Connect with us
Update Now

Banjarmasin

Kalsel Mulai Masuki Musim Penghujan, Pengaruh La Nina BPBD Minta Warga Waspada Bencana

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 132,535 kali

La Nia membuat hujan sering turun dengan durasi lebat di beberapa wilayah Kalsel, BMKG himbau warga waspada (dok, tribunnews.com)

BêBASbaru.com, BANJARMASIN – Cuaca akhir-akhir ini kurang menentu. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memantau anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator saat ini menunjukkan berkembangnya La Nina.

Mengantisipasi ini, Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Mujiyat,  menyampaikan, menjelang musim hujan pihaknya bakal melakukan pemetaan daerah-daerah rawan bencana. “Dengan begitu, kita bisa melakukan antisipasi dengan cepat,” kata Mujiyat.

Dalam penanganan bencana, dia menyampaikan pihaknya ingin memaksimalkan helikopter tipe Chinook  yang tiba Senin (12/10/2020) tadi. “Karena di samping untuk jatuhkan bom air, heli juga bisa digunakan untuk pendistribusian logistik,” runytnya.

Terkait daerah rawan bencana, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalsel, Sahruddin,  mengatakan, jika berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, ada 10 kabupaten/kota di Kalsel yang berpotensi banjir apabila hujan turun dengan intensitas tinggi.

Sepuluh daerah itu yakni, Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Balangan, Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru, Tapin, Barito Kuala dan Kota Banjarbaru. “Sepuluh daerah ini banjir biasanya karena luapan air sungai,” beber Sahruddin.

Dia mengungkapkan, ada sejumlah sungai di Kalsel yang meluap apabila intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir meninggi. Di antaranya, Sungai Riam Kiwa dan Sungai Riam Kanan. “Kalau dua sungai ini meluap, dampaknya banjir di beberapa wilayah Kabupaten Banjar,” ungkapnya.

Sedangkan di daerah Banua Anam, banjir biasanya dikarenakan luapan air dari Sungai Tabalong yang melintasi Kabupaten Tabalong, Balangan dan Hulu Sungai Utara (HSU). “Kalau sungai ini meluap, yang banjir pasti sepaket, yakni Tabalong, Balangan dan HSU. HSU yang paling lama terendam karena berada paling bawah,” ujarnya.

Selain itu, Sahruddin menyampaikan, Sungai Barito juga berpotensi meluap jika intensitas hujan tinggi di daerah hulu. Akibatnya, banjir pun terjadi di wilayah Barito Kuala. “Sementara di daerah pesisir, sungai yang rawan meluap ialah Sungai Satui, Sungai Kusan dan Sungai Tabanio. Ini bisa mengakibatkan kawasan Tanah Laut dan Tanah Bumbu banjir,” ucapnya.

Sedangkan di Banjarbaru, ada Sungai Cempaka yang saban tahun meluap apabila hujan deras mengguyur kawasan itu. Akibatnya, wilayah Kecamatan Cempaka direndam banjir. “Sungai Kemuning juga terkadang meluap, dan mengakibatkan kawasan Kemuning dan sekitarnya terendam,” beber Sahruddin.

Terkait perkembangan La Nina, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru Goeroeh Tjiptanto menuturkan, Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) pada Oktober ini telah menunjukkan kondisi La Nina. “Beberapa institusi memprediksi La Nina lemah sampai moderat terjadi hingga Maret hingga Mei 2021,” tuturnya.

Lebih jauh dia memaparkan, catatan historis menunjukkan La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40 persen di atas normalnya. Namun, dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia. Pada Bulan Oktober-November, peningkatan curah hujan bulanan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan Selatan dan hampir di seluruh wilayah Indonesia kecuali Sumatera.

“Selanjutnya pada Desember hingga Februari 2021, peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku-Maluku Utara, dan Papua,” kata Goeroeh. Sedangkan pada Oktober ini, dia mengungkapkan, Kalsel diperkirakan memasuki musim hujan. Peningkatan curah hujan, seiring dengan awal musim hujan disertai peningkatan akumulasi curah hujan akibat La Nina berpotensi menjadi pemicu terjadinya bencana hidro-meteorologis. Seperti banjir dan tanah longsor.

Dia berharap agar para pemangku kepetingan dapat lebih optimal melakukan pengelolaan tata air terintegrasi dari hulu hingga hilir. Misalnya, dengan penyiapan kapasitas sungai dan kanal untuk antisipasi debit air yang berlebih. “Masyarakat agar diimbau supaya terus memperbaharui perkembangan informasi dari BMKG dengan memanfaatkan kanal media sosial infoBMKG atau langsung menghubungi kantor BMKG terdekat,” urainya.

Sumber: banjarmasinpost.co.id dan berbagai sumber (dengan judul: Waspada Anomali Cuaca La Nina, BPBD Kalsel Lakukan Pemetaan Daerah Rawan Bencana)

Berita ini sudah dilihat 92 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 40
  • Page views today : 45
  • Total visitors : 532,894
  • Total page view: 1,116,820