya tidak hanya dari kalangan warga setempat, tetapi para jamaah haji dari berbagai negeri. Mereka mencicipi kopi dan terkesan akan rasa minuman tersebut. Abdul Qadir juga menuliskan ihwal persiapan, penggunaan, kebaikan, dan manfaat dari meminum kopi. Dikatakannya pula, setelah kopi mencapai Makkah dan Madinah, para jamaah haji dan para pedagang menyebarkannya ke wilayah Islam lainnya. Hanya saja, keberadaan kedai-kedai mulai mengundang kecurigaan rezim penguasa. Ada tuduhan bahwa kedai berperan sebagai titik temu kelompok-kelompok yang ingin menghasut tatanan politik masyarakat. Karenanya, cukup banyak kedai yang dipaksa tutup, termasuk kasus pada 1511. Benih-benih dari apa yang kini marak disebut sebagai parisian café sudah tampak pada zaman keemasan Islam. Abdul Qadir dalam karyanya tersebut menyuarakan arti penting kedai-kedai kopi sebagai tempat pertemuan publik. Di dalamnya, orang-orang dapat bertemu, mengobrol, bertukar pikiran, atau bahkan mengadakan diskusi tentang suatu persoalan publik. Tidak mengherankan bila kedai-kedai kopi pada masa itu banyak menjadi magnet bagi kaum Muslim dari kalangan cendekiawan dan penulis. Kopi menjadi minuman yang terkenal hampir di seluruh negeri Arab yang dikuasai Dinasti Turki Usmani. Sebut saja, Mesir, Suriah, dan Irak. Sumber mengatakan, kopi masuk ke Mesir melalui tangan seorang mahasiswa asal Yaman yang belajar di Universitas al-Azhar pada abad ke-16. Dia membawa bahan minum an itu untuk membantu meningkatkan stamina saat berzikir dan belajar tiap malam. Di Turki sendiri, kedai kopi pertama bernama Kiva Han yang berdiri di Istanbul pada 1475. Sejak abad ke-17, popularitas kopi mulai menggurita hingga ke Eropa, melalui Venice, Marseilles, Amsterdam, London dan Wina.
Sumber: khazanah.republika.co.id dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 28 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 6 = 4

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 176
  • Page views today : 202
  • Total visitors : 528,377
  • Total page view: 1,111,795