Connect with us
Update Now

Uncategorized

Harun Masiku Dikorbankan Untuk Lindungi Oknum Petinggi PDIP Bagian 3 : Harun Diminta Hilangkan Jejak, Disuruh Rendam HP Ke Air

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 411,385 kali

Investigasi – Masih berdasarkan penelusuran Tempo, jejak Harun terpantau oleh tim penindakan komisi antikorupsi saat magrib. Menggunakan kemeja merah lengan panjang, menurut seorang saksi mata, Harun terlihat di depan Grand Cafe, lantai 3, Hotel Grand Hyatt, Jakarta Pusat. Sekitar setengah jam kemudian, Harun merapat ke sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, untuk bertemu dengan Nurhasan, penjaga kantor Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Dikutip dari Majalah Tempo, Nurhasan menghubungi Harun untuk menyampaikan instruksi diduga berasal dari Hasto, yaitu semua telepon seluler Harun direndam dalam air. Sekitar enam jam sebelumnya, KPK mencokok anggota KPU, Wahyu Setiawan, dan orang dekatnya, Agustiani Tio Fridelina Sitorus. KPK juga menciduk enam orang lain. Dua di antara mereka adalah Saeful Bahri dan Donny Tri Istiqomah. Keduanya, menurut sejumlah politikus PDIP, adalah orang dekat Hasto. Adapun Hasto diduga ikut memberikan duit suap senilai Rp 400 juta untuk Wahyu melalui Saeful dan Donny. Menaiki sepeda motor bersama Nurhasan, Harun menuju kompleks Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Hasto diduga sudah berada di sana. Tim penindakan KPK lainnya pun telah memantau posisi Hasto, yang diduga berada di sekitar tempat tinggal seorang petinggi intelijen. Di kompleks PTIK, tim KPK gagal menangkap Harun dan Hasto. Lima anggota satuan tugas penindakan yang membuntuti Harun ditahan sejumlah polisi. Mereka diminta memberitahukan password ponsel, bahkan sempat menjalani tes urine. Mengetahui rekan-rekannya disekap polisi, tim yang mengejar Hasto memberi tahu Direktur Penyidikan KPK Brigadir Jenderal R.Z. Panca Putra Simanjuntak. Tapi, baru tujuh jam kemudian atau sekitar pukul 03.30, Panca menjemput anak buahnya. Sementara itu, KPK membenarkan bahwa penyidiknya sempat ada di PTIK. Tapi, tidak menjelaskan bahwa di sana untuk menangkan Hasto. Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri menjelaskan, penyelidik yang berada di PTIK pada Rabu kemarin hanya mau menumpang salat. Tapi, dia tidak menjelaskan alasan penyelidik menunaikan salat di PTIK. “Di situ, tim KPK ditahan sampai pagi. Dites urine dan sebagainya,” kata Ali. Sementara itu, saat dikonfirmasi kebenarannya pada Rabu, 8 Januari lalu, Hasto mengaku tengah sibuk mempersiapkan Rakernas PDIP. “Saya sejak kemarin mempersiapkan seluruh penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional ini. Karena kami berkeinginan bahwa partai tidak hanya berbicara tentang kekuasaan, tapi sebagaimana disampaikan Ibu Mega, partai berbicara tentang sebuah kebijakan melalui peraturan perundang-undangan, yang didorong oleh partai, khususnya untuk membangun jalan kemakmuran itu,” kata Hasto di sela menghadiri acara Rakernas PDIP, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (10/1). Hasto juga mengatakan tidak mengetahui keberadaan dua stafnya yang ditangkap KPK. Hasto mengatakan saat itu ia sedang sakit diare. “Saya tidak mengetahui karena sakit diare tadi, sehingga dalam konteks seperti ini kami fokus dalam persiapan HUT ke-47 dan rakernas yang pertama,” kata Hasto. PDIP melalui Sekretaris Fraksi PDIP DPR, Andreas Hugo Pareira keberatan dengan cerita Sekjen Hasto Kristiyanto yang berada di PTIK saat malam penangkapan eks pimpinan KPU Wahyu Setiawan dalam kasus suap pengurusan PAW anggota DPR. PDIP tegaskan, ada pihak sengaja ingin sudutkan PDIP. “Dalam konteks saat ini, PDI Perjuangan adalah korban dari framing politik tersebut,” jelas Andreas kepada wartawan, Selasa (14/1).

Hasto Krisyanto Sekjend PDIP masih ngotot tak bersalah (dok, RMOL)

Kronologi Suap

Kasus ini bermula ketika almarhum Nazarudin Kiemas di Dapil Sumsel I menang sebagai anggota DPR. Karena sudah meninggal, suara kedua terbanyak yakni Riezky Aprilia yang dilantik jadi anggota legislatif oleh KPU. Nah, dari sini ‘mengakali’ proses demokrasi hendak dilakukan Wahyu dan Harun. Untuk membantu penetapan Harun sebagai anggota DPR RI pengganti antarwaktu, Wahyu meminta dana operasional Rp900 juta. Untuk merealisasikan hal tersebut, dilakukan dua kali proses pemberian, yaitu pertengahan Desember 2019. Salah satu sumber dana yang sedang didalami KPK, memberikan uang Rp400 juta yang ditujukan pada Wahyu melalui Agustiani, Doni dan Saeful. Wahyu menerima uang dari dari Agustina sebesar Rp200 juta di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Pada akhir Desember 2019, Harun memberikan uang pada Saeful sebesar Rp850 juta melalui salah seorang staf di DPP PDIP. Saeful memberikan uang Rp150 juta pada Doni. Sisanya Rp700 juta yang masih di Saeful dibagi menjadi Rp450 juta pada Agustiani, Rp250 juta untuk operasional. Dari Rp450 juta yang diterima Agustiani itu, sebanyak Rp400 juta merupakan suap yang ditujukan untuk Wahyu, Komisioner KPU. Uang masih disimpan oleh Agustiani. Pada Rabu, 8 Januari 2020, Wahyu meminta sebagian uangnya yang dikelola oleh Agustiani. Kemudian tim KPK melakukan OTT. Tim menemukan dan mengamankan barang bukti uang Rp400 juta yang berada di tangan Agustina dalam bentuk Dolar Singapura.
Sumber: merdeka.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 86 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 122
  • Page views today : 145
  • Total visitors : 553,564
  • Total page view: 1,140,005