Connect with us
Update Now

Dunia Islam

Inilah Tiga Wasiat Nabi Khidir yang Relevan dengan Orang Indonesia Saat Ini

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 406,945 kali

Ilustrasi, Nabi Khidir yang diriwayatkan masih hidup sampai kini (dok, berita center)

BệBASbaru.com, DUNIA ISLAM – Diriwayatkan, Nabi Musa AS pernah ‘memarahi’ kakek moyang manusia, yakni manusia pertama Nabi Adam AS, saat mereka bertemu di langit, sama seperti Nabi Muhammad SAW yang juga bisa bertemu Nabi Adam dan Nabi Musa saat dalam perjalanan Isra Mi’raj.

Nabi Musa terkenal sebagai Nabi yang gampang naik darah dan blak-blakan. Namun Nabi Musa juga salah satu Rasul yang sangat istimewa, karena di juluki Kalimullah, yakni salah seorang Nabi dan Rasul yang bisa langsung berbicara dengan Allah SWT tanpa perantara Malaikat Jibril.

Nabi Musa menyalahkan Nabi Adam yang telah melanggar pantangan Allah SWT, yakni memakan buah khuldi, saat masih berada di Surga. Sehingga Nabi Adam di hukum Allah SWT turun ke bumi dan berlanjut sampai ke keturunannya hingga akhir jaman.

Nabi Adam tak marah dengan pertanyaan Nabi Musa, Nabi Adam menjelaskan bahwa itu semua sudah ketentuan Allah, dan Tuhan Pencipta Alam ini sudah punya rencana-rencana untuk UmatNya. Nabi Adam malah menyuruh Nabi Musa agar bertanya langsung ke Allah, sebab Nabi Musa bisa langsung berbicara dengan Allah.

Dalam beberapa kesempatan dan beberapa riwayat, Nabi Khidir pernah memberikan nasihat dan wasiat kepada orang-orang yang pernah ditemuinya. Dari beberapa nasihat dan wasiat tersebut, terdapat satu wasiat yang masih relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini.

Wasiat tersebut tertulis dalam kitab az-Zuhd karya Imam Ahmad yang diriwayatkan dari Hammad bin Usamah (perawi yang terpercaya dan teliti). Hammad memperoleh kisah dari Mas’ar bin Kaddam al-Hilaly (perawi terpercaya dan teliti. Hadits-haditsnya terdapat dalam Kutubus Sittah), dari Ma’n bin Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud (perawi terpercaya dan pernah menjadi Hakim di Kufah), dari ‘Aun bin Abdullah bin Atabah bin Mas’ud (perawi terpercaya dan ahli ibadah. Hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Imam Muslim).

‘Aun mengisahkan bahwa seorang pemuda yang disebutkan oleh Mas’ar sebagai Nabi Khidir pernah berwasiat tiga hal kepada seorang lelaki yang sedang bersedih hati dalam sebuah kebun di Mesir. Tiga hal tersebut adalah pertama, dunia adalah keleluasaan sesaat yang diberikan kepada para ahli taat dan para ahli maksiat dan ‘sialnya’ dua-duanya sama-sama mencari makan dari-nya.

Kedua, Allah akan menyelamatkan siapapun yang memiliki sikap belas kasihan terhadap sesama umat Islam, dan Ketiga, jadilah orang yang tetap berdoa kepada Allah, meskipun belum dikabulkan. Tetap memohon kepada-Nya, meskipun belum diberi. Tetap bertawakkal kepada-Nya, meskipun belum dicukupi. Tetap yakin kepada-Nya, meskipun belum ditolong.

Tiga wasiat Nabi Khidir di atas, jika diamati lebih jauh, ternyata masih relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia di awal tahun 2021 ini.

Dimulai dari wasiat pertama yang disebutkan bahwa para ahli taat (ibadah) dan para ahli maksiat (pendosa) sebenarnya sama-sama makan dari dunia, meskipun dunia adalah kebahagiaan sesaat. Relevansi wasiat ini dengan kondisi Indonesia terletak pada fenomena korupsi di Indonesia yang seakan-akan tidak memiliki ujung.

Beberapa kasus korupsi yang paling anyar adalah kasus suap proyek di Kementerian PUPR, suap di Kementerian Kelautan dan suap di Kemensos RI dan fenomena ‘desa gaib’. Jika dikaitkan dengan wasiat pertama Nabi Khidir, sejatinya kasus korupsi adalah hal yang ‘wajar-wajar’ saja. Sebab dunia (uang dan sejenisnya) adalah ‘makanan’ yang disediakan untuk dua golongan (hitam dan putih), bukan disediakan hanya untuk satu golongan saja. Golongan putih akan menggunakan dunia dengan bijaksana, sedangkan golongan hitam akan ‘memakai’ dunia dengan membabi buta.

Wasiat kedua menyebutkan bahwa Allah akan menyelamatkan orang yang memiliki belas kasihan terhadap sesama umat Islam. Kesesuaian wasiat ini dengan kondisi Indonesia saat ini terletak pada tragedi terorisme yang terjadi baru-baru ini. Melakukan bom bunuh diri sama sekali bukan tindakan yang dapat membuat Sang Pencipta cinta, tetapi justru membuat-Nya murka. Sebab manusia-manusia yang akan diselamatkan oleh-Nya adalah manusia yang penyayang terhadap sesamanya, sedangkan bom bunuh diri tidak dapat diketegorikan kasih sayang. Melakukan bom bunuh diri dengan dalih ‘mati syahid’ adalah sebuah ‘lelucon’ yang tidak bisa dimaafkan.

Wasiat terakhir Nabi Khidir adalah menjadi manusia yang tetap berdoa walau doa yang dipanjatkan belum kunjung terkabul, tetap memohon kepada Allah walaupun belum diberi, tetap bertawakkal kepada-Nya walau belum tercukupi, dan tetap yakin kepada-Nya walau belum mendapatkan pertolongan.

Relevansi wasiat ini dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini terletak pada ‘curahan hati’ para manusia yang sering mengeluh tentang kondisi ekonominya, apalagi saat ini dunia sedang di serang Virus Korona atau Covid-19 . Dalam beberapa majelis ilmu, sering dijumpai pertanyaan tentang “mengapa orang yang ahli ibadah mengalami kesusahan ekonomi, sedangkan orang yang ibadahnya santai-santai saja justru uang mengalir tiada henti?”. Wasiat tersebut mengisyaratkan bahwa hamba-hamba yang dicintai oleh Sang Pencipta biasanya lebih sering diuji sebagai wujud rasa cinta.

Wallahu A’lam

Sumber: Islam.co dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 180 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 97
  • Page views today : 115