Connect with us
Update Now

Headline

Inilah Menteri yang Tergusur Padahal Belum Setahun Menjabat

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 457,836 kali

Wisnuhutama yang tak pernah kontroversial malah tergusur dan di gantikan Sandiaga Uno (dok, tribunnews.com)

BệBASbaru.com, NASIONAL – Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan reshuffle kabinet sejumlah menteri ekonomi di Kabinet Indonesia Maju. Perombakan setidaknya melibatkan empat menteri ekonomi yang ‘didepak’ dari jajaran kabinetnya.

Empat eks menteri itu adalah Agus Suparmanto sebagai eks Menteri Perdagangan, Edhy Prabowo sebagai eks Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Wishnutama sebagai eks Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan Juliari Batubara dari kursi Menteri Sosial.

Lantas, bagaimana kinerja mereka selama berada di Kabinet Indonesia Maju:

  1. Agus Suparmanto

Jika dilihat dari kinerja neraca perdagangan, nilainya terlihat membaik sejak Januari 2020. Pada Januari 2020 neraca perdagangan defisit sebesar US$640 juta dan November 2020 surplus US$2,61 miliar. Hal ini seiring dengan kenaikan ekspor beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor November 2020 naik 9,54 persen dari US$13,94 miliar menjadi US$15,28 miliar.

Di sisi lain, impor turun 17,46 persen pada November 2020. Walhasil, total impornya cuma US$12,66 miliar dari sebelumnya US$15,34 miliar.

Jika dilihat sekilas, kinerja neraca dagang memang bagus karena nilai ekspor lebih besar ketimbang impor. Namun, penurunan impor terjadi cukup signifikan pada bahan baku/penolong sebesar 20 persen menjadi US$8,93 miliar.

Biasanya, jika impor bahan baku turun, industri manufaktur di Indonesia sedang tidak bergeliat. Secara keseluruhan, penurunan impor terjadi pada komoditas bahan kimia anorganik, buah-buahan, binatang hidup, bahan bakar mineral, serta gula dan kembang gula.

Harga pangan juga terlihat sempat naik. Bahkan, kenaikan masih terjadi jelang Natal dan Tahun Baru. Beberapa komoditas yang harganya naik, antara lain cabai merah keriting sebesar Rp2.650 menjadi Rp56.200 per kg, minyak goreng kemasan bermerk 1 naik Rp50 menjadi Rp15.100, dan bawang putih ukuran sedang naik Rp100 menjadi Rp28.550 per kg.

  1. Edhy Prabowo

Edhy mengundurkan diri sebagai Menteri KKP setelah ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akibat dugaan korupsi terkait ekspor benih lobster.

Kebijakan ekspor tersebut kembali dibuka oleh Edhy setelah sempat ditutup oleh pendahulunya, Susi Pudjiastuti.

Pencabutan itu tertuang dalam Peraturan Menteri KKP Nomor 12/Permen-KP/2020 tentang Pengelolaan Lobster (Panulirus spp), Kepiting (Scylla spp), dan Rajungan (Portunus spp) di Wilayah Negara Republik Indonesia.

Setelah Edhy membuka lagi izin ekspornya, aktivitas ekspor benih lobster langsung naik. Catatan BPS menunjukkan nilai ekspor benih lobster (kode HS 03063110) per Juni 2020 tercatat sebesar US$112 ribu dengan volume 32 kilogram (kg).

Angkanya melonjak pada Juli 2020 menjadi US$3,66 juta dengan volume 1.388 kg. Benih lobster pada periode itu tercatat diekspor ke Vietnam. Selanjutnya, nilai ekspor ke Vietnam semakin meningkat pada Agustus 2020 menjadi US$6,42 juta dan September 2020 tembus US$15,09 juta. Ekspor benih lobster juga dilakukan ke negara selain Vietnam.

Ke Taiwan misalnya, pada Agustus 2020 lalu tercatat sebesar US$7.000. Lalu, ekspor benih lobster ke Hong Kong pada September 2020 senilai US$60.355. Jika ditotal, nilai ekspor benih lobster sejak Maret hingga September 2020 sebesar US$25,36 juta. Jumlah benih lobster yang diekspor sebanyak 12.100 kg.

Secara keseluruhan, ekspor perikanan sepanjang Januari-Oktober 2020 belum terlalu bagus. Ekspor perikanan hanya naik 15,92 persen secara tahunan dari US$203,45 juta menjadi US$235,84 juta.

Lalu, ekspor perikanan budaya pada Januari-Oktober 2020 minus 13,23 persen secara tahunan dari US$262,19 juta menjadi US$227,51 juta. 3. Juliari Batubara

Senasib dengan Edhy, Juliari juga ditetapkan tersangka kasus korupsi penyaluran bantuan sosial (bansos) oleh KPK. Kasusnya mencuat tak lama setelah penangkapan Edhy.

Juliari sempat memaparkan realisasi penyaluran bansos di Kementerian Sosial (Kemensos) sebesar Rp112,72 triliun per 3 November 2020. Angkanya baru 87,44 persen dari total alokasi dana sebesar Rp128,92 triliun.

Mayoritas dana itu disalurkan lewat program sembako sebesar Rp37,31 triliun. Jumlahnya setara dengan 86 persen dari target yang sebesar Rp43,12 triliun. Selanjutnya, pemerintah juga menyalurkan dana sebesar Rp36,71 triliun lewat program keluarga harapan (PKH), bansos tunai sebesar Rp25,86 triliun.

Kemudian, bansos sembako Jabodetabek Rp5,65 triliun, bansos tunai bagi keluarga penerima manfaat (KPM) sembako non PKH sebesar Rp4,5 triliun, dan bansos beras sebesar Rp3,29 triliun. Sementara, Menteri Keuangan Sri Mulyani mencatat realisasi penerima bansos dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN) sebesar Rp217,16 triliun per 14 Desember 2020. Realisasinya mencapai 94,33 persen dari pagu Rp230,21 triliun.

Bansos itu diberikan untuk 10 juta keluarga penerima manfaat (KPM) yang terdaftar sebagai peserta program keluarga harapan (PKH), 10 juta KPM dalam bentuk beras, 1,9 juta KPM dalam bentuk bantuan sembako Jabodetabek, dan 9,2 juta KPM dalam bentuk bantuan sembako non Jabodetabek.

Lalu, 12,4 juta pekerja lewat bantuan subsidi upah, 19,4 juta KPM dalam bentuk kartu sembako, 9 juta KPM lewat bantuan tunai sembako non PKH, dan 5,6 juta peserta kartu prakerja. Kemudian, sebanyak 31,6 juta pelanggan rumah tangga serta UMKM yang mendapat diskon dan gratis listrik, 8 juta penerima BLT dana desa, 16,14 juta siswa lewat kartu Indonesia pintar (KIP), dan 44,3 juta siswa penerima subsidi kuota internet.

  1. Wishnutama

Sektor pariwisata bisa dibilang mencatatkan kinerja buruk sejak awal 2020. Hal ini lantaran pandemi covid-19. Pandemi membuat banyak negara membatasi pergerakan di ruang publik dan memberlakukan kebijakan lockdown. Beberapa tempat pariwisata pun ditutup sementara demi mencegah penularan covid-19.

Alhasil, data BPS menunjukkan Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia cuma 158,19 ribu kunjungan pada Oktober 2020. Angkanya turun 88,25 persen jika dibandingkan dengan Oktober 2019.

Secara kumulatif Januari-Oktober 2020, jumlah kunjungan wisman sebanyak 3,72 juta kunjungan. Angka itu berkurang 72,35 persen dibandingkan kunjungan wisman pada periode yang sama tahun berjumlah 13,45 juta kunjungan.

Sebelumnya, Wishnutama memproyeksi penerimaan devisa dari sektor pariwisata tahun ini anjlok 50 persen atau US$10 miliar dari posisi 2019 sebesar US$20 miliar. Hal ini terjadi karena industri pariwisata melempem akibat penyebaran virus corona.

Namun, pada 17 Desember 2020 lalu, ia mengatakan pelaku sektor pariwisata masih memiliki peluang menggenjot wisata domestik. Sebab, ia mengungkapkan sekitar 6 juta hingga 7 juta orang Indonesia melancong ke luar negeri tahun lalu.

Jutaan orang tersebut menghasilkan 303 juta perjalanan ke luar negeri dengan dampak perekonomian mencapai Rp300 triliun. Dengan pembatasan perjalanan wisata ke luar negeri, ia menilai potensi tersebut sebagai peluang besar pelaku sektor pariwisata dalam negeri.

Sumber: CNN Indonesia dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 399 kali