Connect with us
Update Now

Headline

Hukuman Kebiri Berlaku Bagi Predator Anak, Apa Itu Kebiri Kimia?

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 411,173 kali

Hukuman kebiri kini berlaku bagi pelaku predator anak (dok, tribunnews.com)

BệBASbaru.com, NASIONAL – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meneken Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak.

Aturan ini merupakan turunan dari UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2OO2 tentang Perlindungan Anak.

Dalam pelaksanaan hukuman ini, pelaku kekerasan seksual terhadap anak diancam hukuman kebiri kimia. Pasal 1 ayat 2 dalam regulasi itu menyebutkan, tindakan kebiri kimia adalah pemberian zat kimia melalui penyuntikan atau metode lain kepada pelaku yang pernah dipidana karena praktik kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, sehingga menimbulkan korban lebih dari 1 (satu) orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia, untuk menekan hasrat seksual berlebih, yang disertai rehabilitasi.

Pasal 5 dalam PP tersebut menerangkan bahwa tindakan kebiri kimia dikenakan untuk jangka waktu maksimal dua tahun. Sementara Pasal 6 disebutkan bahwa tindakan kebiri kimia ditempuh melalui tiga tahapan yaitu penilaian klinis, kesimpulan, dan pelaksanaan.

Apa sebenarnya kebiri kimia itu?

Kebiri(disebut juga pengebirian atau kastrasi) adalah tindakan bedah dan atau menggunakan bahan kimia yang bertujuan untuk menghilangkan fungsi testis pada jantan atau fungsi ovarium pada betina.

“Kebiri sendiri ada dua macam yaitu kebiri melalui bedah dan non bedah,” kata Nur Rasyid, dokter spesialis urologi RSCM dan Siloam Asri, serta staf pengajar dept urologi FKUI ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (4/1).

“Kalo non operasi itu mengangkat isi dari testis kemudian ditutup lagi.” Sedangkan kebiri kimia adalah proses pengebirian dengan menggunakan suntikan bahan kimia. Senada dengan Nur Rasyid, Agus Rizal, dokter spesialis urologi RSCM mengungkapkan kebiri kimia adalah suatu tindakan pemberian zat kimia atau obat untuk memberikan efek kebiri, yaitu penurunan hormon testosterone (hormon khusus pada laki laki). Sampai saat beberapa zat kimia yang diberikan untuk kebiri kimia biasanya berupa suntikan di bokong.

Nur Rasyid juga mengungkapkan bahwa prosedur ini biasa dilakukan oleh dokter urologi ataupun dokter umum. Apa yang akan terjadi pada tubuh ketika dilakukan kebiri kimia?

Prosedur kebiri bedah bersifat permanen, sedangkan kebiri kimia bersifat sementara. Setelah dilakukan penyuntikan kebiri kimia, maka tubuh akan hormon testosteron tak akan terbentuk.

‘Obat’ kebiri kimia ini dibagi berdasarkan jangka waktu, yaitu disuntik untuk 12 minggu (3 minggu), 6 bulan, dan di dunia ada yang 1 tahun,” kata Nur Rasyid. “Dalam kondisi medis, hal ini dilakukan kepada pasien kanker prostat.”

Ketika obat kimia mulai bekerja maka sinyal dari otak untuk memproduksi hormon akan diblock. Artinya, testis tak akan menerima perintah dari otak untuk memproduksi hormon testosteron yang mempengaruhi hasrat seksual atau libido.

“Selama obat diberikan maka orang yang dikebiri kimia tidak akan memiliki hasrat seksual, karena ini tujuannya untuk menekan hasrat seksual.” “Karena libido hilang, dorongan seksual juga hilang. Keinginan terhadap perempuan (atau orang yang disuka) turun.

Nur Rasyid mengungkapkan, orang dengan kadar testosteron rendah akan mengalami andropause, semacam menopause. Hanya saja, tambah dia, jika andropause terjadi secara alami, maka ketika dikebiri maka perubahan akan terjadi secara mendadak.

“Karena perubahan mendadak ini maka biasanya yang terjadi adalah muka terasa seperti terbakar (terasa panas), sifat menjadi lebih tidak sabar, gangguan tidur kalau malam susah tidur dan siang tidur terus. Selain itu daya juangnya juga berkurang,” ucapnya.

Perkara efek samping, Agus Rizal menambahkan bahwa perubahan mood dan juga gangguan di tulang dan jantung juga mungkin terjadi. “Dalam jangka panjang, mood bisa lebih cenderung pasif, untuk tulang bisa terjadi pengeroposan tulang, kalau jantung bisa meningkatkan risiko serangan jantung.”

Hanya saja efek kebiri kimia ini akan bersifat sementara. Baik Nur Rasyid dan Agus Rizal sama-sama mengungkapkan bahwa ketika bahan kebiri kimia tak lagi diberikan maka secara perlahan kondisi tubuh akan kembali seperti semula, artinya hasrat seksual akan kembali seperti semua karena pembentukan hormon sudah berjalan lancar kembali.

Kedua dokter juga menyebutkan bahwa perlakuan kebiri kimia sementara ini tak akan memengaruhi sperma. “Orangnya tidak memiliki hasrat seksual saja. Dan tidak ada kairannya dengan sperma,” ungkap Agus.

“Tidak berpengaruh terhadap pembentukan sperma, karena menghambatnya di bagian atas. Selama proses kebiri kimia, sperma berkurang selama kebiri,” ungkap Nur Rasyid. “Fungsi testis itu ada dua yaitu pembentukan testoteron dan spermatogenesis (pembentukan sperma). Pada kebiri kimia yang terhambat hanya pembentukan testosteronnya saja.”

Sumber: CNN Indonesia.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 115 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup