Connect with us
Update Now

Headline

Kalideskop 2020 Bagian 3: Belajar Daring yang Bikin Heboh

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 407,404 kali

Demi dapat sinyal, para pelajar terpaksa panjat pohon belajar daring (dok, indozone)

BệBASbaru.com, INVESTIGASI – Di sektor pendidikan, pada 28 Mei 2020, Mendikbud Nadiem Makarim mengeluarkan  Surat Edaran Nomor 15 tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah untuk mencegah penularan Covid-19 di lingkungan pendidikan.

Toh, segudang aturan yang diterbitkan tak juga menjamin penanganan pandemi Covid-19 berjalan mulus. Persoalan demi persoalan tetap muncul. Yang utama adalah transparansi data Covid-19 yang meliputi jumlah suspek, pemeriksaan harian, kasus positif konfirmasi, pasien sembuh, dan pasien meninggal.

Jokowi pernah mendapat kritik dari para pakar soal keterbukaan data pasien. Pemerintah diminta transparan dan menjelaskan menjelaskan domisili pasien positif, di mana dugaan dia tertular, dan bagaimana ia bisa terjangkit virus corona agar masyarakat tak resah dan bisa mawas diri.

Selain itu, kecurigaan merapel data kematian juga datang dari para pengamat kesehatan dan epidemiolog. Para ahli menyampaikan skala kasus dan kematian sejatinya di masa pandemi kemungkinan jauh lebih tinggi hingga 3 kali dari angka resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah.

“Ini fenomena yang terjadi di hampir semua negara berkembang di dunia. Karena sistem pelaporan yang memang belum optimal dan angka kematian Covid-19 ini merupakan akibat dari beragam faktor, antara lain belum memadainya deteksi dini, dan pelacakan kasus kontak, termasuk juga faktor komorbid,” ujar Epidemiolog Universitas Griffith Dicky Budiman.

Tidak sampai di sana, upaya testing-tracing-treatment di Indonesia juga dinilai masih jauh api dari panggang. Standar badan kesehatan dunia (WHO) untuk melakukan testing sebanyak 1.000/1 juta penduduk dalam satu minggu belum sekalipun tercapai.

Untuk kapasitas secara nasional, dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia mencapai lebih dari 267 juta jiwa, diperlukan tes risiko setidaknya sebanyak 267.000 orang per pekan. Tanpa jumlah tes yang sesuai standar WHO gambaran kasus Covid di Indonesia belum dapat dinyatakan valid.

Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito pada 10 Desember lalu menyatakan grafik testing hampir mencapai standar WHO per pekan pertama bulan tersebut yakni 95,35 persen. Namun, angka itu masih fluktuatif karena terjadi penurunan pada pekan selanjutnya jadi sekitar 81 persen.

“Hal ini tentu sangat disayangkan, mengingat kita sudah mendekati target dari WHO pada minggu lalu,” kata Wiku, Selasa (15/12) yang juga menyatakan penurunan itu jadi bahan evaluasi. Dari sisi penelusuran kontak (tracing), Indonesia juga belum bisa menyesuaikan dengan standar WHO.

Idealnya dalam 1 penemuan kasus positif, penelusuran kontak dilakukan kepada 20-30 orang kontak erat. Selain itu, upaya tracing ini juga harus menghadapi kenyataan: kurangnya petugas penelusuran kontak.

Sumber: CNN Indonesia.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 132 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 3
  • Page views today : 4
  • Total visitors : 553,445
  • Total page view: 1,139,864