Connect with us
Update Now

Headline

Ironis Dokter Positif Covid-19 di Tolak RS Bagian 1 : Dokter Galuh Sempat Keliling Cari RS

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 406,350 kali

Ilustrasi, para dokter yang ada di Garda terdepan sempat kesulitan cari RS setelah positif korona (dok, CNN Indonesia.com)

BệBASbaru.com, INVESTIGASI – Galuh Pradi Paramita, Dokter Umum di Rumah sakit Umum (RSU) Daha Husada Kediri, Jawa Timur, mengaku sempat ditolak beberapa RS saat hendak mencari ruang isolasi usai positif Covid-19, akhir tahun lalu.

Setelah mencari ke sejumlah lokasi, ia berhasil mendapatkannya. Itupun karena statusnya sebagai dokter. “Kalau saya susah waktu itu nyari ruang isolasi sampai akhirnya ketemu di RSUD Kilisuci, Kediri. Bahkan, seandainya saya bukan dokter, saya tidak bisa masuk ruang isolasi,” kata Galuh saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (6/1).

Galuh, yang juga menjabat sebagai penanggung jawab instalasi isolasi mandiri di RSU Daha Husada ini, saat itu mengaku tidak mengalami gejala berat, melainkan gejala ringan berupa tubuh mudah lelah dan ruam di kulit. Hal itupun, katanya, tetap membutuhkan perawatan khusus.

Diketahui, tempat tidur atau ruang perawatan dan isolasi bagi pasien Covid-19 di berbagai daerah dilaporkan sudah penuh atau nyaris penuh. Berdasarkan data lembaga Lapor Covid-19, keterisian tempat tidur unit perawatan intensif (ICU) di RS rujukan pasien Covid-19 Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) sudah mencapai 100 persen.

Satgas Penanganan Covid-19, per 2 Januari 2020, mencatat rata-rata tingkat keterisian ICU dan ruang isolasi di seluruh Provinsi Indonesia mencapai 67,61 persen. Provinsi dengan tingkat keterisian ICU tertinggi ada di Provinsi DKI Jakarta dengan 87,74 persen. Lalu, empat provinsi tertinggi lainnya adalah Provinsi Banten dengan (84,52 persen), Provinsi Yogyakarta (83,36 persen), Provinsi Jawa Barat (79,77 persen) dan Sulawesi Barat dengan (79,31 persen).

Padahal, rasio keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) yang ideal adalah di bawah 60 persen. Untuk menyiasati kasus seperti Galuh, Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Dr Drajat Prawiranegara Serang, Banten, Ririek Andri mengaku memiliki rencana darurat berupa ruang khusus bagi tenaga kesehatan yang terkena Covid-19.

“Kalau di RS kami, disediakan dua tempat tidur kosong untuk tenaga kesehatan semisal jatuh sakit jadi bisa. Karena kalau tidak susahnya setengah mati, ke tempat lain tidak akan dapat,” kata dia, kepada CNNIndonesia.com, Rabu (6/1).

Tenaga medis sendiri diketahui jadi salah satu kelompok yang paling rentan terpapar Covid-19 karena berhadapan langsung dengan pasien serta sistem kesehatan di Indonesia yang masih buruk. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun menyebut Indonesia jadi rangking pertama dalam hal kematian tenaga medis di Asia, dan lima besar di seluruh di dunia.

Rinciannya, 504 tenaga medis di Indonesia meninggal dunia akibat Covid-19, dengan 237 di antaranya adalah dokter, 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, dan 10 tenaga lab medik. Saking penuhnya ruang perawatan, Kepala IGD RSUD Dr Drajat Prawiranegara Serang Ririek Andri menyebut pasien Covid-19 dengan gejala parah pun harus bersiap mengantre.

Sebanyak 46 ruang isolasi rawat inap dan lima ruang ICU pun telah 100 persen terisi. “Hari ini ada 16 antrean ya. Ya memang sebetulnya kalau parah sekali gejalanya kami bawa ke IGD, dan itupun yang antre 16 itu,” jelasnya.

Ririek menduga kepadatan antrean di ruang perawatan ini tak lepas dari perilaku saat libur akhir tahun 2020. “Ini kan sekarang RS sudah jebol istilahnya. Nah ini kan ada gelombang Natal dan Tahun Baru. Natal sudah datang gelombangnya, yang Tahun Baru ini belum masuk nih,” pungkasnya.

Ahmad Rifqy Nubaeri, perawat di Rumah Sakit Mayapada, Jakarta Selatan, yang sejak November mulai ditugaskan untuk membantu menangani pasien Covid-19 dengan kondisi kritis di ICU rumah sakit tersebut, mengaku sampai harus menolak kerabat dosen dan kiainya untuk mendapatkan ruang perawatan pasien Covid-19. Padahal, katanya, RS Mayapada saat ini total telah membuka lima lantai untuk ruang perawatan pasien rawat inap Covid-19, dari semula hanya satu ruangan.

“Sampai detik ini, IGD full terus. Kamar rawat inap itu full. Jadi ICU juga sekarang pasien sesuai dengan tenaga itu udah full,” katanya. “Sekitar 3 bulan peningkatannya luar biasa. Mulai gejala ringan sampe berat masuk ICU,” imbuhnya.

Sumber: tempo.co dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 170 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 78
  • Page views today : 83
  • Total visitors : 553,409
  • Total page view: 1,139,814