Connect with us
Update Now

Uncategorized

Karet Terjun Bebas, Pemerintah Kok Diam? Bagian 3 : Harga Anjlok Produksi Berlimpah, Bisnis Karet Butuh Ditolong

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 413,371 kali

BERITA – Ketua Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) Azis Pane meminta pemerintah untuk lebih banyak menggunakan karet alam untuk pembangunan ibu kota baru. Azis menilai projek tersebut akan membutuhkan banyak bahan bakar nabati, sehingga karet menjadi opsi yang bisa diambil. Dia pun sudah mengirimkan surat permohonannya kepada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). “Bappenas (bisa menggunakan) seluruh ibu kota baru pakai karet alam Indonesia. Banyak (potensinya) blok anti gempa, blok pelabuhan, jalan-jalan aspal kan semua itu (bisa pakai) karet. Ibu kota baru harus pake karet Indonesia. Kalo nggak gitu, nggak akan meningkat penggunaan karet alam kita,” sebut Azis di menara Kadin, Senin (20/1/2020).

Dari 600 ribu ton penyerapan karet di dalam negeri, 450 ribu ton pabrik ban yang membeli, peran pemerintah tak ada sama sekali (dok, inilah.com)


Serapan konsumsi karet nasional (lateks) memang sangat rendah. Dari total produksi yang mencapai 3,55 juta ton di tahun 2019, serapan dalam negeri hanya sekitar 600 ribu ton. Dari jumlah itu 450 ribu ton sudah digunakan oleh industri ban. “Industri ban diminta untuk gunakan karet terus, ini udah maksimal serapannya. Harus ada cara lain untuk menyerap ini,” sebut Azis. Alhasil, dengan stok yang sangat melimpah, harga karet terjun bebas. Kini hanya US$ 1,4/Kg. Angka ini lebih baik dari harga pada November 2019 lalu yang hanya US$ 1,21/Kg. Padahal dari data Kadin (Kamar Dagang Industri), harga di tahun 2011 atau sekitar 9 tahun lalu mencapai US$ 5/Kg. Fakta ini membuat banyak petani disebut menjadi patah semangat untuk melanjutkan profesinya. Untuk itu, selain pada projek pembangunan ibukota baru, instansi di pemerintahan seperti BUMD maupun BUMN pun diminta untuk menggunakan karet. Pasalnya, Azis menilai banyak perusahaan pelat merah yang lebih memilih menggunakan bahan baku impor dalam projeknya. “Kenapa dia impor dari Jepang, Korea, atau Thailand. Toh kita bisa bikin. Ada pabriknya di Sidoarjo, Bogor. Apa karena kualitas? Nggak. Apakah harga? Nggak. Lalu why? Kita nggak tau lah ya,” sebut Azis yang juga menjabat Ketua Dewan Karet Indonesia (Dekarindo). “Kami udah kirim surat ke PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), kami udah kirim surat ke Pelindo,” ungkapnya.
Sumber: CNBC.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 113 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 98
  • Page views today : 109
  • Total visitors : 553,666
  • Total page view: 1,140,118