Connect with us
Update Now

Dunia

Ini Cerita Orang Indonesia Muslim Di Amerika yang Masih Phobia Muslim dan Tingginya Rasisme

Diterbitkan

pada

Ilustrasi, seorang WNI bersama artis hollywood Lindsay Lohan yang memakai kerudung (dok, swamedium)

BêBASbaru.com, NEW YORK– Sejak SMA saya punya cita-cita untuk kuliah di Inggris. Namun garis takdir membawa saya menjalani beasiswa di Amerika Serikat. Saat datang pertama kali ke sini, ekspektasi soal Amerika Serikat tak berbeda dari yang saya bayangkan setelah membaca banyak literatur dan menonton tayangan yang berkisah soal Negeri Paman Sam. Di Amerika Serikat saya tinggal di New York City, kota multikultural yang tak pernah tidur. Ada pepatah di sini, kalau sudah pernah tinggal di New York City, berarti sudah pernah keliling dunia. Itu satu hal yang saya suka dari New York City. Diaspora Indonesia juga cukup besar di sini, terutama di daerah Queens. Kalau kangen masakan rumah, tinggal datang ke Indonesian Food Festival yang diadakan tiap awal bulan. Atau main ke rumah keluarga Indonesia melepas kangen berbahasa Minang, bahasa ibu saya. Sejak pandemi virus corona melanda dunia, kegiatan perkuliahan dan praktik kerja saya jadi terganggu. Kuliah yang tadinya tatap muka berubah jadi daring. Dan praktik kerja saya yang berupa mengajar di sekolah dasar di the Bronx terhenti. Bertemu teman-teman, buka puasa bersama di Earl Hall, dan menghabiskan waktu di perpustakaan umum juga harus saya lewatkan sejak pemerintah kota New York City mewajibkan warganya berdiam di rumah. Di tengah pandemi virus corona, KBRI menghimbau WNI untuk bersikap tenang dengan alasan keselamatan. Sepengetahuan saya, di New York City konsentrasi demo lebih ke arah pusat kota Manhattan, dan area tertentu di Brooklyn, Queens, dan the Bronx. Demo seperti long march dan rally mayoritas berlangsung aman. Ada penjarahan di beberapa daerah tertentu, seperti Soho, Herald Square, dan Fifth Avenue. Kalau saya pribadi tidak terlalu ngeri karena lokasi penjarahannya jauh dari tempat saya tinggal. Berbicara mengenai rasisme di Amerika Serikat, saya sebagai perempuan berhijab asal Asia pernah juga mengalami perudungan (bullying) dalam skala kecil (microaggression).  Yang paling teringat mungkin saat saya harus satu kelompok tugas belajar dengan sejumlah mahasiswa yang seluruhnya kulit putih. Saya satu-satunya orang kulit berwarna di kelompok, dan saya sempat kesulitan menyelesaikan tugas pribadi saya karena hal ini. Selama tugas kelompok, ide saya selalu dibantah dengan alasan tidak masuk akal atau tidak sesuai dengan format tugas. Pengalaman Islamophobia juga pernah sekali saya alami. Waktu itu saya diteriaki ‘f****t’ di stasiun Grand Central. Terminologi yang kurang tepat, sebenarnya haha..Saya cukup kagum dengan perantau non-kulit putih yang telah bertahun-tahun hidup di Amerika Serikat. Salah satunya teman saya asal Gambia, sebut saja namanya K. Empat bulan yang lalu, K telah resmi menjadi penduduk Amerika Serikat. Dia sering bercerita soal bagaimana caranya bertahan hidup sendiri, tak hanya sebagai perempuan Muslim, namun juga kulit hitam di Negara Paman Sam. Saya sangat salut dengan kegigihannya. Selain melengkapi dokumen resmi, memahami perbedaan budaya dan cuaca, serta menghemat uang, hal lain yang juga penting untuk bekal merantau di Amerika Serikat ialah meluruskan niat. Jika ingin sekolah, benar-benar fokus dan carilah ilmu sebanyak-banyaknya, di dalam dan di luar kampus. Jika ingin bekerja dan memperbaiki nasib, berpayah-payahlah. Namun jangan sampai kehilangan identitas diri. Kalau saya secara pribadi, identitas sebagai, seorang Muslim, orang Minang, warga negara Indonesia. Terbuka dengan perbedaan, tapi jangan sampai kehilangan jati diri kita.

Sumber: cnn Indonesia.com dan berbagai sumber

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

SPACE IKLAN

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 91
  • Page views today : 114
  • Total visitors : 503,832
  • Total page view: 1,081,366