Connect with us
Update Now

Headline

In Memoriam Pramono Edhie Wibowo: Para ‘Dukun’ yang Datang Entah Darimana, Pulang Satu-persatu Setelah Mega-Hashim Kalah Melawan SBY-JK Tahun 2004

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 100,167 kali

Jenderal Pramono Edhie Wibowo dapat ucapan selamat dari Taufiq Kiemas setelah jadi KSAD (dok, Viva)

BêBASbaru.com, INVESTIGASI – “Setelah pilpres putaran ke II Tahun 2004, saya hanya diam tak banyak bersuara, kala melihat ‘bos’ (Presiden Megawati) mengurung diri di kamar dan Bapak (Taufiq Kiemas) terlihat mondar-mandir gelisah, ketika hitungan cepat terlihat memenangkan kakak ipar saya Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla,” ungkap Jenderal (Purn) TNI  Pramono Edhie Wibowo. Sebagai ajudan Presiden Megawati, lanjut pria yang akrab di sapa Pa Pewe ini, dia tentunya dalam posisi serba sulit. Itulah cerita Pa Pewe kepada semua Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat se Kalsel, pada Tahun 2016 silam, di Hotel Mercure, Banjarmasin dalam rangka silaturahim dan Musda PD se Kalsel ke IV. Yang lucu, tambah Pa Pewe, para dukun yang banyak berdatangan entah dari mana, satu persatu pulang tanpa pamit dengan tuan rumah (Megawati), setelah makin sore kemenangan SBY-JK makin tak terbendung.

SBY melayat adik iparnya Alm Pramono Edhie (dok, rakyat merdeka)

“Makanan yang sejak pagi di hidangkan, saking banyaknya sampai berlebihan jadi basi. Karena dengan kekalahan Mega-Muzadi, semua pendukung merasa tak pantas makan-makan. Ini benar-benar di luar prediksi semua orang yang ada di rumah tersebut, sebab sebagai petahana serta memiliki posisi kuat, tak menyangka Mega sampai kalah melawan SBY,” kata Pewe sambil tertawa. Tiga hari setelah kekalahan itu, Pewe kemudian di panggil Taufiq Kiemas dan di tanya, apakah akan tetap mengabdi sebagai ajudan Presiden atau ingin berhenti. “No, kakak ipar kamu sekarang terpilih jadi Presiden mengalahkan Ibu. Apakah kamu masih ingin menjadi ajudan Ibu?’ tanya Taufiq Kiemas. “Untung saya masih ingat, situasi masih panas dan sangat tidak mengenakan, saya jawab, selama masih diperlukan Ibu, saya siap kapanpun,” ungkap Pewe. Akhirnya Pewe memang tetap menjadi ajudan sampai akhirnya SBY-JK dilantik sebagai Presiden dan Wapres gantikan Mega-Hamzah Haz.  Setelah Mega resmi tidak menjabat Presiden lagi, Pewe pun dipanggil kembali ke Mabes TNI dan dari sanalah pangkatnya terus naik sampai akhirnya jadi Pangdam, Pangkostrad dan akhirnya jadi KSAD sampai pensiun Tahun 2013.

Pramono Edhie saat sertijab jabatan KSAD dengan Moeldoko Tahun 2013 (dok, Line Today)

Tahun 2000 Awal Jabat Jadi Ajudan Megawati

Tanggal 27 September 2000 menjadi momen tersendiri bagi Pramono Edhie Wibowo. Kala itu, sebagai Komandan Grup 5 Kopassus, dia harus menyampaikan paparan soal keahlian anggota Grup 5 (antiteror) Kopassus kepada Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri. Selain Taufik Kiemas, hadir dalam kunjungan itu KSAD Jenderal Tyasno Sudarto, Menteri Perindustrian Jenderal Luhut Binsar Pandjaitan, dan Menko Polkam Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Entah terpikat oleh paparannya atau karena alasan lain, tak lama setelah kunjungan itu, Megawati mengangkatnya sebagai ajudan. Ketika Presiden KH Abdurrahman Wahid lengser pada 23 Juli 2001, Megawati, yang naik jadi presiden, mempertahankan Pramono sebagai ajudan hingga 2004. “Itu kasusnya seperti Fiman Gani (mantan Kapolda Metro Jaya) yang menjadi ajudan saat Pak BJ Habibie wapres lalu menjadi Presiden menggantikan Pak Harto,” kata Rajab Ritonga, mantan wartawan Antara yang lama bertugas di lingkungan tentara dan Istana, kepada detikcom, Minggu (14/6/2020). Dalam buku ‘Pramono Edhie Wibowo: Cetak Biru Indonesia ke Depan’ yang ditulisnya, Rajab menyebut menjadi ajudan adalah penugasan pertama Pramono di luar korps baret merah. Memasuki pemilihan presiden langsung pertama pada 2004, Pramono menghadapi dilema tersendiri. Di satu sisi, dia adalah ajudan Presiden. Tapi di sisi lain, ia adik ipar Menko Plokam SBY yang kala itu juga mencalonkan diri sebagai presiden. Karena satu dan lain hal, pencalonan SBY membuat hubungannya dengan Megawati kurang harmonis. Hal itu sepertinya berlangsung hingga sekarang. “Posisi (Pramono) Edhie Wibowo sebagai ajudan ‘terjepit’ di antara Megawati dengan Yudhoyono, namun dia tetap berusaha humble dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai ajudan Megawati,” tulis Rajab Ritonga yang kini Guru Besar Ilmu Komunikasi di Universitas Moestopo, Jakarta. Di pihak lain, Megawati pun tetap memperlakukan Pramono dengan baik. Salah satu buktinya, “Dia tetap menjadi ajudan hingga masa pemerintahan Megawati berakhir.” Pangkat dan Jabatan tertinggi Pramono Edhie Wibowo selepas menjadi ajudan adalah Jenderal dan menjadi KSAD. Dia pensiun pada 2013, lalu terjun ke dunia politik. Pramono menjadi salah satu peserta konvensi calon presiden yang diadakan Partai Demokrat. Pramono Edhie berpulang pada Sabtu malam (13/6) di RS Cimacan karena sakit Jantung.

Alm Pramono Edhie dan Alm Ibu Any saat sama-sama dukung AHY di Pilkada DKI (dok, Liputan6)

Sumber: BêBASbaru.com, detik.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 53 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 2 
  • Visitors today : 380
  • Page views today : 423
  • Total visitors : 528,117
  • Total page view: 1,111,497