Connect with us
Update Now

Uncategorized

Karet Terjun Bebas, Pemerintah Kok Diam? Bagian 1 : Ngeri! Virus Corona Juga Bikin Harga Karet Anjlok

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 415,241 kali

BERITA – Siapa bilang virus corona di Cina tak berimbas langsung ke rakyat Indonesia? Karena Cina merupakan pengimpor karet terbesar di dunia, kini dengan adanya pelarangan terbang ke Cina plus tentunya ekspor impor, para petani karet pun kini ‘merana’. Harga terjun bebas dan kondisi ini diperparah dengan belum adanya solusi apapun dari pemerintah. Merebaknya virus korona di China yang berpotensi tekan perekonomian Negeri Panda itu. Selasa (22/1/2020) harga karet kontrak pengiriman Juni 2020 di Tokyo Commodity Exchange (TOCOM) terkoreksi 0,83% ke level JPY 191,4 /kg. Sejak 17 Januari hingga hari ini harga komoditas ini telah melorot sebesar 7,17. Virus korona yang akhir-akhir ini menjangkiti China jadi pemicu anjloknya harga karet. Virus Corona baru ditemukan awal Januari ini ketika puluhan orang di Wuhan terserang penyakit mirip SARS ini. Saat itu China melaporkan adanya 59 kasus dan 7 di antaranya tergolong ke dalam kasus serius.

Pohon karet makin menua, pupuk makin mahal, harga terjun bebas..komplet penderitaan (dok, nasionalisme)


sudah ada enam orang meninggal karena terserang virus ini. Di Wuhan dilaporkan ada 300 orang yang terinfeksi virus ini. Hal itu diungkapkan langsung oleh Zhao Xianwang selaku Wali Kota Wuhan. Tak hanya China saja, seperti Korea Selatan, Jepang, Taiwan, hingga Thailand. Semua melibatkan turis China asal Wuhan. Virus ini bahkan sudah menyebar ke Hong Kong menyebabkan 30 orang dirawat di RS setelah kembali dari Wuhan. Bahkan di AS melaporkan sudah ada satu kasus di sana. Merebaknya virus ini dikhawatirkan membuat ekonomi Negeri Tirai Bambu itu dalam bahaya. Pasalnya virus ini menjangkiti China mendekati musim liburan tahun baru China. Tak bisa dipungkiri dengan adanya wabah, ekonomi jadi terkena imbasnya. Ketika seseorang terkena penyakit maka produktivitasnya menurun. Bayangkan jika penyakit ini menular dan orang yang terjangkit menjadi banyak. Akibatnya sekolah dan perkantoran jadi diliburkan. Kalau ini terjadi maka sektor transportasi dan perdagangan juga ikut terhambat. Apalagi sekarang semua sudah serba terkoneksi. Adanya transportasi pesawat terbang memungkinkan orang untuk menjelajahi dunia dalam waktu singkat. Penerbangan paling jauh pun misal dari Indonesia ke AS membutuhkan waktu kurang dari 36 jam. Hal ini menyebabkan wabah semakin cepat menyebar dan menyebabkan pandemi. Kalau sudah menyebar ke berbagai negara, maka sektor transportasi dan pariwisata juga tertekan karena kunjungan ke negara sumber wabah jadi menurun drastis. Jika terus terjadi dampaknya juga akan dirasa di sektor perdagangan ekspor-impor. Bukan tak mungkin ada larangan pembelian barang dari negara yang sedang terkena wabah oleh negara lain sebagai upaya untuk mencegah wabah menyebar luas. China merupakan salah satu pembeli karet alam terbesar di dunia. Pada 2018 China mengimpor karet senilai US$ 3,6 miliar atau setara dengan Rp 50,4 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.000/US$. Jadi kalau ekonomi China kena tekanan gara-gara wabah ini, komoditas karet pun ikut kena imbasnya.
Sumber: CNBC.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 68 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 22
  • Page views today : 23
  • Total visitors : 553,731
  • Total page view: 1,140,196