Connect with us
Update Now

Uncategorized

KAS dan Sunda Empire ‘Orang Stress’ yang Tak Jelas Nasabnya Ngaku Raja! Apakah Keturunan Kerajaan Terbesar dan Terakhir Indonesia yakni Majapahit Masih Ada, Jawabnya Ada, yakni SBY!

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 453,251 kali

Investigasi – Geger adanya Keraton Agung Sejagat (KAS) dan Sunda Empire yang pendirinya ngaku Sultan atau Raja, namun tak jelas asal usulnya darimana, membuat rakyat Indonesia pun banyak yang tertawa terpingkal-pingkal melihat polah orang-orang yang dikatakan stress ini oleh Gubernur Jabar, Ridwan Kamil. Indonesia sendiri saat ini memang masih memiliki beberapa kerajaan yang aktif dan jelas nasab atau keturunannya, seperti Kesultanan Jogjakarta, Kesultanan Ternate, hingga Kesultanan Banjar, Kalsel yang kini Sultan nya adalah Khairul Saleh, walaupun hanya sebagai lambang kebudayaan saja, tapi nasab mereka jelas, yakni keturunan para Sultan langsung. Kerajaan paling besar di Indonesia yang terakhir berdiri adalah Kerajaan Majapahit (yang kekuasaannya sampai ke Vietnam) dan berdiri hampir 3 abad dimulai Tahun 1293 masehi, saat Kerajaan Singosari hancur, hingga Tahun 1500 an masehi. Pertanyaannya, apakah keturunan langsung Raja Majapahit yang nasabnya dimulai dari Raden Wijaya yang bergelar Sri Kertajasa Jayawardhana masih ada? Ternyata ada, dan yang mengaku pun bukan main-main orangnya, dia adalah mantan Presiden RI ke 6, Susilo Bambang Yudhoyono.

Totok Santoso nambah embel Hadiningrat yang ngaku Raja KAS juga tak jelas asal usulnya (dok, SuaraJogja)

SBY mengaku dalam pidatonya bahwa keluarganya adalah keturunan langsung pemimpin Majapahit. “Kalau diurut dari eyang saya Ki Ageng Buwono Keling hingga kedua anak saya yakini Agus Harimurti dan Edi Baskoro adalah trah ke-14,” kata SBY di hadapan 1.500 kader Demokrat se-Jawa Timur pada Ahad lalu (25/02) seperti dikutip dari Tempo. Menurut SBY, Kerajaan Majapahit mencapai kejayaan pada Abad ke-14. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief kemudian mengunggah dua gambar silsilah lengkap SBY melalui akun Twitternya. Menurut daftar silsilah tersebut, garis keturunan SBY bisa dirunut dari Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit. Dari gambar tersebut juga tertulis bahwa tak hanya keturunan Majapahit, SBY juga adalah keturunan Raja Mataram. Saat BBC Indonesia mengkonfirmasi keterangan ini, Andi Arief belum memberikan jawaban. Obsesi SBY pada Majapahit juga bisa dilihat dari nama cucu-cucunya. Cucu pertama SBY bernama Almira Tungga Dewi Yudhoyono. Tribhuwana Tunggadewi adalah raja perempuan pertama Majapahit yang melahirkan Hayam Wuruk, raja yang membawa Majapahit ke puncak kejayaannya. Cucu keduanya bernama Airlangga Satriadhi Yudhoyono. Airlangga adalah nama pendiri Kerajaan Kahuripan, yang terbagi menjadi dua kerajaan, Kediri dan Jenggala. Kedua kerajaan ini menjadi daerah bagian Majapahit pada masa pemerintahan Raden Wijaya. Pancasakti Maharajasa Yudhoyono, cucu ketiga SBY, tidak diberi nama dari Majapahit. Nama Maharajasa diambil dari nama besan SBY, Hatta Rajasa. Meski demikian nama Rajasa mengingatkan juga pada nama pendiri Majapahit, Kertarajasa Jayawardhana. Cucu keempat bernama Gayatri Idalia Yudhoyono. “Gayatri diambil dari Kerajaan Majapahit, yaitu istri Raden Wijaya yang kemudian menurunkan raja-raja selanjutnya,” kata Ibas saat mengumumkan kelahiran putrinya melalui akun Instagram @ibsyudhoyono, 1 Januari 2018. Dwi Cahyono, sejarawan dan arkeolog dari Universitas Negeri Malang menjelaskan bahwa silsilah keluarga sudah dipakai sebagai cara melegitimasikan diri sejak berabad-abad yang lalu. “Jadi kalau sekarang ada politikus mengaku sebagai keturunan raja Majapahit, tentu karena ada kepentingan, yaitu legitimasi,” kata Dwi Cahyono saat dihubungi oleh BBC Indonesia melalui telepon, Selasa (27/02). Dia menjelaskan bahwa silsilah keluarga yang dirunut-runut itu sudah sejak lama dipakai oleh seseorang atau keluarga untuk menghubungkan dirinya dengan penguasa di masa lalu, bisa pemimpin, raja, atau sultan.

Ki Ageng Rangga Sasana yang mengaku Raja Sunda Empire tapi tak jelas nasabnya (dok, LINE Today)

Bahkan pada era kesultanan Islam di Indonesia, silsilah itu dibuat dua sisi, yaitu mangiwo (ke kiri) dan manengen (ke kanan). Mangiwo yang dirunut panjang bisa sampai ke tokoh-tokoh dalam pewayangan, sampai puncaknya ke dewata. Garis keturunan manengen diruntut dari para pempimpin Islam sampai tokoh-tokoh kenabian. “Perkara betul atau tidak itu masalah nanti, yang penting melegitimasikan diri bahwa dia adalah orang yang punya posisi tertentu dilihat dari genealoginya, garis keturunannya,” kata dia. Dwi Cahyono menjelaskan, mengaku sebagai keturunan Majapahit artinya membuat silsilah secara mangiwo. “Dalam mangiwo, yang bersangkutan terhubung lewat raja-raja Jawa, sampai raja-raja Majapahit. Ini bisa ditarik lagi hingga ke dewa tertentu atau yang pertama kali membuka pulau Jawa,” kata dia. Pada zaman dulu, mereka yang membutuhkan silsilah adalah para bangsawan, untuk membuktikan kebangsawanannya. Adapun rakyat jelata biasanya tidak menganggap penting. Para bangsawan atau priyayi biasanya memajang gambar nenek moyang, lambang seperti tombak atau payung dan daftar silsilah di ruang tamunya. “Ini upaya untuk mendarah birukan dirinya, bahwa dirinya adalah berdarah biru. Sehingga nanti ketika mau menjadi bupati, atau pada anggota dewan atau presiden, memang punya trah,” kata dia.
Sumber: bbc.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 271 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.