Connect with us
Update Now

Uncategorized

Imbas Virus Corona Ekonomi China dan Singapura Mulai Hancur Bagian 2: Banyak Pebisnis Rugi dan Dalam Singkat Akan Bangkrut

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 453,259 kali

INVESTIGASI – Di sisi lain, dampak virus corona juga telah membuat pebisnis mengalami kerugian. Misalnya, pengusaha Beijing Wu Hai yang menulis di akun WeChatnya, mengatakan wabah corona dapat menghancurkan lebih dari 50 bar karoke yang dia jalankan. Wu terancam mengalami kebangkrutan pada April 2020 mendatang jika aktifitas bisnis tetap dilumpuhkan. Kurangnya aktifitas bisnis juga menempatkan 1.500 pekerjanya dalam risiko kehilangan pekerjaan dan terancam akan bangkrut pada April 2020 jika tidak membuka bisnisnya kembali. “Itu berarti, akan mati pada April, kecuali ada investor yang memberi (perusahaan MeiKTV milik Wu) uang,” tulisnya. Selain itu, Ketua Home Original Chicken Shu Congxuan mengatakan pada Sabtu lalu, perusahaan cepat sajinya sudah menutup lebih dari 400 toko, sejak wabah corona dimulai. Dalam pos Weibo, Shu mengatakan bahwa perusahaannya dalam bahaya kehabisan uang tunai karena masih perlu membayar sewa dan karyawan. Namun, dia tetap mempertahankan karyawannya, meski harus menjual mobil dan rumahnya. Selain itu, survei juga mengatakan bahwa 85 persen responden mengatakan, jika wabah terus berlangsung selama tiga bulan, maka perusahaan kecil dan menengah akan gulung tikar dan setelah 6 bulan, 90 persen perusahaan akan runtuh. Menurut analisis di S&P Global Ratings mengatakan saat ini perusahaan China sedang bersiap untuk melunasi utang di 2020. Mengingat meningkatnya risiko terhadap ekonomi, perusahaan mungkin lebih sulit untuk meminjam dana. Kemudian, peneliti S&P Global Ratings mengatakan, jika krisis kesehatan masyarakat stabil pada bulan depan, likuiditas masih akan berada di bawah tekanan, setidaknya pada kuartal pertama 2020, dan akan meningkatkan risiko gagal bayar bagi perusahaan China. Dalam mengatasi pengangguran massal dari dampak virus Corona, beberapa perusahaan ternama di China, seperti JD.com (JD) dan Alibaba (BABA) berjanji akan menerima pekerja yang kehilangan tempat tinggal akibat wabah tersebut. JD bahkan akan membuka lebih dari 20.000 posisi baru, pada pekan ini. Kemudian, pekan lalu, Bank Rakyat China juga memompa miliaran dolar ke pasar uang, guna menopang kemampuan bank dalam meminjamkan uang. Di sisi lain, bank sentral juga menyiapkan dana khusus sebanyak 300 miliar yuan (USD 43 miliar) dalam memberikan pinjaman murah kepada perusahaan-perusahaan utama guna mencegah epidemi. Kementerian keuangan China juga mengumumkan subsidi pemerintah untuk membuat pinjaman lebih murah. Selain itu, pemerintah di Beijing, Shanghai, dan beberapa provinsi juga meluncurkan langkah yang dianggap dapat meringankan beban perusahaan kecil, termasuk menawarkan subsidi agar dapat mengurangi sewa, dan memungkinkan perusahaan kecil menunda pembayaran kontribusi jaminan sosial atau pajak. Namun, Wu menyampaikan, kebijakan itu, seperti jaminan sosial masih menjadi beban utama pengusaha. Kemudian dia juga meragukan efektivitas pinjaman preferensial yang dibuat bank sentral. “Kami tidak memiliki aset tetap, sebagai jaminan. Kami tidak memiliki arus kas operasi, karena kami tidak dapat membuka bisnis sebagai jaminan,” tulis Wu.
Sumber: merdeka.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 94 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA