Connect with us
Update Now

Barito Kuala

Jalan dan Jembatan Rusak, Penjualan Hasil Pertanian dan Perkebunan Anjlok

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 406,426 kali

Jembatan di Tanggung Rejo Batola yang kondisinya sangat memprihatinkan (dok, kalselpos)

BệBASbaru.com, BATOLA – Desa Beringin Kencana dan Desa Tanggul Rejo Kecamatan Tabunganen merupakan sentra penghasil kelapa di wilayah Kabupaten Batola, yang mana hampir rata-rata semua warga di dua desa ini memiliki kebun kelapa.

Selain penghasilan warga bersumber dari hasil pertanian, nelayan dan juga hasil perkebunan kelapa. Namun sayangnya hasil dari pertanian dan kelapa, harga jualnya jauh dari harga pasaran.

Untuk harga gabah kering jenis siam hanya mencapai harga Rp7 ribu perkilonya, dan harga buah kelapa muda Rp1.700 hingga Rp3.000, serta buah kelapa kering hanya Rp2.000.

Sementara untuk harga jual padi di luar desa mencapai Rp80.000 – Rp85.000 dan buah kelapa muda berkisar Rp5.000 – Rp8.000, sementara buah kelapa kering dari Rp3.000- Rp5.000.

Minimnya harga jual hasil pertanian dan buah kelapa, menjadi keluhan warga di dua desa wilayah kecamatan Tabunganen yaitu desa Beringin Kencana dan Desa Tanggul Rejo. Jalan dan jembatan yang mengalami kerusakan ini merupakan akses penghubung 2 wilayah kecamatan yakni, wilayah kecamatan Tamban dengan wilayah kecamatan Tabunganen.

Jalan ini dulunya pernah di aspal pada 1995 lalu, namun hingga saat ini tidak pernah tersentuh perbaikan. Apabila air pasang, jalan terendam air, kondisi jalan sebagian mulai menyempit lantaran tergerus oleh air pasang.

Kepala desa beringin kencana, Murtoyo mengatakan, minimnya hargal dan gabah tersebut dikarenakan akses penghubung ke wilayah desanya rusak, sehingga menjadi permainan tengkolak untuk memainkan harga gabah dan buah kelapa.

“Turunnya harga pasaran gabah kering dan buah kelapa, hal ini disebabkan akses darat sulit dilewati karena jalan dan jembatan mengalami kerusakan cukup parah,” jelasnya.

Kepala desa Tangggul Rejo juga mengeluhkan hal yang sama. Menurutnya, pemerintahan desa tidak bisa menganggarkan dana desa untuk perbaikan jalan dan jembatan rusak, karena bukan aset desa melainkan aset Pemda kabupaten Batola.

“Sementara untuk perbaikan jalan dan jembatan hanya bisa dilakukan swadaya bersama warganya”, ucapnya. Salah seorang warga Darmadi, menuturkan, rusaknya akses darat sulit untuk membawa hasil pertanian atau dari perkebunan ke luar desa.

“Sehingga terpaksa menjual hasil pertanian dan perkebunan tersebut pada tengkolak meskipun harga jual lebih murah,” ucapnya.

Sumber: klikkalsel.com dan berbagai sumber (dengan judul: Penjualan Hasil Pertanian dan Perkebunan Terkendala Akses Jalan)

Berita ini sudah dilihat 258 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 81
  • Page views today : 86
  • Total visitors : 553,412
  • Total page view: 1,139,817